Vorn Killian, seorang laki-laki bertubuh jangkung berkepala pelontos, berdiri di balik jendela kapal antariksa kelas dominator. Tangannya bersedekap di belakang punggung. Dari balik kaca tebal itu, ia menyaksikan Planet Astrael di angkasa nan gelap perlahan dihancurkan oleh pasukan militer milik Klan .Rudal orbit menghujani permukaan planet seperti hujan api. Atmosfernya terkoyak, membentuk garis-garis cahaya merah yang memudar.
Vorn tersenyum tipis. Senyum yang dingin. Di belakangnya, langkah sepatu terdengar mendekat. Seorang komandan berhenti dengan sikap tegak. “Astral Union telah dikalahkan, Tuan,” lapornya. “Aegis Core berhasil kami ambil alih.” Vorn tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap planet yang sekarat itu. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata, “Bagus.”
Komandan itu menunggu perintah lanjutan. “Biarkan saja planet itu hancur,” lanjut Vorn. Nada suaranya ringan, hampir seperti tertawa. Ia berbalik dan meninggalkan jendela, melangkah menuju lorong utama kapal. Cahaya merah redup menyinari dinding logam. Udara terasa dingin dan steril. Setiap prajurit yang dilewatinya memberi hormat, namun Vorn tidak membalas. Ia tidak tertarik pada wajah-wajah mereka. Mereka hanyalah alat.
Lorong itu panjang dan sunyi, hanya diisi dengung mesin kapal. Di ujung lorong terdapat pintu besar menuju ruangan koordinator. Pintu itu terbuka otomatis saat ia mendekat. Di dalam ruangan, puluhan navigator dan analis sibuk di pos masing-masing. Panel holografik menyala di udara, menampilkan data pergerakan armada, sisa-sisa perlawanan, dan grafik korban. Di tengah ruangan berdiri sebuah holo-globe raksasa yang memproyeksikan Planet Astrael secara utuh atau apa yang tersisa darinya.
Vorn berjalan mendekat. Retakan-retakan besar terlihat jelas di permukaan planet. Kota-kota runtuh, laut menguap, dan benua terbelah.
“Status korban?” tanya dia. Seorang analis menelan ludah sebelum menjawab.
“Perkiraan awal menunjukkan sembilan puluh persen populasi sipil musnah, Tuan. Sisanya… kemungkinan tidak bertahan lama.”
“Efisien,” ujar Vorn singkat. Ia mengulurkan tangan dan memutar holo-globe itu perlahan. Setiap putaran memperlihatkan kehancuran dari sudut berbeda. Tidak ada penyesalan di matanya. Tidak ada keraguan.
“Pasukan sisa?” tanyanya lagi. “Sebagian menyerah sebelum jaringan komunikasi runtuh. Tidak ada perlawanan berarti.” Vorn berhenti memutar holo-globe. “Perang selalu sama,” katanya pelan. “Yang kalah musnah. Yang menang menentukan arti kebenaran.”
Tidak ada yang menanggapi. Ruangan itu hening, kecuali suara mesin dan dengung hologram. Seorang navigator memberanikan diri berbicara.
“Tuan, ada anomali energi di sektor selatan planet. Sinyal lemah, tapi masih aktif.”
Vorn menoleh. Matanya menyipit. “Sinyal apa?” “Tidak pasti, Tuan. Mungkin sisa reaktor kota. Atau… kehidupan.” Vorn menatap holo-globe itu lebih lama. Di salah satu sudut planet yang hampir gelap sepenuhnya, sebuah titik kecil berkedip samar. Sangat kecil. Hampir tidak berarti. “Sudah berapa lama?” tanyanya. “Beberapa menit, Tuan.”
“Tuan, kita menerima pesan dari nexus prime.” kata seorang petugas. Vorn terdiam. Dia menjawab kata dari petugas itu, “ Apa isi pesannya?” kata vorn. Petugas itu menelan ludah “ Kita harus datang ke nexus prime untuk menghadiri sidang. Tuan” Vorn terdiam sejenak, merasa jengkel karena di hubungi oleh High Chancellor Rhea valen.
Keheningan itu membuat seluruh ruangan menahan napas. “Astrael sudah kalah,” katanya akhirnya. “Dan yang kalah tidak perlu diingat.” Ia melangkah mundur. “Matikan.” navigator itu ragu sejenak, lalu menekan panel kendali. Sebuah kilatan cahaya muncul di holo-globe. Titik kecil itu menghilang. Planet Astrael kini sepenuhnya gelap.
Vorn memandang hasilnya tanpa ekspresi. “Siapkan armada untuk fase berikutnya,” perintahnya. “Aegis Core harus diamankan. Pemimpin lain sudah menunggu.”
“Baik, Tuan,” jawab mereka serempak. Vorn berjalan menuju pintu keluar. Saat pintu tertutup di belakangnya, holo-globe masih menampilkan puing-puing Astrael yang melayang di angkasa. Tidak ada suara. Tidak ada kehidupan. Hanya sisa peradaban yang pernah ada.