ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #3

FONDASI KETAKUTAN


Vorn killian tiba di varkhen. Dunia yang keras, berwarna gelap, dengan badai elektromagnetik yang berputar di atmosfernya. Kota-kota logam menjulang dari permukaan seperti duri raksasa. Tidak ada laut biru. Tidak ada hutan hijau. Varkhen dibangun bukan untuk keindahan, melainkan untuk bertahan.

Kapal dominator memasuki hanggar utama dengan suara berat. Saat pintu hanggar menutup, tekanan udara menyesuaikan. Prajurit berbaris rapi menyambut kedatangan Vorn Killian. Mereka memberi hormat serempak. Tidak ada sorak. Tidak ada perayaan. Kemenangan bukan sesuatu yang dirayakan di Varkhen. Itu adalah kewajiban.

Vorn melangkah turun, diikuti Gorgon dan para pengawal. Tatapan para prajurit sekilas tertuju pada anak itu. Mereka tahu siapa dia. Putra pemimpin. Penerus.

Seorang perwira tinggi mendekat. “Selamat datang kembali, Tuan. Aegis Core telah diamankan di fasilitas bawah tanah.”

“bagus,” jawab Vorn. “tidak ada kebocoran?”

“tidak, Tuan. Semua personel yang menangani dipilih langsung.”

Vorn mengangguk. “aku ingin laporan lengkap besok.”

Perwira itu mundur. Vorn menoleh ke Gorgon. “kamu ikut aku.”

Mereka memasuki kompleks pusat kekuasaan Varkhen. Dinding-dindingnya tebal, gelap, dengan simbol-simbol klan terukir di logam. Setiap langkah bergema. Tempat ini tidak dirancang untuk membuat orang merasa nyaman. Tempat ini dirancang untuk mengingatkan siapa yang berkuasa.

Di ruang observasi bawah tanah, Aegis Core disimpan. Sebuah struktur energi besar mengambang di tengah ruangan, terikat oleh medan penahan. Cahaya biru pucat berdenyut dari intinya. Mesin-mesin di sekelilingnya berdengung rendah, menjaga stabilitas.

Gorgon menatapnya dengan mata membesar. “itu… senjata?”

“senjata pemusnah massal,” jawab Vorn. “itu kunci.”

“kunci apa?”

“kunci untuk membuat dunia-dunia lain berlutut.”

Vorn berdiri di depan Aegis Core, tangannya bersedekap di belakang. Cahaya biru memantul di wajahnya yang keras. “Astral Union membangun ini untuk bertahan,” lanjutnya. “mereka salah. Sistem pertahanan selalu bisa dibalik menjadi sistem penyerangan.”

Gorgon menelan ludah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya melihat.

“ingat ini,” kata Vorn tanpa menoleh. “pengetahuan tanpa belas kasihan adalah kekuatan mutlak.”.

Malam di varkhen tidak jauh berbeda dengan siang. Langitnya selalu gelap, diterangi kilatan petir di tengah-tengah badai dan cahaya kota. Di ruang pribadi, vorn berdiri sendirian. Gorgon telah diantar kembali di tempat tinggalnya. Anak itu kelelahan, pikirannya penuh dengan hal-hal yang belum bisa ia cerna.

Vorn menyalakan holo-globe sekali lagi. Kali ini, ia memperbesar sektor tertentu. Beberapa sistem bintang muncul. Planet-planet dengan populasi tinggi, jalur perdagangan padat, dan sistem pertahanan usang. “Astrael hanyalah uji coba,” gumamnya. “mereka akan belajar.”

Ia mengingat wajah-wajah di sidang Nexus Prime. Keraguan. Ketakutan yang disembunyikan di balik kata-kata diplomatik. Mereka belum berani melawan. Belum. Vorn tahu, suatu hari nanti mereka akan dipaksa memilih. Tunduk atau hancur.

Di sudut ruangan, layar kecil menampilkan laporan korban Astrael. Angka-angka terus diperbarui. Vorn melirik sekilas, lalu mematikannya. Angka tidak penting lagi. Pesan sudah tersampaikan.

Lihat selengkapnya