Jalan Wolter Monginsidi, Tenggarong. Senin, 15.45 sore.
Kursus desain grafis Reza diadakan di warnet Pak Hendra — bukan warnet Pak Hendra yang di dekat pasar, tapi warnet Pak Hendra yang di Jalan Wolter Monginsidi, yang tempatnya lebih bersih, koneksinya lebih stabil, dan harganya dua ribu lebih mahal per jam yang Reza anggap worth it karena layarnya tidak berkedip.
Dia tahu alamat ini persis karena gurunya mengirimkan lokasi lewat grup WhatsApp kelas, dan Reza menyimpannya dengan teliti di catatan hp-nya bersama jadwal kelas, daftar software yang perlu dipelajari, dan satu catatan kecil di baris paling bawah yang tidak ada hubungannya dengan desain grafis: Zahra bilang kursus baristanya di daerah Wolter Monginsidi.
Catatan itu sudah ada di sana sejak tiga hari lalu. Sejak dia tidak sengaja mendengar Zahra bicara dengan Nek Ani soal lokasi kursus barista yang akan didaftarkannya.
Dia tidak sengaja mendengar.
Sungguh.
********
Tempat kursus Pak Hendra tutup pukul lima. Kelas Reza selesai pukul setengah lima, dengan tambahan waktu bertanya yang kadang memanjang sampai empat puluh menit. Hari pertama ini Reza keluar dari tempat kursus pukul lima kurang delapan menit, tas di punggung, hp di tangan, dan kepala yang masih setengah penuh dengan lapisan-lapisan dalam software yang belum sepenuhnya dia mengerti.
Dia berdiri di depan tempat kursus, melihat ke kiri dan ke kanan dengan cara yang — kalau diamati oleh seseorang yang sudah hafal polanya — terlihat seperti orang yang mencari sesuatu tapi tidak mau terlihat sedang mencari sesuatu.
Di kanan: minimarket. Tukang gorengan. Salon yang jendelanya masih ramai. Tidak ada yang dia cari.
Di kiri: kedai kopi kecil. Spanduk putih dengan tulisan Kopi Banua — Belajar Barista dari Nol. Pintunya terbuka. Di dalam, terlihat meja panjang dengan beberapa alat kopi yang berkilap dan seorang instruktur yang sedang menjelaskan sesuatu kepada tiga orang yang duduk berjejer.
Salah satu dari tiga orang itu memakai jilbab biru muda.
Reza mematung di trotoar selama tiga detik.
Kemudian berjalan ke arah minimarket. Membeli air mineral. Keluar. Berdiri di luar minimarket dengan air mineral yang dibuka tapi tidak diminum, memandangi Jalan Wolter Monginsidi dengan ekspresi seseorang yang sangat menikmati pemandangan jalan raya biasa di sore hari.
********
Zahra keluar dari Kopi Banua pukul lima lewat dua belas.
Dia membawa catatan di tangan kiri dan sebuah paper cup kopi di tangan kanan — hasil praktik hari pertama yang kata instrukturnya lumayan untuk pemula, tapi takaran espresso-nya masih terlalu tipis. Zahra tidak terlalu tersinggung karena memang ini hari pertama dan memang espresso-nya terlalu tipis.
Dia berdiri di depan kedai, membuka catatannya, membaca sesuatu, mengangguk sendiri.
Kemudian mengangkat mukanya dan melihat seseorang berdiri di depan minimarket seberang jalan dengan air mineral di tangan yang tidak diminum-minum.
"Reza?"
Reza berbalik. Ekspresi terkejut yang — secara teknis — membutuhkan terlalu banyak usaha untuk terlihat benar-benar terkejut. "Oh. Zahra. Kamu di sini?"
"Kursus." Zahra menunjuk ke kedai di belakangnya. "Kamu?"
"Kursus juga." Reza menunjuk ke warnet di seberang. "Di sana."
Zahra menatap warnet. Menatap Reza. Menatap air mineral yang masih penuh. "Sudah lama di sini?"
"Baru keluar."
"Dari tadi berdiri di sini?"
"Beli air."
"Air mineralnya masih penuh."
"Belum haus."