ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #17

BAB 17 — SATU KONTAK, DAN OPERASI YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Rumah Keluarga Bahar, Ruang Tengah. Sabtu, 14.00 siang.


Ini terjadi karena hp Ka'ai Bahar jatuh.

Lebih spesifik: hp Ka'ai Bahar jatuh dari meja ketika beliau berdiri terlalu cepat karena mendengar suara dari luar yang ternyata hanya suara kucing tetangga yang menabrak pot bunga. Hp itu jatuh layar ke atas, terpental sedikit, dan berhenti tepat di depan kaki Reza yang kebetulan baru masuk dari pintu sambil membawa dua bungkus kresek belanjaan Mbok Nor dari warung.

Reza mengambil hp itu. Hendak meletakkannya kembali di meja.

Layarnya masih menyala.

Dan di layar yang menyala itu, terbuka sebuah percakapan WhatsApp — bukan karena Reza sengaja membukanya, bukan karena dia mengintip dengan niat, tapi karena layarnya menghadap ke atasnya dan matanya bekerja secara otomatis sebelum pikirannya sempat memberi instruksi untuk tidak membaca.

Nama di bagian atas percakapan: Ibu Ani 🌸

Reza membeku.

Bukan karena namanya. Tapi karena emoji bunga di belakang namanya. Ka'ai Bahar — yang selama ini menggunakan kontak dengan nama formal tanpa tambahan apapun, yang daftar kontaknya berisi Pak RT 07, Dokter Hendra, Bengkel Pak Amin, Toko Bangunan Samara — menyimpan satu nomor dengan nama Ibu Ani dan emoji bunga kecil berwarna pink.

Reza meletakkan hp di meja dengan hati-hati, layar ke bawah.

Kemudian berdiri tegak. Mengambil kresek belanjaan yang sempat dia letakkan. Berjalan ke dapur.

Di dapur, Mbok Nor sedang memarut kelapa. "Sudah balik?"

"Sudah, Ibu." Reza meletakkan kresek di meja dapur. "Ka'ai hp-nya jatuh tadi."

"Sudah diambil?"

"Sudah. Saya taruh di meja."

Mbok Nor mengangguk, meneruskan memarut.

Reza berdiri sebentar di pintu dapur. "Ibu."

"Apa?"

"Ka'ai Bahar itu... menyimpan kontak orang dengan emoji?"

Mbok Nor berhenti memarut. Menoleh ke Reza dengan ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya disebut terkejut. "Kontak siapa?"

"Ibu Ani."

Mbok Nor diam satu detik. Kemudian kembali memarut kelapa. "Iya."

"Iya kenapa?"

"Iya, Ibu tahu."

Reza menatap punggung ibunya. "Ibu tahu dari kapan?"

"Dari minggu lalu. Waktu tidak sengaja lihat hp Bapak di meja."

"Dan Ibu tidak bilang-bilang?"

"Bilang ke siapa?" Mbok Nor memarut dengan ritme yang tenang. "Itu urusan Bapak. Bukan urusan Ibu untuk dibicarakan."

Reza berdiri di pintu dapur selama beberapa detik, memproses informasi bahwa ibunya sudah tahu lebih dulu dan memilih untuk menyimpannya dengan tenang seperti menyimpan uang jualan dalam amplop kecil — tidak digembar-gemborkan, tidak dipermasalahkan, hanya disimpan di tempatnya.

"Ibu tidak khawatir?" tanya Reza.

"Khawatir apa?"

"Ya... Bapak kan sudah tua—"

"Enam puluh lima itu belum tua." Mbok Nor berhenti memarut dan menatap anaknya. "Kamu mau bilang apa, Reza?"

Lihat selengkapnya