
May membayangkan apakah mungkin dia akan mati di sini, hari ini, ditempat ini. Kebisuan yang menegangkan menyelimuti saat Rop berhasil mengalungkan keris dileher May.
“Aku siap mati,” kata May dingin dan menggigit bibir.
Rop menyeringai sengit. “Berhenti kalian!” teriak Rop sengit. “Pemimpin kalian sudah ada diujung kerisku.” Rop menatap mereka dengan tajam dan sengit.
Sum dan Arum mundur beberapa langkah. Mereka saling berdampingan menatap Rop yang berhasil mengalungkan keris di leher May dengan sengit. Mulut mereka menganga. Wajah mereka mengisyaratkan ketakutan.
Bal dan Lin meluncur mendekati Rop, dan berdiri dibelakangnya. Mereka memasang kuda-kuda ringan. Mereka bergeming kokoh.
Bal mengedikkan bahu. “Padahal aku lagi bermain seru dengan Sum,” keluh Bal parau. Rop tak berpaling, ia acuh terhadap keluhan Bal. Ia hanya mengeryitkan mata dengan tajam dan sengit. Bal tahu instruksi dari temannya yang tak bisa ditawar lagi. Maka dengan kepatuhan dia mengikutinya.
Lin diam dan hening mengikuti semua arahan Rop. Dia berdiri dibelakang Rop dengan siaga dan waspada.
May hening sejenak. Dia menarik nafas dan menghela nafas. “Apa yang kau tunggu?” tanya May sengit. “Aku siap mati.”
Rop bergeming. “Aku tidak membunuh seorang gadis,” kata Rop dingin sembari tangannya masih kokoh dan kuat mengalungkan keris dileher May. “Bagiku gadis adalah perbuatan nista untuk kubunuh.”
Walaupun keris mengalung dilehernya, May sedikit mengedikkan dagu. “Apa kau takut membunuh wanita?” tanya menyeringai sengit. “Rupanya inilah sisi lemahmu.” Dia tersenyum sengit.
“Aku tak peduli kau menghinaku,” kata Rop tajam setajam baja Valyria. “Gadis atau Wanita buatku adalah perilaku nista untuk dimusnahkan. Karena mereka terlalu cantik dan mempesona untuk dibunuh atau dilukai.”
May tersenyum menyeringai sengit. “Kau terlalu lemah Pat!” kata May sengit dan tajam. “Kepribadianmu yang dingin sepertinya tak menunjukkan watakmu yang tegas.”
Rop bergeming kuat dan tajam. “Wanita atau gadis itu pengecualian bagiku,” kata Rop. “Aku tak peduli kau berkata apa padaku.” Rop menatap tajam ke arah keduanya temannya. “Sekarang kalian harus turuti perkataan atau teman kalian akan mati ditanganku.” Rop melotot sengit dan tajam mengudara.
Sum dan Arum bergidik. Mereka menelan ludah. Tangan mereka mengepal kuat tetapi mereka membeku tak bisa bergerak. Tubuh mereka seperti terkunci oleh sebuah kekuatan yang tak bisa dinalar. Melihat mata lelaki yang mengalungkan keris dileher May seperti tekanan kuat dan mengintimidasi mereka untuk tidak bergerak dihadapannya. Mereka seperti tertarik magnet bumi yang sangat hebat.
“Jangan takut!” teriak May lantang. “Ia tak akan berani membunuhku.”
Suara May memang meluncur keras dan lantang merobek udara. Tetapi mereka tak bisa bergerak untuk menggerakkan tubuh. Mereka seperti patung yang sudah mati. Mata Rop seperti memberikan beban berat terhadap tubuh mereka. Bahkan mereka tak bisa membalas penyataan May. Mereka hanya diam membisu dalam keheningan.
“Kenapa kalian diam?” tanya May sengit. “Ia tak akan berani membunuhku.”
Apa yang terjadi? pikir May bertanya pada diri sendiri. Kenapa dengan Sum dan Arum? Kenapa mereka diam membeku?
Rop menyeringai sengit. “Mereka sudah terkena aji Prabawanata milikku.”
“Aji Prabawanata,” ulang May menelan ludah dan bergidik. “Siapa kau sebenarnya?”
Rop tersenyum dingin. “Aku Suropati yang hidup dihutan ini sudah lama,” kata Rop sengit. “Hutan ini telah mengajariku banyak hal. Aku sebatang kara dihutan ini. Tetapi berkat warga kampung disebelah hutan. Aku bisa hidup sampai sekarang ini.”
May bergidik. “Aji Prabawanata,” kata May suram. “Hanya keturunan para ksatria pilih tanding yang bisa memiliki ajian itu. Siapa kau sebenarnya?” Dia memicingkan mata.