ASTAGHFIRULLAAH (Suropati)

Hermawan
Chapter #2

May

Bal dan Lin tersenyum menyaksikan Rop telah berhasil mengalahkan mereka semua. Mereka segera turun dari tempat mereka bertengger. Mereka melompat indah ketika mendarat di dekat Rop.

Bal tersenyum menatapnya. “Kupikir kau akan mati bro!” kata Bal meringis. “Kami hampir was-was ketika mereka mencekik lehermu.”

Lin mengeryitkan dahi. “Aku percaya pada Rop,” kata Lin sengit. “Ia bukan orang sembarang. Kemampuan bertempurnya melebihi para senopati kerajaan Jawa Dipa.” Dia memang membanggakan temannya. Karena dia mengetahui Rop yang luar biasa hebat dalam bertempur.

Rop berpaling tersenyum memandang mereka. “Kalian memang temanku,” kata Rop. “Lebih baik kita periksa dan ambil barang-barang itu segera.”

Mereka mengangguk dan tersenyum.

Rop dan dua temannya segera meluncur mendekati pedati. Pedati itu mereka naiki dan meluncur meninggalkan jalan hutan. Mereka bergegas pergi menuju ke markas.

Bal dan Lin tampak memeriksa beberepa kotak peti. Rop mengusiri pedati dengan cepat dan tangkas. Bal tersenyum ketika sebuah peti dibukanya. Harta karun berupa emas dan perak tampak memenuhi seluruh isi peti. 

“Ini luar biasa bro!” kata Bal tersenyum simpul. “Hasil rampasan kita lumayan banyak. Semuanya isinya emas dan perak.”

Lin memeriksa beberapa karung goni besar. Dia tersenyum semringah dan mengedikkan bahu. “Makanannya lumayan banyak bro!” kata Lin ceria. “Beberapa karung gandum dan beras sepertinya sangat cukup untuk warga desa.”

Rop tak berpaling, tetapi ia focus mengendarai pedati. Ia mengangguk kepala karena rasa senang menyambarnya. Ia menarik tali kekang kuda untuk menaikkan kecepatan jalan pedatinya.

Matahari baru seperempat jalan mendaki pohon-pohon ketika Rop dan temannya telah berhasil mendapatkan rampasan barang. Mereka cukup puas untuk hari itu. Barang-barang yang lumayan banyak. Dan makanan sangat cukup untuk warga kampang. Semua itu bisa membantu jeritan kelaparan desanya.

Rop mendadak terkejut ketika ada tiga orang berdiri dihadapannya. Mereka menghentikan langkah kuda dengan sebilah anak panah yang dilepaskannya. Mereka berdiri tegak dan menyilangkan tangan didada. Rop terpaksa menghentikan kuda pedati dengan mendadak.

Bal dan Lin terperanjat diatas pedati. Mereka mendongak menatap Rop. Bal memicingkan. “Ada apa Rop?” tanyanya terkesiap. “Kenapa berhenti?”

Rop berpaling sedetak. “Kita dihadang musuh,” kata Rop dingin. Ia kembali berpaling menatap ketiga orang didepannya yang memakai cadar. Ia mengedikkan bahu. “Siapa kalian?” Rop merenggut dengan suara kasar membahana.

“Serahkan barang kalian!” kata salah satu orang paling tengah dan beberapa langkah kedepan dia maju. Suaranya tajam dan melengking sengit. Dia seperti pemimpinnya.  

Rop mengeryitkan dahi. “Kenapa aku harus menyerahkan barang ini pada kalian?” tanya Rop tajam setajam baja Valyria. “Kerja keras kami membutuhkan nyawa untuk mendapatkannya. Tak semudah itu kami menyerahkannya.”

“Apa kalian tidak takut dengan kami?” suaranya makin tinggi dan melengking sengit. Kedua tangannya memegang pinggang.

Bal melangkah turun dari pedati. Dia mengedikkan bahu. “Siapa kalian?” tanya Bal sengit. “Lebih baik kalian jangan halangi jalan kami.”

Pemimpin orang bercadar memicingkan mata. “Aku ingin hasil rampasan kalian.” Matanya mengeryit sengit. 

Bal mengerutkan dahi. Tangan mengepalkan kuat dan sengit. “Apa kalian belum pernah merasakan pukulanku bila menginginkan barang rampasan kami?” Matanya menyorot dengan tajam dan menerkam.

Pemimpin itu bergeming dan mengedikkan dahi. “Kau hanya mengertak,” katanya sengit. “Kau tak membuatku gentar.”

“Tetapi aku melihat kau gemetaran,” kata Bal tersenyum menyeringai sengit. “Tubuhmu seperti perempuan yang takut menghadapi lawan.”

 Pemimpin itu memicingkan mata. “Aku bukan perempuan,” katanya sengit. “Aku sama seperti kalian.”

“Kau laki-laki,” Bal tertawa mencemooh. “Mataku tak bisa dibohongi. Kalian adalah perempuan. Gyestur kalian menunjukkannya. Lebih baik kalian pergi, sebelum kalian terluka.” Bal meledakkan tawa mencemooh.

Rop masih duduk di kusir pedati. Ia menyaksikan temannya dan ketiga orang bercadar itu dengan tajam dan saksama. Lin dibelakang Rop ikut menyaksikan Bal melakukan perbincangan sengit. Dia mengedikkan bahu. “Apa kita perlu membantu Bal?” tanya Lin sengit. “Sepertinya mereka lawan yang cukup merepotkan untuknya.”

Rop memicingkan mata. “Dia tak perlu bantuan kita,” kata Rop dingin. “Dia bisa menyelesaikan masalah ini.”

Lin berpaling menatap Rop dengan tajam. “Kau percaya padanya,” katanya. “Dari matamu tak bisa dibohongi.”

Rop mengangguk.

Lihat selengkapnya