ASTAGHFIRULLAAH (Suropati)

Hermawan
Chapter #4

Rasa


“May,” panggil Sum berpaling menatap May disampingnya. “Apa yang terjadi?”

“Kenapa kita bisa terikat begini?” tanya Arum bingung. Dia mengedarkan pandangan.

May mengedarkan pandangan. Kemudian dia menatap Sum dan Arum. Dan dia kembali berpaling mendongak menatap ikatan tali ditubuhnya. “Aku tak tahu,” kata May sengit. “Tetapi sepertinya kita terhipnotis oleh Aji Prabawanata.”

Sum bergidik. “Aji Prabawanata,” ulang May sengit. “Siapa yang memilikinya?”

May berpaling menatap Sum sengit. “Lelaki yang aku lawan tadi,” kata May dingin. “Ia bernama Suropati.”

Arum terkesiap. “Namanya sangat bagus,” kata Arum memuji.

Sum tampak berfikir cerdas. Dia seperti memakai sel-sel kelabu untuk mencerna rasa ingin tahunya. Kemudian dia mengedikkan bahu sengit. “Aji Prabawanata bukan sembarang dimiliki orang,” kata Sum mendengus. “Tetapi kenapa seorang begal bisa memiliki ajian itu?”

May mencoba melepaskan ikatan tali itu dengan kekuatannya. Dia meraih keris yang ada dipinggul Arum. Keris itupun diraihnya dengan susah. Keris itu dia gunakan untuk memotong tali yang mengikat tubuh mereka. Mereka akhirnya bisa lepas dari ikatan tali yang mengikatnya.

May bergeming. “Pertanyaan yang kau ajukan membuatku bingung,” kata May menyerahkan kembali keris itu pada Arum. Dia melepaskan otot-otot berat yang membebani tubuhnya. “Aku tidak bisa membuat suatu dugaan yang bisa menguatkan apa yang terjadi. Disisi lain ia memang bukan sembarang.”

Sum bergidik. “Maksudmu,” kata Sum sengit.

May berpaling menatap Sum sengit. “Aku merasakan praba miliknya bukan kekuatan manusia,” kata May mendengus. “Ia seperti monster yang memburu lawan tanpa ampun.” Matanya menyorot tanpa celah.

Sum mengangguk. “Sepertinya kau cukup berbakat untuk menganalisa geystur tubuhnya.”

“Kenapa pipimu merona?” Arum bertanya sengit. Dia dari tadi memperhatikan wajah May dengan saksama. “Apa kau pikirkan?”

May terkesiap. Dia memicingkan mata. “Maksudmu!” kata May sengit. “Memang apa kau bisa membaca pikiranku.”

Arum mengeleng. “Hanya saja aku melihat matamu tampak lebih tak terduga dari biasanya.”

May tersenyum. Dia menatap Arum tajam dan sengit. “Kau terlalu sengit memperhatikannku.” Dia mengangkat kepala menatap ke langit. “Ada kala seorang gadis bisa jatuh cinta.” Kemudian dia berpaling menatap Arum teduh.

Arum menyeringai sengit. “Jatuh cinta akan membuat luka,” kata Arum mendongak sengit. “Lelaki terlalu liar untuk bisa mencintai setulus hati.”

May kembali menyungging senyuman. “Kau seperti lelaki yang pernah aku hadapi,” kata May. “Ia sangat dingin dan beku melemparkan kata-kata. Tetapi lelaki itu memang sangat menantangku untuk mendapatkan tempat dihatiku.”

“Memang lelaki mana kau bicarakan,” Sum menyahut sengit. “Jangan bilang kau jatuh pada lekaki begal tadi.” Dia memicingkan mata menatap May dengan sengit.

“Terlalu dini bila aku membicarakan sekarang,” kata May tersenyum. Dia melihat posisi matahari sudah mulai terbenam. Dia mengedikkan bahu. “Sebaiknya kita segera kembali. Lain kali kita akan menghadapi mereka lagi.”

Sum dan Arum mendongak menatap langit. Sum mengangguk. “Sepertinya waktu cukup cepat berjalan,” kata Sum. “Kita terlalu lama meninggalkan padepokan pasti Syekh Jenar mencari kita.”

Arum mengedikkan bahu. “Yap,” katanya. “Sebentar lagi adzan ashar akan berkumandang. Sebaiknya kita segera kembali. Sebelum Syekh Jenar mengecek pondok kita.”

May mengangguk. “Kita gunakan aji penglimunan agar cepat tiba di padepokan.”

“Aku setuju,” kata Sum sengit. “Tetapi kami bagaimana? Kami belum mampu menguasai aji panglimunan.”

May tersenyum. “Kalian pegang bahuku,” kata May. “Dengan ini kalian bisa mengikuti kecapatanku.”

Lihat selengkapnya