Usia tujuh belas terasa berbeda dari yang Holden bayangkan. Bukan karena ia merasa dewasa. Justru sebaliknya. Dunia di sekitarnya yang berubah cara memandangnya. Ia tidak lagi diperlakukan sebagai anak yang harus dijauhkan dari keputusan, tapi juga belum dianggap cukup matang untuk membuatnya sendiri. Pagi itu, ia berdiri di antrean depan pos pendaftaran Astral Union bersama Lio.
Kompleks itu jauh lebih besar dari yang mereka lihat empat tahun lalu. Bangunan modular telah bertambah, disusun lebih permanen. Jalur masuk diperlebar. Sistem keamanan terlihat lebih rapi, tapi tidak agresif. Tidak ada teriakan. Tidak ada dorongan.
Hanya antrean.
Remaja-remaja dari berbagai sektor Astrael berdiri dengan jarak yang teratur. Beberapa datang sendiri. Beberapa bersama keluarga. Beberapa dengan ekspresi tegang, yang lain mencoba terlihat santai.
Lio menggeser berat badannya. “aneh ya,” katanya pelan. “empat tahun lalu kita cuma ngeliat dari jauh.”
“iya,” jawab Holden.
Sekarang mereka ada di sini.
Di depan mereka, layar transparan menampilkan syarat pendaftaran. Usia minimal. Kesehatan dasar. Tes awal. Tidak ada janji karier. Tidak ada jaminan keselamatan.
Holden membaca semuanya tanpa mengedip.
“kalau nggak lolos?” tanya Lio.
“ya pulang,” jawab Holden.
“tanpa apa-apa?”
Holden mengangguk. “tanpa apa-apa.”
Itu justru yang membuatnya terasa jujur.
Mereka maju selangkah demi selangkah hingga akhirnya tiba di meja pendaftaran. Seorang petugas berseragam Astral Union menatap mereka singkat, lalu mengangguk.
“identitas,” kata petugas itu
Holden menyerahkan data miliknya. Lio menyusul. Pemindaian berlangsung cepat. Tidak ada komentar.
“kalian masuk seleksi awal,” kata petugas itu. “ikuti jalur biru.”
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang. Warna biru tipis menyala di lantai, memandu arah. Tidak ada jendela. Tidak ada dekorasi. Hanya dinding bersih dan suara langkah kaki.
“aku kira bakal lebih… serem,” bisik Lio.
“belum,” jawab Holden.
Lorong berakhir di ruang terbuka besar. Beberapa puluh peserta sudah berdiri di sana. Mereka dibagi ke dalam kelompok kecil tanpa penjelasan. Holden dan Lio berada di kelompok yang sama.
“tes pertama,” kata seorang instruktur setelah semua terkumpul. “bukan tes fisik.”
Beberapa peserta terlihat lega.
“dan bukan tes pengetahuan,” lanjutnya.
Beberapa yang lain mulai terlihat bingung.
“kalian akan duduk,” kata instruktur itu. “dan menjawab.”
Mereka dipersilakan masuk ke bilik-bilik kecil. Holden duduk di kursi sederhana. Di depannya, layar menyala.
Tidak ada hitungan waktu. Tidak ada instruksi panjang.
Pertanyaan pertama muncul.
Jika sebuah kota bisa diselamatkan dengan mengorbankan satu distrik, apakah itu keputusan yang benar? Holden menatap layar cukup lama, ia tidak mencari jawaban yang benar, ia tahu, tidak ada itu. Ia menjawab jujur. Pertanyaan berganti.
Apakah stabilitas lebih penting daripada kebenaran?
Holden mengingat Lycora, meski ia belum pernah ke sana. Ia mengingat bagaimana Astral Union berbicara tentang perlindungani, ia menjawab tanpa ragu.
Pertanyaan demi pertanyaan datang. Tidak cepat. Tidak lambat. Selalu terasa tepat di batas nyaman. ketika tes selesai, layar mati begitu saja. Holden keluar dari bilik dan kembali ke ruang tunggu. Lio sudah ada di sana.
“gila,” kata Lio pelan. “itu bukan tes.”
“iya,” jawab Holden. “itu pengenalan.”
Mereka tidak langsung diberi hasil.
Sebagai gantinya, mereka dipanggil satu per satu ke ruang wawancara singkat. Nama Holden disebut, ia masuk ke ruangan kecil yang sudah dikenalnya. Komandan Arven berdiri di dekat panel transparan, holden mengenalinya. Menatap luar, rambutnya sudah sedikit lebih abu-abu dari terakhir kali Holden melihatnya. Tapi posturnya sama, tegak, tenang.
“kita bertemu lagi,” kata Arven tanpa menoleh.
“iya,” jawab Holden.
“kamu kembali,” lanjut Arven. “itu bukan hal yang sering.”
“saya memang berniat,” kata Holden.