ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #15

BAB 15 — NASIHAT YANG SETENGAHNYA UNTUK DIRI SENDIRI

Rumah Keluarga Bahar, Dapur. Rabu, 20.00 malam.


Mbok Nor sedang menghitung uang hasil jualan kue hari ini di meja dapur ketika Ka'ai Bahar muncul dari kamarnya dengan hp di tangan dan ekspresi seseorang yang baru selesai memikirkan sesuatu dan memutuskan bahwa sesuatu itu perlu disampaikan malam ini.

Ini bukan ekspresi yang asing. Ka'ai Bahar punya beberapa ekspresi standar yang Mbok Nor sudah hafal sejak kecil: ekspresi akan-ceramah, ekspresi sudah-ceramah-tapi-mau-tambah-satu-poin, ekspresi sedang-ceramah-dalam-hati, dan ekspresi ini — ekspresi akan-menyampaikan-sesuatu-yang-menurutnya-penting.

"Nor."

"Iya, Pak." Mbok Nor tidak berhenti menghitung. Dua puluh tiga, dua puluh empat.

Ka'ai Bahar duduk di kursi plastik dapur — bukan kursi kayu jatinya, artinya ini percakapan informal, bukan sidang. "Pak Rustam kemarin ke sini."

"Iya, Pak." Dua puluh lima, dua puluh enam.

"Bawa sayuran."

"Buncisnya sudah saya buang ujungnya. Sisanya masih bagus."

"Saya bukan bicara soal sayurannya."

Mbok Nor meletakkan uangnya. Menatap Ka'ai Bahar.

"Saya tahu Pak Rustam ke sini bukan karena sayuran," kata Ka'ai Bahar. "Dia ke sini karena ada sesuatu yang mau disampaikannya." Beliau meletakkan hp di meja. "Dan saya sudah bicara sama dia."

"Bicara tentang apa, Pak?"

"Tentang niatnya." Ka'ai Bahar menegakkan duduknya. "Pak Rustam orang yang baik, Nor. Saya sudah amati selama enam tahun. Usahanya halal, cara hidupnya rapi, anaknya dia besarkan sendiri dengan baik. Tidak banyak laki-laki yang bisa melakukan itu."

Mbok Nor mendengarkan tanpa memotong.

"Dan saya pikir..." Ka'ai Bahar berhenti sebentar, memilih kata dengan hati-hati, "...dia serius. Bukan serius yang main-main."

"Pak dari mana tahu?"

"Karena laki-laki yang tidak serius tidak perlu bawa wortel, tahu, kacang panjang, terong, dan buncis layu ke rumah orang." Ka'ai Bahar mengangkat alis. "Itu bukan strategi. Itu ketulusan yang tidak tahu bentuknya sendiri."

Mbok Nor menunduk sebentar. Di dadanya ada sesuatu yang hangat tapi yang tidak akan dia keluarkan di sini, di depan bapaknya, dengan lampu dapur yang terlalu terang untuk perasaan yang sebesar itu.

"Nor tidak perlu buru-buru memutuskan sesuatu," lanjut Ka'ai Bahar. "Tapi juga jangan terlalu lama menunggu. Waktu tidak menunggu siapapun — termasuk orang yang merasa masih punya banyak waktu di depannya."

Mbok Nor mengangkat mukanya. Menatap Ka'ai Bahar dengan ekspresi yang sangat tenang. "Pak mengatakan itu ke saya, atau ke Bapak sendiri?"

Lihat selengkapnya