Gang RT 07, depan rumah Reza. Sabtu, 16.00 sore.
Tiga titik itu muncul selama empat puluh detik.
Reza tahu karena dia menghitungnya — berdiri di depan gerbang rumahnya dengan es yang sudah benar-benar mencair di tangannya, matanya di layar hp, pikirannya di satu tempat yang sama selama empat puluh detik itu.
Kemudian tiga titiknya hilang.
Tidak ada pesan yang masuk.
Reza menunggu. Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Tidak ada apapun.
Dia masuk ke rumah, meletakkan es yang sudah jadi air di kulkas, duduk di lantai ruang tengah, dan menatap hp-nya selama dua belas menit ke depan dengan ekspresi seseorang yang baru menyadari bahwa dia mungkin baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali dan yang hasilnya belum jelas arahnya.
Di kursi kayu jatinya, Ka’ai Bahar menonton tv dengan volume yang cukup untuk mengisi ruangan tapi yang tidak cukup untuk menutupi keheningan yang ada di lantai di bawahnya.
“Reza.”
“Iya, Ka’ai.”
“Kenapa dari tadi menatap hp tapi tidak melakukan apapun?”
“Menunggu sesuatu.”
“Menunggu apa?”
“Pesan.”
“Dari siapa?”
Jeda. “Teman.”
Ka’ai Bahar menatap layar tv. “Kalau pesannya tidak datang, mungkin orangnya sedang memikirkan jawabannya.”
Reza mengangkat mukanya ke Ka’ai Bahar. “Ka’ai tahu soal itu?”
“Ka’ai sudah enam puluh lima tahun. Ka’ai tahu banyak hal.” Ka’ai Bahar menyesap tehnya. “Termasuk bahwa menunggu jawaban itu lebih berat dari menunggu yang lain. Karena yang kita tunggu bukan waktunya — tapi keputusan orang lain.”
Reza menatap kakeknya beberapa detik.
“Ka’ai pernah nunggu jawaban seperti itu?”
Ka’ai Bahar tidak langsung menjawab. Matanya ke tv, tapi pandangannya jelas tidak mengikuti apapun yang ada di sana. “Pernah. Masih.”
Reza tidak bertanya lagi. Dia kembali ke hp-nya.
Dan dua puluh menit kemudian, ketika dia sudah hampir memutuskan untuk menyimpan hp dan pergi mandi, pintu gerbang berbunyi — bukan notifikasi, tapi suara fisik pintu besi yang dibuka dari luar dengan cara seseorang yang sudah tahu cara membukanya.
Karena di gang ini, semua orang tahu cara membuka pintu gerbang semua tetangganya.
********
Zahra berdiri di depan pintu gerbang yang sudah terbuka, memegang buku sketsanya di dada, dengan ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya disebut tenang tapi yang sudah diusahakan setenang mungkin.
“Reza.”
Reza berdiri dari lantai terlalu cepat sehingga lututnya hampir tidak mengikuti. “Zahra.”
Di kursi kayu jatinya, Ka’ai Bahar tidak menoleh ke arah pintu. Tapi volume tv-nya turun satu notch — gerakan yang sangat kecil dan yang mungkin tidak disengaja, atau mungkin sangat disengaja.
“Boleh ngobrol sebentar?” tanya Zahra.