Tepian Mahakam, Tenggarong. Sabtu, 17.15 sore.
Ka'ai Bahar tiba di Tepian Mahakam pukul lima lebih sepuluh — lebih awal dari yang dia rencanakan karena ojol yang dia pesan tiba lebih cepat dari estimasi dan karena dia sudah siap sejak pukul empat tapi baru berani keluar rumah setelah pukul lima kurang dengan alasan yang tidak dia ucapkan kepada siapapun.
Dia duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke Sungai Mahakam. Sore Sabtu di Tepian Mahakam selalu ramai — ada keluarga dengan anak-anak yang berlarian, ada pemuda yang duduk mengobrol, ada pedagang es dan jajanan yang berjejer di sepanjang tepian. Langitnya mulai berubah — oranye tipis di atas garis air, biru yang makin gelap ke atas, dan Mahakam yang memantulkan semuanya dengan cara yang selalu terlihat lebih besar dari sungai biasa.
Ka'ai Bahar duduk tegak. Peci hitamnya sempurna. Baju koko putih yang baru disetrika pagi tadi.
Ini bukan pakaian biasa untuk duduk di tepian sore hari.
Tapi beliau memakainya juga.
********
Nek Ani tiba pukul lima lewat dua puluh. Ojol menurunkannya di ujung jalan masuk Tepian dan dia berjalan masuk dengan langkah yang — kalau ada yang memperhatikan — sedikit lebih cepat dari langkah biasanya.
Tasbih di tangan kiri. Tas di bahu kanan. Jilbab ungu muda yang sama dengan yang dipakai di syukuran Pak Doni.
Ka'ai Bahar melihatnya datang dari jarak dua puluh meter. Tidak berdiri — karena berdiri terlalu awal akan terlihat terlalu bersemangat. Tapi tangannya yang tadi terlipat di atas lutut bergerak sedikit, memperbaiki posisi yang tidak perlu diperbaiki.
"Pak Aji sudah lama?" tanya Nek Ani ketika sudah cukup dekat.
"Baru." Ka'ai Bahar menunjuk bangku di sebelahnya. "Silakan."
Nek Ani duduk. Memandang Mahakam yang membentang di depan mereka. "Indah."
"Setiap sore begini. Pak Aji sering ke sini dulu waktu masih muda."
"Masih muda artinya berapa tahun yang lalu?"
"Lama." Ka'ai Bahar melihat ke sungai. "Waktu masih sering kemari, belum ada bangku sebaik ini. Dulu hanya duduk di batu-batu di pinggir."
"Tapi tetap kemari."
"Mahakam itu tidak perlu bangku untuk dinikmati."
Nek Ani mengangguk. Tasbihnya berputar pelan — ritme yang sudah jadi ritme napasnya. "Di Bone dulu juga ada sungai. Tapi tidak sebesar ini."
"Ibu Ani sering ke sungai di sana?"
"Waktu kecil. Nenek yang ajak." Nek Ani melihat ke air yang bergerak. "Nenek bilang, sungai itu mengajarkan satu hal yang tidak diajarkan buku manapun."
"Apa?"
"Bahwa sesuatu yang terus bergerak maju tidak pernah bisa ditahan. Dan sesuatu yang diam terlalu lama akan mengendap." Nek Ani berhenti sebentar. "Jadi manusia harus pilih mau seperti yang mana."
Ka'ai Bahar menatap Mahakam yang mengalir pelan di depan mereka. "Nenek Ibu Ani bijak."
"Semua nenek bijak. Itu syarat jadi nenek."
Ka'ai Bahar hampir tersenyum. Hampir — tapi yang keluar hanya sesuatu di sudut matanya yang terlihat berbeda dari biasanya.
*********
Mereka duduk berdampingan selama hampir setengah jam, berbicara dengan tempo yang tidak terburu-buru — tentang Mahakam, tentang Bone, tentang Tenggarong yang berubah dan yang tidak berubah, tentang hal-hal yang kecil yang ternyata menyimpan banyak hal di baliknya kalau dibicarakan oleh orang yang tepat.
Ka'ai Bahar bercerita tentang Erau — festival yang sudah dia ceritakan di Museum Mulawarman, tapi kali ini dengan detail yang berbeda, detail yang lebih personal, tentang malam sebelum prosesi pertama kali ketika dia tidak bisa tidur karena terlalu khawatir ada yang terlewat.
Nek Ani mendengarkan. Bertanya di tempat yang tepat. Tertawa pelan di tempat yang lucu.
Dan Ka'ai Bahar — yang tidak biasa bercerita tentang diri sendiri, yang lebih terbiasa ceramah daripada bercerita — mendapati dirinya berbicara lebih banyak dari yang direncanakan, dan merasa tidak keberatan dengan itu.
*********
Yang tidak direncanakan keduanya: Tepian Mahakam Sabtu sore adalah tempat yang populer.
Sangat populer.
Termasuk untuk warga RT 07.
Pak Doni dan istrinya muncul pukul setengah enam dari arah parkiran — jalan-jalan sore sambil dorong stroller bayinya yang baru berumur tiga bulan. Mereka tidak langsung melihat Ka'ai Bahar dan Nek Ani karena perhatian mereka ke bayi. Tapi ketika Pak Doni akhirnya mendongak dan melihat dua warga RT-nya duduk berdampingan di bangku tepian, dia tersenyum dan melambaikan tangan dengan ramah.
Ka'ai Bahar membalas lambaian. Nek Ani membalas lambaian.
Pak Doni dan istrinya meneruskan jalan.