Holden keluar dari tenda perlahan, menyingkap kain penutup yang sudah mulai rapuh. Udara pagi menyentuh wajahnya dengan dingin yang kering, bau logam terbakar masih tertinggal, meski sudah berhari-hari sejak ledakan terakhir. Ia berhenti sejenak di ambang tenda, membiarkan matanya menyesuaikan diri.
Di hadapanya, reruntuhan kota terbentang tanpa bentuk yang jelas. Gedung-gedung runtuh saling bertumpuk, meninggalkan celah-celah sempit yang dipenuhi bayangan. Jalanan yang dulu rata kini terbelah dan tertutup puing. Tidak ada suara burung. Tidak ada tanda kehidupan selain angin yang berdesir melewati sisa struktur logam.
Ia melangkah keluar sepenuhnya.
Beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri, pasukan Astral Union terlihat. Mereka berbaris rapi di lapangan terbuka yang dulunya mungkin sebuah pusat transportasi. Seragam mereka bersih, kontras dengan lingkungan sekitar. Baju zirah berwarna terang memantulkan cahaya redup langit. Senjata tergantung di sisi tubuh, tidak diarahkan ke mana pun, tetapi cukup dekat untuk digunakan kapan saja.
Holden berdiri sendirian.
Tidak ada penyintas lain di sekitarnya. Tidak ada kelompok pengungsi. Ia sengaja memilih tempat ini karena sepi. Karena jauh dari perhatian. Namun kini, justru karena itu, ia terlihat jelas.
Ia tidak bergerak mendekat. Hanya mengamati.
Pasukan itu bukan seperti yang ia bayangkan selama ini. Tidak ada teriakan. Tidak ada kekacauan. Mereka tampak tenang. Terlalu tenang untuk berada di atas puing-puing dunia yang hancur. Holden memperhatikan cara mereka berdiri, jarak antarbaris yang konsisten, kepala tegak menghadap satu arah.
Ia tahu, jika ia melangkah ke arah mereka sekarang, ia akan dihentikan. Ditanya. Diperiksa. Mungkin ditahan. Ia tidak memiliki identitas. Tidak memiliki alasan.
Dan itu yang mengganggunya.
Ia ingin masuk ke dalam wilayah Astral Union. Ia tahu itu sejak lama. Namun bukan sekadar untuk bertahan hidup. Bukan hanya untuk makanan atau perlindungan. Ia ingin punya alasan yang lebih kuat. Sesuatu yang membuat kehadirannya masuk akal. Bukan sebagai beban. Bukan sebagai anak yang kebetulan selamat.
Ia menurunkan pandangan, menatap tangannya sendiri. Tangan yang terlalu bersih untuk seseorang yang hidup di reruntuhan, namun terlalu kasar untuk anak seumurannya. Ia mengepalkan jari-jarinya pelan.
Belum sekarang, pikirnya.
Langit tiba-tiba berubah.
Cahaya biru pucat muncul di atas lapangan. Sebuah proyeksi hologram terbentuk perlahan, membesar, stabil. Pasukan Astral Union serempak mengangkat kepala. Holden ikut menatap, tanpa sadar.
Wajah seorang pria muncul dalam hologram itu. Usianya sulit ditebak. Rambutnya rapi, hampir tidak bergerak. Seragamnya berbeda dari prajurit biasa. Lebih sederhana, namun jelas menunjukkan otoritas.
Pemimpin Astral Union.
Suara hologram itu terdengar jernih, menembus udara yang berdebu.
“warga dari sistem yang terdampak,” katanya. “Astral Union hadir bukan sebagai penakluk, tetapi sebagai penjaga stabilitas.”
Holden menyipitkan mata. Ia tidak mendekat, tapi jaraknya cukup dekat untuk mendengar.
“kehancuran yang terjadi adalah akibat dari agresi sepihak,” lanjut pemimpin itu. “kami akan memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang.”
Holden memperhatikan nada suaranya. Tenang. Terukur. Tidak emosional. Kalimat-kalimatnya disusun dengan rapi, seperti sudah diulang berkali-kali sebelum disiarkan.
“kami membutuhkan kerja sama,” kata hologram itu. “bukan ketakutan.”
Pasukan di bawahnya tetap diam.
Holden merasakan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Bukan marah. Bukan percaya. Lebih seperti jarak. Ia mendengarkan, tetapi tidak merasa terlibat. Kata-kata itu melayang di udara, terpisah dari puing-puing di sekitarnya.
“bagi mereka yang selamat,” lanjut suara itu, “Astral Union membuka jalur perlindungan dan pelatihan. Masa depan masih bisa dibangun.”
Holden menoleh ke arah bangunan runtuh di sekitarnya. Ia mencoba membayangkan masa depan di tempat ini. Ia tidak berhasil.
Pidato itu berakhir tanpa penutup dramatis. Hologram memudar perlahan, lalu menghilang sepenuhnya. Pasukan tetap berdiri beberapa saat, sebelum akhirnya bergerak kembali ke formasi awal.
Holden melangkah mundur satu langkah. Ia tidak ingin terlihat lebih lama. Ia sudah mendapatkan cukup. Setidaknya untuk hari ini.
Ia berbalik dan berjalan kembali ke arah tendanya, melewati jalur sempit di antara puing. Langkahnya hati-hati. Ia tahu daerah ini. Tahu di mana lantai bisa runtuh, di mana logam tajam menonjol.
Di dalam tenda, suasana tidak banyak berubah. Ruang sempit, alas tidur sederhana, beberapa barang yang ia kumpulkan selama bertahan hidup. Sebuah unit pemindai rusak di sudut. Bukan miliknya. Ia menemukannya di antara reruntuhan lama dan memperbaikinya sebisanya.
Holden duduk, menyandarkan punggung ke rangka tenda. Ia menutup mata sebentar. Bukan untuk tidur. Hanya untuk mengatur napas.
Ia memikirkan pidato itu. Bukan isi katanya, melainkan fakta bahwa pidato itu disiarkan. Bahwa Astral Union peduli dengan citra. Dengan narasi. Itu berarti mereka tidak hanya bergerak dengan senjata, tapi juga dengan cerita.
Ia membuka mata lagi.
Ia tahu satu hal dengan pasti: jika ia ingin masuk ke dalam dunia mereka, ia harus membawa sesuatu. Informasi. Kemampuan. Atau setidaknya, alasan.
Suara langkah terdengar di luar tenda.
Holden menegakkan tubuhnya perlahan. Tangannya bergerak ke samping, meraih alat kecil yang selalu ia simpan dekat. Bukan senjata. Hanya alat pemotong sederhana. Namun cukup untuk membuatnya merasa tidak sepenuhnya tak berdaya.
Kain tenda tersibak.
Seorang pria berdiri di luar. Tingginya sedang. Tubuhnya tegap. Seragam Astral Union melekat rapi di tubuhnya, dengan tanda pangkat di bahu. Helmnya dilepas, digantung di sisi.
“kamu tinggal di sini?” tanyanya.
Nada suaranya netral. Tidak mengancam. Tidak ramah.
Holden mengangguk pelan. “iya untuk sementara.”
Komandan itu melirik sekeliling. Pandangannya cepat, terlatih. Ia melihat unit pemindai rusak di sudut tenda. Tatapannya berhenti sejenak di sana.
“kamu sendirian?” tanya komandan itu lagi.
“sekarang,” jawab Holden.
Tidak sepenuhnya bohong.