ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #13

BAB 13 — COTO MAKASSAR, LIMA BELAS TAHUN, DAN BENCANA YANG BERNAMA IBU ROS

Warung Coto Makassar Daeng Mattola, Jalan Belida, Tenggarong. Selasa, 12.30 siang.


Warung Coto Makassar Daeng Mattola sudah berdiri di Jalan Belida selama dua puluh tahun lebih. Tempatnya sederhana — meja kayu panjang, kursi plastik, kipas angin di sudut yang berputar dengan ritme yang sudah tidak konsisten tapi masih berjasa. Tapi kuahnya — kuah coto yang kental dengan bumbu rempah yang sudah diracik selama dua dekade — adalah jenis kuah yang membuat orang menutup mata satu detik saat suapan pertama masuk.

Daeng Mattola, pemiliknya, adalah lelaki Bugis asal Bone yang sudah tiga puluh tahun di Tenggarong dan yang sudah lama berhenti merasa seperti pendatang. Di dadanya ada tato nama istrinya yang sudah memudar, di tangannya ada sendok sayur yang seperti tumbuh permanen, dan di kepalanya ada daftar nama pelanggan tetap yang tidak perlu ditulis karena sudah hafal beserta pesanannya masing-masing.

Satu nama ada di urutan paling atas daftar itu.

"Pak Aji!"

Daeng Mattola melihat dari balik meja masaknya ketika Ka'ai Bahar masuk, dan langsung berbicara dengan nada orang yang menyambut keluarga yang baru pulang dari perjalanan jauh. "Biasa, Pak Aji? Coto sapi, jeroan dibuang, tambah ketupat dua?"

Ka'ai Bahar duduk di meja tengah — meja yang sudah menjadi meja tidak resminya selama lima belas tahun — dan mengangguk. "Biasa."

"Siap, Pak Aji." Daeng Mattola sudah mulai menyendok sebelum kalimatnya selesai. Kemudian melihat ke arah pintu karena Ka'ai Bahar datang tidak sendirian. "Oh, ada tamu spesial hari ini?"

Ka'ai Bahar tidak sempat menjawab karena Nek Ani sudah masuk dan berdiri di dekat pintu, memandangi suasana warung dengan ekspresi seseorang yang sedang memproses beberapa hal sekaligus.

Hal pertama yang diproses: warung ini bersih dan tempatnya nyaman meski sederhana.

Hal kedua: bau kuahnya luar biasa.

Hal ketiga, dan ini yang paling perlu diproses: Daeng Mattola memanggil Ka'ai Bahar dengan cara orang memanggil pelanggan yang sudah seperti inventaris warung. Dan pesanannya sudah dihafal tanpa perlu tanya.

"Lima belas tahun," kata Nek Ani pelan, duduk di seberang Ka'ai Bahar.

"Lima belas tahun," konfirmasi Ka'ai Bahar dengan nada biasa.

"Tiga kali seminggu," kata Daeng Mattola dari balik meja masak, dengan nada orang yang bangga dengan angka ini. "Kadang empat kali kalau lagi kangen. Pak Aji itu pelanggan paling setia saya, Bu. Dua puluh tahun saya buka warung, belum ada yang ngalahin Pak Aji."

"Terima kasih, Daeng," kata Ka'ai Bahar dengan nada yang mengandung sedikit isyarat supaya Daeng Mattola cukup di situ.

Daeng Mattola tidak menangkap isyaratnya karena sedang sibuk dengan kuah. "Ibu mau pesan apa? Coto sapi juga? Atau mau tambah paru goreng? Paru goreng saya hari ini bagus, Bu, baru dari pasar pagi—"

"Coto sapi saja. Terima kasih, Daeng."

"Siap!"

*********

Pesanan datang dalam waktu yang sangat singkat karena Ka'ai Bahar punya jalur prioritas tidak resmi di warung ini. Dua mangkuk coto mengepul di meja, dua piring ketupat di sampingnya, dan segelas teh tawar dingin yang langsung diletakkan Daeng Mattola di depan Ka'ai Bahar tanpa ditanya karena sudah hafal.

Nek Ani memegang sendoknya. Melihat ke mangkuk. Melihat ke Ka'ai Bahar yang sudah mulai makan dengan ekspresi seseorang yang sedang berada di habitat paling nyamannya.

"Pak Aji," katanya.

"Iya." Ka'ai Bahar tidak mengangkat mata dari mangkuknya.

"Ini masakan Bugis."

Ka'ai Bahar mengangkat mukanya.

"Coto Makassar," lanjut Nek Ani, dengan nada yang sangat santai dan tidak menuduh, hanya mengamati. "Dari Makassar. Sulawesi Selatan. Tanah Bugis."

Ka'ai Bahar meletakkan sendoknya. Mengambil tisu. Membersihkan sudut mulutnya. Kemudian berkata dengan nada yang sangat terstruktur, nada seseorang yang rupanya sudah pernah memikirkan pertanyaan ini sebelumnya dan sudah punya jawabannya:

"Coto Makassar itu sudah jadi makanan Nusantara."

Nek Ani menunggu kelanjutannya.

"Sudah ada di mana-mana. Sudah tidak eksklusif milik satu suku. Kalau sudah jadi milik Nusantara, tidak bisa lagi disebut makanan suku tertentu." Ka'ai Bahar mengambil sendoknya kembali. "Seperti rendang. Rendang itu Minang, tapi sekarang semua orang makan rendang. Sudah jadi makanan Indonesia."

Nek Ani mengangguk pelan. "Jadi Pak Aji makan coto karena sudah jadi makanan Indonesia, bukan karena makanan Bugis."

"Tepat."

"Tapi Pak Aji langganan di warung milik orang Bugis."

"Daeng Mattola orang Bone. Bone itu Bugis." Ka'ai Bahar menyesap kuahnya. "Tapi masakannya sudah Nusantara."

"Pak Aji ke sini tiga kali seminggu."

"Kadang empat," koreksi Daeng Mattola dari balik meja masak, tanpa diminta.

Ka'ai Bahar menoleh ke arah Daeng Mattola dengan tatapan yang secara diplomatis menyampaikan bahwa kontribusi informasi ini tidak diperlukan saat ini.

Daeng Mattola tersenyum lebar dan kembali mengaduk kuahnya.

Nek Ani menahan sesuatu di sudut bibirnya. "Lima belas tahun, tiga sampai empat kali seminggu. Kalau dihitung, Pak Aji sudah makan di sini sekitar dua ribu kali lebih."

Ka'ai Bahar tidak menjawab karena sedang mengunyah.

"Dan selama itu juga," lanjut Nek Ani, masih dengan nada yang sama santainya, "Pak Aji di rumah bilang orang Bugis tidak bisa dipegang kata-katanya, tidak punya akar, sukanya pindah-pindah."

"Iya."

"Tapi Pak Aji sendiri — selama lima belas tahun — tidak pindah-pindah dari warung orang Bugis ini."

Warung Coto Makassar Daeng Mattola tiba-tiba terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya. Kipas angin di sudut berputar. Kuah mendidih pelan di kompor. Seorang pelanggan lain di meja ujung makan tanpa tahu bahwa di meja tengah sedang berlangsung sidang yang tidak pernah direncanakan oleh siapapun.

Ka'ai Bahar meletakkan sendoknya untuk kedua kalinya. Menatap mangkuknya. Menatap Nek Ani. Kembali ke mangkuknya.

Kemudian berkata, dengan nada yang membutuhkan beberapa detik untuk ditemukan:

"Makanan itu berbeda dari orangnya."

Nek Ani menunggu.

"Makanan tidak bisa bicara. Makanan tidak bisa berdebat. Makanan tidak mengklaim tanah siapa-siapa." Ka'ai Bahar mengangkat mangkuknya sedikit, seperti orang yang sedang memberikan penghormatan tanpa sadar. "Makanan hanya duduk di mangkuk dan melakukan tugasnya dengan sempurna. Tanpa drama. Tanpa gengsi. Tanpa ribut soal suku." Beliau berhenti. "Saya menghormati yang melakukan tugasnya dengan baik tanpa banyak bicara."

Nek Ani menatapnya.

Ka'ai Bahar menatap balik.

Di balik meja masak, Daeng Mattola yang tadinya pura-pura tidak mendengarkan berhenti mengaduk kuah selama tiga detik.

"Jadi," kata Nek Ani pelan, "kalau orang Bugis juga duduk diam dan melakukan tugasnya dengan sempurna tanpa drama — Pak Aji juga akan menghormatinya?"

Ka'ai Bahar membuka mulut.

Menutupnya.

Membuka lagi.

"Itu..." katanya, "...secara teori, konsisten dengan argumen saya."

"Secara teori."

"Secara teori."

"Dan secara praktik?"

Lihat selengkapnya