SUARA YANG TERSISA
Astrael telah hancur. Kota itu tidak lagi terlihat seperti tempat tinggal, melainkan logam dan debu yang tertinggal, setelah gencatan senjata keluar. Bulan-bulan berlalu di pengungsian, tenda-tenda berdiri di antara puing-puing bangunan runtuh. Disusun rapi seolah keteraturan bisa menghapus apa yang telah terjadi.
Holden mulai memberanikan diri keluar dari tenda. awalnya hanya beberapa langkah. Ia berdiri di ambang pintu, mengamati keadaan di luar dengan tubuh kaku. Udara dipenuhi suara mesin alat berat deru panjang, dentuman logam, dan getaran rendah yang terasa hingga ke dada. Setiap suara membuat bahunya menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya refleks menutup telinga, meski suara itu tidak sekeras ledakan malam itu.
Ia masih sensitif terhadap suara. Mesin-mesin itu bergerak tanpa henti, membersihkan puing, mengangkatkan reruntuhan, membangun sesuatu yang baru di atas yang lama. Holden memperhatikan mereka dari jauh, Ia tidak menatap wajah para pekerja. Pandangannya tertuju pada alat-alat itu pola geraknya, irama bunyinya, jeda di antara suara.
Mulai mengenali perbedaannya. Suara mesin penggali berbeda dengan suara generator. Alarm peringatan terdengar lebih tinggi, lebih tajam, Dentuman logam yang jatuh tidak sama dengan ledakan. Holden mencatatnya, tanpa sadar. Kepalanya bekerja, memilah bunyi satu per satu, seolah jika ia bisa memahami semuanya, suara-suara itu tidak akan lagi mengejutkannya.
Lio mendekat perlahan. “kamu keluar,” katanya, seperti menyebut sesuatu yang penting. Holden tidak menjawab, ia masih menatap alat berat di kejauhan. Beberapa anak lain sedang bermain tidak jauh dari sana, mereka berlari-lari kecil, tawa merek aneh baginya. Tidak terputus, seolah dunia tidak pernah runtuh. “Ayo main sama kita” kata lio. Holden menoleh sebentar. Suara mesin kembali menggeram, lebih keras dari sebelumnya. Holden mundur satu langkah. Napasnya menahan. “Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Lio.
Holden mengangguk pelan, meski tubuhnya mengatakan hal lain. Ia memperhatikan mesin itu lagi. Kali ini, ia tidak hanya mendengar. Ia menghitung. Satu dentuman panjang, lalu jeda. Dua suara pendek. Lalu diam beberapa detik sebelum suara berikutnya muncul. Tidak acak. Ada urutan.
Suara itu masih menetap di pikiran, lalu datang tiba-tiba. Menghancurkan segalanya, tapi suara mesin ini berbeda. Bisa diprediksi. Holden menyadari sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ketika ia fokus pada pola suara, wajah ibunya tidak muncul. Yang muncul justru potongan ingatan lain cahaya di langit, arah suara, jarak ledakan.dengan detail.
Ia mengingat sudut jatuhnya cahaya merah di jendelanya, arah getaran tanah. Jeda sebelum ledakan berikutnya. Hal-hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Trauma itu berubah bentuk.
“Ayo,” kata Lio lagi, lebih pelan. “Kita cuma duduk.” Holden ragu sejenak, lalu melangkah mendekat. Tidak kearah anak-anak. Hanya beberapa langkah menjauh dari tenda. Ia duduk di tanah, masih cukup dekat untuk kembali jika suara menjadi terlalu keras, lio duduk disampingnya.
Mesin alat berat kembali berbunyi. Holden tidak menutup telinga kali ini. Ia menatap ke arah suara itu, menunggu. Ketika bunyi berikutnya datang sesuai yang ia pikirkan, napasnya sedikit lebih ringan.
Tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang bergeser. Malam hari, Holden kembali ke tenda. Suara mesin masih terdengar dari kejauhan. Berbaring, menatap kain tenda yang bergoyang pelan. Di kepalanya, suara-suara itu tidak lagi bercampur. Ia menyusunnya, satu per satu.
Tidak lagi mengingat wajah ibunya dengan jelas. Yang tersisa adalah cahaya, arah, suara, dan waktu di antaranya. Holden tidak tahu apa artinya itu. hanya tahu satu hal: jika bisa memahami suara ledakan, mungkin suatu hari nanti suara itu tidak akan lagi menguasainya. Dan tanpa sadari, luka itu mulai berubah bukan menghilang, tetapi menjadi sesuatu yang terus perhatikan.Dengan teliti. Dengan dingin.
Lalu dia melihat pesawat antariksa yang melintas di atasnya menutup telinga nya karena suara bising yang dihasilkan oleh pesawat itu. Melihat teliti bagaimana pesawat itu bekerja, lalu daren menghampiri holden,
“ holden kau melihat apa?” tanya daren.
“aku melihat pesawat itu”
“ itu pesawat milik astral union”
“aku ingin tahu bagaimana pesawat itu bekerja?” tanya holden dengan polos.
“kau akan segera mempelajari” jawab daren.
“apa ayah ada disana?”.
Daren seketika diam mematung menelan ludah. Apa aku harus kasih tahu dia bahwa ayahnya telah tiada. Tapi….jangan lebih baik jangan. Ucap dalam hatinya, ia hanya bisa terdiam melihat heldon. “kau akan tahu nanti heldon.” ia menjawab dengan berat hati. Holden kebingungan karena tidak tahu maksud pamannya itu, “maksud paman apa?”.
Daren enggan menjawabnya, alih-alih menjawabnya namun dia mengalihkan perhatian holden dengan melihat rombongan pasukan astral union. “lihat itu holden, di sana ada tentara astral union” holden membalik badannya dengan cepat “dimana…dimana” ucap holden dengan penasaran. “di sana di lapangan terbang” lalu daren kembali ke tenda untuk mengambil teropong miliknya, sesudah mengambilnya dia melihat ke arah lapangan terbang itu.