Gang RT 07, depan Rumah Keluarga Bahar. Kamis, 10.00 pagi.
Pak Rustam berdiri di depan cermin kamar mandinya selama kurang lebih tujuh menit.
Ini bukan karena dia memeriksa penampilan — penampilannya sudah beres sejak dua puluh menit lalu, kemeja batik biru yang sudah disetrika dua kali, rambut yang sudah disisir tiga kali, dan sepatu yang sudah disemir meski tujuannya hanya ke rumah tetangga sebelah di gang yang sama.
Ini karena dia sedang berlatih.
"Assalamualaikum," katanya ke cermin. "Saya mau... eh, ini ada sedikit titipan dari... bukan titipan, ini..." Dia menggeleng. Mengulang. "Assalamualaikum, Mbok Nor. Kebetulan tadi beli sayuran lebih banyak dari yang diperlukan, jadi mau—" Dia berhenti. Menatap pantulan wajahnya sendiri. "Ini kedengarannya tidak masuk akal."
Dari luar pintu kamar mandi, suara Nek Ani: "Rustam! Kamu mau ke mana?"
"Sebentar, Ma!"
"Sudah setengah jam di kamar mandi!"
"Sebentar!"
Pak Rustam melihat ke cermin satu kali lagi. "Oke. Kamu bisa. Kamu sudah dagang amplang delapan tahun, kamu bisa bicara ke manusia. Ini cuma satu manusia." Dia mengambil napas. "Bismillah."
Dia keluar dari kamar mandi. Di ruang tengah, Nek Ani duduk dengan tasbih dan ekspresi seseorang yang sudah selesai sabar menunggu.
"Mau ke mana?" ulang Nek Ani.
"Sebentar, Ma. Ada keperluan sebentar."
"Keperluan apa? Kamu sudah pakai batik. Ke pasar pakai batik?"
"Bukan ke pasar."
Nek Ani menatap anaknya dari atas ke bawah. Dari batik ke sepatu yang mengkilap. "Rustam."
"Iya, Ma."
"Alis kirimu."
Pak Rustam menahan napas. "Ma, alis kiri saya tidak—"
"Naik."
Pak Rustam pergi ke dapur mengambil tas kresek besar yang sudah dia siapkan sejak tadi. Isinya: wortel empat biji, tahu satu papan, kacang panjang satu ikat, terong tiga buah, dan buncis yang dibeli tiga hari lalu yang ujungnya sudah mulai tidak segar. Semua sayuran sisa pembelian enam minggu di Pasar Mangkurawang yang tidak pernah benar-benar ada rencana memasaknya.
Nek Ani melihat tas kresek itu. "Kamu mau ngapain sama itu semua?"
"Diantarkan."
"Ke siapa?"
"Tetangga."
"Tetangga yang mana?"
"Tetangga yang mungkin butuh sayuran, Ma." Pak Rustam melangkah ke pintu. "Sebentar saja. Nanti Rustam cerita."
Dia membuka pintu dan melangkah keluar sebelum Nek Ani sempat bertanya lagi.
Di balik pintu yang sudah ditutup, dia mengambil napas panjang. Menatap jarak antara rumahnya dan rumah di sebelahnya — jarak yang secara fisik hanya tujuh langkah tapi yang hari ini terasa seperti tujuh ratus.
Bismillah.
********
Ketukan pertama tidak terlalu keras — ketukan orang yang masih punya opsi untuk berbalik kalau tidak ada yang menjawab.
Tidak ada jawaban.
Pak Rustam menunggu delapan detik. Mengetuk lagi, sedikit lebih keras.
Suara langkah dari dalam. Berat, tegak, dengan ritme yang sangat berbeda dari ritme langkah Mbok Nor yang biasanya lebih ringan.
Pintu terbuka.
Ka'ai Bahar berdiri di depannya dengan peci hitam, baju kaus putih lengan panjang, dan ekspresi seseorang yang sedang di tengah kegiatan penting yang baru saja diinterupsi. Di tangan kanannya ada hp yang layarnya masih menyala.
Keduanya saling menatap selama dua detik.
"Rustam?!" kata Ka'ai Bahar.
"Pak Aji," kata Pak Rustam.
Dua detik berikutnya juga dalam diam.
Pak Rustam melihat ke tas kresek di tangannya. Ka'ai Bahar melihat ke tas kresek yang sama. Keduanya melihat ke satu sama lain lagi.
"Ada keperluan apa?" tanya Ka'ai Bahar.