Empat tahun bukan waktu yang lama bagi sebuah dunia. Tapi bagi Holden, itu cukup untuk membuat banyak hal terasa berbeda tanpa benar-benar berubah.
Astrael perlahan pulih.
Tidak dengan cara yang megah. Tidak ada perayaan, tidak ada pengumuman resmi tentang kebangkitan. Kota itu hanya… bergerak lagi. Bangunan-bangunan yang dulu runtuh tidak dibangun ulang sepenuhnya. Beberapa hanya diperkuat, dibiarkan dengan bekas luka yang sengaja tidak ditutup. Jalan-jalan kembali dilewati, meski sebagian masih ditandai garis peringatan. Lampu-lampu menyala lagi, redup dan hemat energi.
Orang-orang belajar hidup di antara sisa-sisa.
Holden kini berusia tiga belas tahun. Tubuhnya bertambah tinggi, tapi belum benar-benar kuat. Wajahnya masih membawa sisa kanak-kanak, meski sorot matanya tidak lagi sama. Ia sudah lama berhenti menunggu sesuatu kembali seperti dulu.
Ia berjalan di koridor terbuka sektor selatan, tempat pemukiman sementara yang perlahan berubah menjadi permanen. Tenda-tenda darurat sudah diganti struktur modular. Tidak kokoh, tapi cukup untuk disebut rumah.
Di kejauhan, suara tawa terdengar.
Holden mengenalnya.
“kamu telat,” kata Lio saat Holden mendekat.
Lio duduk di tepi pagar logam rendah, kakinya menggantung. Rambutnya lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu, diikat seadanya. Wajahnya penuh debu, tapi matanya hidup.
“aku bantu ibu,” jawab Holden singkat.
“oh,” kata Lio sambil tersenyum. Ia melemparkan sebuah batu kecil ke arah lapangan kosong di depan mereka. Batu itu memantul dua kali sebelum berhenti.
Mereka sudah saling mengenal sejak dua tahun terakhir. Bertemu di pusat distribusi air, lalu sering berpapasan. Tidak ada momen khusus. Tidak ada awal yang jelas. Mereka hanya… terus ada di tempat yang sama.
Holden ikut duduk. Mereka memandang lapangan yang dulu adalah taman kota. Rumputnya belum tumbuh kembali. Hanya tanah keras dan bekas pijakan.
“kata mereka sektor timur mulai dibuka,” kata Lio. “katanya mau dibangun pusat pelatihan.”
Holden mengangguk. Ia sudah mendengar rumor itu. Banyak hal dibicarakan di Astrael sekarang. Sebagian benar, sebagian hanya cara orang mengisi waktu.
“pelatihan apa?” tanya Holden.
Lio mengangkat bahu. “katanya untuk yang mau gabung Astral Union.”
Holden tidak langsung menjawab.
Nama itu sudah tidak asing lagi. Astral Union muncul dalam percakapan orang dewasa, di layar informasi, di selebaran digital yang ditempel di pusat kota. Mereka datang setelah kehancuran. Membawa bantuan. Membawa keteraturan. Tidak semua orang percaya. Tapi hampir semua bergantung.
“kamu kepikiran?” tanya Lio.
Holden menatap lurus ke depan. “kadang.”
Lio tersenyum tipis. “aku juga.”
Angin bertiup pelan. Debu naik sedikit lalu turun lagi. Tidak ada kapal perang di langit. Tidak ada sirene. Hanya suara kehidupan yang mencoba berjalan normal.
“kalau masuk Astral Union,” kata Lio, “katanya bisa keluar dari Astrael.”
“keluar ke mana?” tanya Holden.
“ke mana aja,” jawab Lio. “asal bukan di sini terus.”
Holden memikirkan itu. Ia membayangkan dunia di luar Atrael. Planet lain. Kota yang tidak runtuh. Langit yang tidak selalu kelabu.
“mereka juga bilang seleksinya ketat,” lanjut Lio. “nggak semua diterima.”
“iya,” kata Holden.
“kamu pasti bisa,” kata Lio tanpa ragu.
Holden menoleh. “kenapa?”
“entah,” jawab Lio. “kamu kelihatan… tahan.”
Holden tidak tahu harus menanggapi apa. Ia tidak merasa kuat. Ia hanya terbiasa.
Mereka terdiam lagi.
Di kejauhan, sebuah layar publik menyala. Menampilkan berita singkat tentang pemulihan jalur energi dan pembukaan sekolah teknis baru. Tidak ada yang menyebut perang. Tidak ada yang menyebut Lycora.