ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #1

MALAM ITU

Holden arka, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, terbangun dengan jantung berdebar saat tidur nyenyak. Seluruh dinding dan atap tiba-tiba bergetar, ia terdiam dan bingung karena belum sepenuhnya sadar, hingga cahaya merah menyelinap masuk melalui jendela kamarnya. Langit di luar menyala seperti terbakar. Rudal spacetrooper menghantam diluar lingkungan rumahnya.

Holden buru-buru bangkit tempat tidur. Dengan nafas terengah, kakinya masih lemas saat menyentuh lantai. Tanpa sempat berpikir, ia berlari keluar kamar tidurnya menuju pintu depan. Bau asap dan logam panas memenuhi udara. Di luar, orang-orang berteriak ketakutan. Beberapa ada yang jatuh.

Holden keluar di luar rumah berdiri mematung. Tangannya dingin, kepalanya kosong. Ia tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Ia hanyalah anak polos

“ Ayah…ibu….” panggilnya lirih. Ia berlari ke kiri, lalu ke kanan. Tidak ada jawaban. Yang ia temukan hanya bayangan-bayangan yang bergerak cepat dan suara jerit ketakutan. Ayahnya seorang commander astral union, dia berada di garis depan pertempuran. Holden tahu itu, tapi tetap berharap melihatnya muncul kembali

“Holden, ke sini!” ibunya menarik lengan kasar. Wajah perempuan itu pucat, matanya tegang, “Kita harus pergi. Sekarang”.

“Tapi ibu, di mana ayah?” suara Holden bergetar ketakutan. Matanya mulai panas ibunya tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan holden lebih erat dan mulai berlari, jalanan terasa asing. Rumah-rumah yang ia kenal banyak yang rusak, beberapa terbakar. Langit terus menyala, disusul suara ledakan yang datang bertubi-tubi

Mereka belum jauh melangkah ketika ledakan lain menyambar. Cahaya putih memenuhi pandangan Holden. Tubuhnya terlempar ke udara. Dunia seakan berhenti berputar.

Saat ia membuka mata, segalanya terasa berhenti. Telinganya berdenging keras. Dadanya sesak, sulit bernapas. Holden mencoba bangkit, tapi kakinya gemetar. Tanah dibawahnya hangat dan basah.

 “ ibu…?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Ia menoleh ke sekitar mencari sosok yang tadi menggenggam tangannya. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, ia melihat tubuh tergeletak. Tubuh itu terbelah, pakaian yang dikenalnya koyak, wajahnya hancur tak bisa dikenali.

Holden berjalan mendekat dengan langkah terseret. Lututnya melemas saat ia menyadari itu adalah ibunya. Napasnya tersendat. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia ingin berteriak, ingin memanggil ibunya. Namun suaranya mati di tenggorokan. Untuk pertama kalinya, Holden benar-benar mengerti arti perang.

Asap semakin tebal. Tembakan terdengar semakin dekat. Seorang laki-laki bertubuh jangkung menerobos asap dan berlutut di depan Holden. Wajahnya penuh debu dan darah kering.

“Holden,” katanya cepat. “Kamu tidak apa-apa. Kita harus pergi sekarang.” Holden tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada ke arah tubuhnya ibunya

Laki-laki jangkung itu adalah pamannya (daren arka) mengangkat holden dan menggendongnya dengan tergesa-gesa. Di sekeliling mereka, ledakan terus mengguncang tanah. Holden merasakan dada pamannya naik turun cepat, napasnya berat, seolah ketakutan berlari bersama mereka.

Di dalam gendongan itu. Holden menatap langit yang memerah. Tidak ada tangisan. Tidak teriakan, hanya denging yang menetap di telinganya. Menelan semua suara lain.

Lihat selengkapnya