ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #12

BAB 12: 1 PESAN WHATSAPP, DAN KEBERANIAN SETELAH 72 EPISODE DRACIN

Pesan itu dikirim Minggu pagi, pukul enam lewat tujuh belas menit.

Ini detail yang penting karena pukul enam lewat tujuh belas menit adalah waktu di antara Subuh dan Duha — waktu yang di rumah Ka'ai Bahar biasanya diisi dengan membaca Al-Quran di kursi kayu jati, bukan dengan mengetik pesan WhatsApp kepada seseorang yang belum pernah diajak bicara secara personal selama enam tahun bertetangga.

Tapi Minggu pagi itu Ka'ai Bahar tidak membaca Al-Quran dulu. Dia duduk di kursi kayu jatinya dengan hp di tangan, layar menyala, dan jempolnya bergerak dengan kecepatan seseorang yang pertama kali belajar mengetik di usia di mana mengetik cepat bukan lagi prioritas hidup.

Pesan yang diketiknya:

Assalamualaikum. Ini Aji Baharuddin. Ibu Ani ada rencana ke Museum Mulawarman minggu ini?

Dia membaca ulang kalimat itu tiga kali. Menghapus kata minggu ini dan menggantinya dengan pekan ini karena terdengar lebih formal. Membaca lagi. Mengembalikan minggu ini karena pekan ini terdengar terlalu kaku bahkan untuk standarnya.

Kemudian, sebelum jempolnya sempat berpikir lebih jauh, dia menekan kirim.

Hp diletakkan menghadap ke bawah di atas meja.

Ka'ai Bahar mengambil Al-Quran-nya. Mencoba membaca. Berhasil sampai tiga ayat sebelum matanya kembali ke hp yang masih menghadap ke bawah.

Dia tidak membaliknya.

Hp bergetar.

Dia membaliknya.

Wa'alaikumsalam. Iya, Insya Allah bisa Selasa pagi. Jam 10?

Ka'ai Bahar membaca pesan itu dua kali. Kemudian mengetik: Baik. Insya Allah saya juga ke sana. Kirim. Hp diletakkan kembali menghadap ke bawah.

Di luar jendela, Tenggarong baru mulai terbangun. Suara azan Subuh dari masjid sebelah sudah selesai. Burung-burung di pohon depan rumah mulai ribut.

Ka'ai Bahar kembali ke Al-Quran-nya. Kali ini berhasil sampai satu halaman penuh sebelum menyadari bahwa dia tersenyum — senyum yang tidak dia izinkan ada di wajahnya, tapi yang rupanya memutuskan untuk hadir tanpa izin.

Beliau menutup Al-Quran. Melihat ke langit-langit.

"Astaghfirullah," gumamnya pelan. Tapi nada astaghfirullah-nya tidak terdengar seperti tobat. Lebih terdengar seperti seseorang yang tidak bisa sepenuhnya menyesali apa yang baru dia lakukan.

********

Museum Mulawarman, Tenggarong. Selasa, 10.00 pagi.

Ka'ai Bahar tiba pukul sembilan empat puluh lima. Lima belas menit lebih awal. Ini bukan karena dia gugup — ini karena Ka'ai Bahar memang selalu datang lebih awal ke semua tempat, sebuah prinsip hidup yang sudah dia pegang sejak muda dan yang tidak akan dia ubah hanya karena hari ini situasinya sedikit berbeda dari biasanya.

Dia membeli tiket masuk, berjalan ke ruang utama yang berisi koleksi peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, dan berdiri di depan singgasana Sultan yang sudah menjadi koleksi paling terkenal di museum ini.

Singgasana itu besar, berukir halus, dilapisi emas yang meski sudah berabad-abad tetap terlihat berwibawa. Ka'ai Bahar menatapnya dengan ekspresi yang — kalau ada orang yang mengenalnya dan melihatnya saat itu — akan membaca sebagai ekspresi seseorang yang sedang sangat serius mempelajari sejarah.

Yang sedang terjadi sebenarnya: dia sedang menghitung detik sambil berpura-pura mempelajari sejarah.

Pukul sepuluh lewat dua menit, langkah kaki masuk dari arah pintu utama.

Ka'ai Bahar tidak berbalik. Tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang bekerja sedikit lebih keras dari biasanya.

"Assalamualaikum, Pak Aji."

Suara itu sama dengan suara yang sudah enam tahun dia dengar di pengajian, di acara RT, di halaman masjid. Tapi di sini, di ruangan museum yang sepi dan beraroma kayu tua, suara itu terdengar berbeda. Lebih dekat. Lebih nyata.

Ka'ai Bahar berbalik dengan gerakan yang sudah dia latih agar terlihat biasa — tidak terlalu cepat sehingga terkesan menunggu, tidak terlalu lambat sehingga terkesan tidak peduli.

"Wa'alaikumsalam. Ibu Ani."

Nek Ani berdiri di depannya dengan jilbab cokelat muda, tas di bahu, dan tasbih — tentu saja tasbih — di tangan kiri. Ekspresinya tenang. Tasbihnya berputar pelan.

"Bapak sudah lama?" tanyanya.

"Baru." Ka'ai Bahar menoleh kembali ke singgasana. "Melihat-lihat dulu."

"Saya juga." Nek Ani berdiri di sebelahnya, memandang singgasana yang sama.

Mereka berdua berdiri di depan singgasana Sultan Kutai Kartanegara dalam diam selama beberapa detik — dua orang tua yang sudah enam tahun bertetangga, yang sudah ratusan kali saling melihat di acara RT dan pengajian, yang sudah saling menjelek-jelekkan suku satu sama lain di depan keluarga masing-masing — berdiri berdampingan untuk pertama kalinya tanpa ada orang lain di antara mereka.

"Besar sekali singgasananya," kata Nek Ani akhirnya.

"Memang. Ini singgasana Sultan. Ukurannya memang bukan untuk sembarang orang."

"Pak Aji pernah naik?"

Ka'ai Bahar menatapnya. "Naik singgasana Sultan?"

"Ya."

"Tidak. Ini koleksi museum. Tidak boleh naik."

"Saya tahu tidak boleh." Nek Ani meliriknya dari sudut mata. "Saya tanya pernah atau tidak."

Lihat selengkapnya