ASMARADHANA - Asmara 3 Generasi

Eko Witjaksono
Chapter #18

BAB 18 — RAPAT RT, DAN 3 PEREMPUAN YANG TIDAK TIDUR SEMALAM

Balai Pertemuan RT 07. Sabtu, 19.30 malam.


Rapat RT bulanan adalah acara yang — di sebagian besar RT di Indonesia — berlangsung dengan cara yang sudah bisa diprediksi: Pak RT membuka dengan basa-basi lima menit, agenda dibahas dua puluh menit, sisanya adalah percakapan antarwarga yang tidak ada dalam agenda resmi tapi yang justru menjadi inti dari pertemuan itu.

RT 07 tidak berbeda. Kecuali malam ini, karena malam ini ada variabel baru yang tidak pernah masuk dalam agenda rapat manapun: tiga perempuan yang semalam tidak tidur cukup, yang datang satu jam lebih awal dari siapapun, dan yang punya misi yang tidak tertulis tapi yang sudah didiskusikan dengan sangat serius melalui grup WhatsApp tiga anggota sejak Jumat sore.

Nama grupnya: Panitia Tidak Resmi.

Ibu Lin yang buat nama grupnya. Ibu Ros keberatan karena menurutnya nama itu terlalu mengakui apa adanya. Ibu Yati setuju dengan nama itu karena menurutnya kejujuran adalah kebajikan. Ibu Ros tidak bisa membantah argumen itu tanpa terdengar tidak baik.

********

Mereka tiba di balai pertemuan pukul enam kurang seperempat. Balai pertemuan RT 07 adalah ruangan sederhana dengan dua puluh kursi plastik, satu meja panjang di depan untuk pengurus RT, dan satu kipas angin berdiri di sudut yang kalau dimatikan akan sangat panas dan kalau dinyalakan akan membuat suara Pak RT kadang tidak terdengar di barisan belakang.

Tidak ada yang datang selain mereka bertiga.

"Bagus," kata Ibu Ros. "Kita punya waktu."

"Waktu untuk apa?" tanya Pak RT yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang membawa rol kabel dan ekspresi seseorang yang mau pasang tambahan stop kontak.

"Untuk..." Ibu Ros melihat ke kursi-kursi yang masih belum diatur. "Untuk menata kursinya, Pak RT. Supaya rapinya."

"Oh, boleh." Pak RT meletakkan rol kabelnya. "Biasanya saya yang atur. Tapi kalau ibu-ibu mau bantu, silakan."

Dia masuk ke ruang belakang. Ibu Ros langsung berbalik ke Ibu Yati dan Ibu Lin. "Cepat."

********

Dalam dua puluh menit berikutnya, tiga perempuan menata dua puluh kursi plastik dengan pertimbangan yang tidak sederhana.

Ibu Ros memegang sketsa denah di balik kertas struk — struk belanjaan yang sama yang sudah jadi media catatannya sejak beberapa minggu lalu. Di sana ada lingkaran-lingkaran kecil yang mewakili kursi, dengan nama-nama yang ditulis di beberapa posisi strategis.

"Ka'ai Bahar di sini." Ibu Ros menunjuk posisi baris kedua, sisi kanan. "Nek Ani di sini." Sisi yang sama, dua kursi jaraknya. "Di antara mereka ada satu kursi kosong — supaya tidak terlalu mencolok tapi jaraknya cukup dekat untuk ngobrol."

"Kalau ada orang lain yang duduk di kursi kosong itu bagaimana?" tanya Ibu Yati.

"Kita yang duduk di sana dulu. Nanti kalau mereka sudah datang, kita pindah."

"Pindah ke mana?"

"Ke mana saja yang masuk akal."

Ibu Lin menata kursi dengan tenang. "Dan Pak Rustam?"

"Pak Rustam di sini." Ibu Ros menunjuk baris ketiga, agak ke tengah. "Mbok Nor di sebelahnya, tapi diberi jarak satu kursi — cukup dekat untuk situasi kondusif, tidak terlalu dekat sehingga mencolok."

"Reza dan Zahra?"

"Mereka muda. Mereka bisa duduk di mana saja. Tapi kalau bisa, sediakan posisi yang membuat mereka setidaknya dalam satu jangkauan pandang yang natural."

Ibu Lin meletakkan kursi terakhir. Mundur selangkah. Memandangi tatanan yang sudah jadi. "Ini terlihat seperti susunan rapat biasa."

"Memang harus terlihat seperti itu."

"Tapi sebenarnya adalah operasi perjodohan berbentuk rapat RT."

"Ibu Lin."

"Iya?"

"Tolong jangan menyebutnya operasi perjodohan."

"Lalu apa namanya?"

"Fasilitasi situasi kondusif yang sudah direstui Ustadz Hafiz secara tidak langsung melalui perumpamaan sayur lodeh."

Ibu Lin memikirkan itu sebentar. "Itu namanya terlalu panjang."

"Tapi lebih akurat."

"Operasi perjodohan lebih efisien."

Ibu Ros mengambil napas panjang yang sudah kehilangan hitungannya minggu ini. "Baik. Sebut apa yang kamu mau. Tapi jangan di depan Ustadz Hafiz."

*********

Warga mulai berdatangan pukul tujuh lewat beberapa menit. Satu per satu kursi terisi — tapi tidak selalu kursi yang dimaksud Ibu Ros dalam denahnya, karena warga RT 07 tidak punya kebiasaan menunggu arahan tempat duduk di rapat bulanan dan karena Ibu Darsih masuk lebih awal dari yang diperhitungkan dan langsung duduk di posisi yang seharusnya menjadi buffer zone antara Ka'ai Bahar dan Nek Ani.

"Ibu Darsih," bisik Ibu Ros ke Ibu Yati.

"Saya lihat."

"Dia duduk di—"

"Saya lihat."

Ibu Ros mendekati Ibu Darsih dengan senyum terbaiknya. "Bu Darsih, kursiku sudah diambil seseorang tapi dia minta ditukar ke sini. Boleh geser sedikit ke kiri?"

Lihat selengkapnya