ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #16

BAB 16 — SUDUT PANDANG BARU, DAN KOLAK YANG BERBICARA

Pasar Mangkurawang, Tenggarong. Jumat, 07.45 pagi.


Zahra ke Pasar Mangkurawang pagi ini bukan karena kebutuhan yang mendesak.

Bawang merah masih ada setengah kantong. Cabe masih cukup untuk dua hari. Es batu bisa beli di warung depan. Tidak ada yang benar-benar habis, tidak ada yang benar-benar perlu dibeli pagi ini.

Tapi dia ke pasar juga.

Karena sejak beberapa minggu terakhir, pagi Jumat di Pasar Mangkurawang terasa seperti tempat di mana sesuatu selalu terjadi. Dan Zahra, yang buku sketsanya selama ini berisi bangunan dan tekstur kayu, belakangan mendapati tangannya menggambar hal lain: dua orang di lorong santan, satu siluet dengan kantong belanja terlalu banyak, satu momen yang tidak bisa ditangkap kamera tapi bisa ditangkap pensil kalau tangannya bergerak cukup cepat.

Dia masuk pukul tujuh empat puluh lima. Buku sketsa di tas, alasan yang samar, langkah yang santai.

*********

Dari lorong tepung, pandangan ke lorong santan cukup jelas.

Pukul tujuh lima puluh dua, Mbok Nor masuk dari pintu utama. Zahra memperhatikannya dengan cara yang berbeda dari biasanya — bukan cara melihat tetangga, tapi cara melihat seseorang yang mulai dia pahami lebih dalam.

Mbok Nor berjalan dengan langkah yang tegak dan efisien. Tidak memandang kanan-kiri lebih dari yang perlu. Dia tahu persis apa yang mau dibelinya — gerakan perempuan yang sudah lama terbiasa mengurus segalanya sendiri dan yang tidak membuang satu langkah pun.

Zahra mengambil buku sketsanya. Menggambar cepat — siluet, bukan wajah. Seseorang dengan kantong belanja di tangan kiri, bahu sedikit miring karena beratnya.

Pukul delapan lewat tiga menit, dari lorong bawang, muncul kemeja biru dan rambut rapi.

Zahra menghentikan tangannya.

Pak Rustam berjalan ke lorong santan. Berhenti. Memindai lorong. Melihat Mbok Nor di ujung. Dan melakukan sesuatu yang Zahra belum pernah lihat sebelumnya dari jarak ini:

Senyum kecil yang muncul sebelum sempat diputuskan. Senyum yang keluar karena mata melihat sesuatu dan hati merespons sebelum pikiran sempat ikut campur.

Kemudian dia berjalan ke lorong santan.

Zahra tidak mendengar percakapan mereka. Tapi dia melihat: cara Mbok Nor tidak langsung berbalik — membiarkan dua detik berlalu sebelum menghadap Pak Rustam dengan ekspresi yang sudah disiapkan. Cara Pak Rustam berdiri di sebelah Mbok Nor dengan kantong belanja yang hari ini berisi sesuatu yang — dari jauh — kelihatan lebih masuk akal dari buncis layu.

Ada sesuatu yang berbeda dari minggu-minggu sebelumnya. Lebih dekat. Lebih nyaman. Lebih seperti dua orang yang sudah melewati sesuatu bersama.

Zahra menutup buku sketsanya.

Dia berdiri di lorong tepung dengan sesuatu di dadanya yang tidak sepenuhnya bisa dia namakan — campuran antara haru, lega, dan pengertian. Pengertian bahwa orang tua juga bisa jatuh cinta. Bahwa jatuh cinta di usia empat puluhan setelah kehilangan pasangan bukan hal yang memalukan. Bahwa Bapaknya — yang setiap Jumat datang dengan sesuatu yang tidak jelas peruntukannya — sedang berjuang dengan cara yang sangat Bapak-nya: canggung, tulus, tidak tahu cara lain selain hadir terus-menerus.

*********

Zahra membeli bawang merah yang sebenarnya masih ada setengah kantong di dapur. Keluar dari pasar.

Di bawah kanopi yang agak retak di tepinya, dia membuka buku sketsa ke halaman terakhir. Di bawah siluet perempuan dengan kantong belanja dan bahu yang miring, dia menuliskan dengan kecil:

yang kuat bukan yang tidak pernah lelah. yang kuat yang tetap jalan meski lelah.

Hp bergetar.

Lihat selengkapnya