Pohon tinggi menjulang ditengah hutan. Daun-daun hijau tampak sejuk. Dan panas matahari mulai menampar. Ia tinggi dan jangkung berdiri tegak dicabang ranting besar. Usianya masih sangat muda, kira-kira enam belas tahun. Ia mengamati dan mewaspadai jalanan hutan. Pedagang atau saudagar akan melewati jalanan ini. Perkiraannya memang tak pernah salah. Angin menjadi sahabat yang memberinya kabar. Gemersak daun berguguran memang bagaikan kabar burung yang menyakinkan. Instingnya membaca alam dan pergerakkan memang tak diragukan.
“Rop,” katanya sengit. Seorang lelaki tinggi tinggi jangkung berdiri di salah satu ranting tak jauhnya. “Apa mereka sudah kelihatan?”
Rop tak berpaling padanya dan mengedikkan bahu. “Mereka belum terlihat,” kata Rop mendengus tajam. Udara pagi begitu menyejukkan menerpa dahan dan ranting.
“Sepertinya mereka memilih jalan lain,” sahut salah temannya lagi. Dia tinggi, agak sedikit gempal berdiri disamping Rop. “Mereka pasti tahu, bahwa mereka akan kita hadang.”
Rop berpaling menatapnya. Ia menyeringai sengit. “Mereka tidak tahu mengenai titik sasaran kita,” kata Rop sengit. “Kita melakukan operasi selalu berpindah. Dan tak akan mudah mengendus jalan operasi kita.”
Kedua temannya mengangguk. Salah satunya mengangkat bahu. “Instingmu memang tak pernah salah,” katanya mendengus. “Tetapi adakala alam tak akan berpihak kita lagi.”
“Prediksi Rop, tak mungkin salah Bal,” balas temannya disamping Rop. “Insting Rop tak akan salah walaupun ia sakit.”
Bal tertawa. “Kau memang tak pernah berubah, Lin,” kata Bal menyeringai. “Kau selalu percaya akan insting Rop yang tak pernah mengecewakan.” Dia mengangkat lengan dan bertepuk tangan.
Lin berpaling menatap Bal sengit. “Aku memang bukan pemburu yang handal,” kata Lin mendengus. “Tetapi Rop memang memiliki insting pemburu yang tangkas dan mumpuni. Ia dapat memprediksi kedatangan orang dari bau, udara, tanah dan angin.”
“Semua orang bisa melakukannya,” kata Bal sengit. “Tetapi Rop memiliki insting pemburu murni yang tak semua bisa melakukannya.” Dia meledakkan tawa kecil.
Rop mengedikkan bahu. “Kalian berhenti berdebat,” kata Rop sengit. “Aku merasakan kedatangan orang mulai menelusuri jalanan ini.”
Bal dan Lin menganggukkan kepala. Mereka tersenyum sengit.
“Ini yang kita tunggu,” kata Lin mendengus parau. “Aku yakin mereka saudagar kaya raya.”
“Kita akan untung banyak,” kata Bal tersenyum. “Dengan begini kita bisa istirahat beberapa minggu lagi sebelum melakukan operasi.”
“Tujuan kita merampok bukan untuk kita sendiri,” kata Rop dingin. “Tetapi kita ingin menyelamatkan warga kampung dari kelaparan dan kemiskinan.”
“Aku tahu itu Rop,” kata Bal tersenyum sengit. “Semenjak tanah kita dijajah bangsa Asura dari seberang, kehidupan warga desa menjadi terancam. Korupsi tinggi di kerajaan Jawa Dipa dan kenaikan pajak tinggi yang harus ditanggung rakyat menjadi beban yang harus diterima.”
Rop mengedikkan bahu. “Kemiskinan menjerat rakyat,” kata Rop sengit. “Hasil rakyat menjadi tahta bangsa Asura. Bila mungkin kita bisa menjadi jalan untuk mengangkat Jawa Dipa dari rongrongan bangsa Asura.”
Bal tersenyum. “Negara bukan tanggung jawab kita,” renggut Bal sengit. “Kita hanya rakyat miskin yang berjuang untuk menyelamatkan warga desa. Bisa makan hari ini sudah cukup untuk menahan lapar.”
“Manggala,” kata Lin tajam. “Posisi yang bisa menyelamatkan Jawa Dipa dari korupsi dan mengusir bangsa Asura dari Jawa Dipa.”
Rop bergidik tanpa berpaling menatap Lin. “Manggala,” ulang Rop sengit. Ia menelan ludah. “Kita tak mungkin bisa naik ke pangkat itu. Rakyat miskin seperti kita bagaimana bisa menjadi pejabat kerajaan.”
“Memang kemiskinan adalah harga diri yang paling dihina,” kata Bal sengit. “Tetapi menjerat leher rakyat untuk kantong pribadi itu adalah perilaku paling hina. Korupsi dan menaikkan pajak tinggi demi kantong pribadi merupakan perilaku nista yang tak mengenal dosa.”
“Jangan terlalu berpolitik bicara,” Rop berguman dingin sedingin es. “Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu warga desa.”
Bal tersenyum. “Kau memang luar bisa bro,” kata Bal senyum menyeringai sengit. “Tak ada rugi kami mengikutimu. Walaupun pekerjaan hanya perompak atau begal tetapi masih berharga daripada korupsi negara dan menjerat rakyat dengan pajak tinggi demi kantong pribadi.”
“Rop memang yang memberi jalan bagi kita semua,” kata Lin tersenyum. “Ia memang patut menjadi pemimpin bagi kita. Suropati nama yang memiliki keberanian seorang pemimpin.”
“Jangan banyak memuji,” kata Rop dingin. “Kita focus pada pekerjaan kita. Sebentar lagi akan mendekat.”