Varkhen telah menguasai banyak hal. Gorgon menyadarinya sepenuhnya.
menguasai planet.
menguasai orbit.
Tapi arah, ia berdiri di balkon baja Akademi Dominion, menatap langit Varkhen Prime yang selalu kelabu. Armada bergerak perlahan di kejauhan kapal induk, kapal tempur, dan barisan kargo militer yang keluar masuk jalur orbit. Semua bergerak teratur, nyaris tanpa suara. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada perayaan. Di Varkhen, ekspansi bukan kabar baik. Itu adalah kelanjutan logis dari kekuatan.
Laporan terakhir menyebutkan Nexus Prime telah kehilangan tiga sektor pengawas. Lycora bertahan lebih lama, tapi akhirnya retak dari dalam. Beberapa planet netral memilih tunduk. Beberapa mencoba melawan. Semuanya berakhir sama: bendera Varkhen terpasang di orbit, komunikasi dikendalikan, dan pemerintahan lama dibiarkan runtuh perlahan.
Gorgon menghembuskan napas pelan.
Ia berusia tujuh belas tahun hari ini.
Dan sejak usia sepuluh, hidupnya tidak pernah lepas dari seragam.
Pendidikan militernya dimulai jauh sebelum ia memahami apa itu perang. Awalnya disiplin tubuh lari, daya tahan, pengendalian napas. Lalu disiplin pikiran strategi dasar, sejarah penaklukan, logika dominasi. Tidak ada kata “musuh” dalam pelajaran awal. Yang ada hanya “hambatan”.
Kini, ia telah melewati fase dasar.
Seragam yang dikenakannya bukan lagi abu-abu polos. Di kerahnya terpasang lambang Akademi Dominion tingkat menengah. Tidak istimewa. Tidak rendah. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia bertahan.
Ia berbalik ketika sirene pendek terdengar sinyal pemanggilan internal. Sebuah pesan muncul di perangkat pergelangan tangannya.
Akses tingkat tinggi.
Pemanggilan pribadi, nama pengirimnya hanya satu kata.
Vorn.
Gorgon tidak langsung bergerak. Ia menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Tidak ada emosi yang muncul di wajahnya. Tidak ada kegugupan. Tapi ada sesuatu yang menegang di dadanya sesuatu yang tidak pernah ia sebut dengan nama.
Ia berjalan menyusuri koridor akademi, melewati barisan kadet lain yang berdiri tegak saat ia melintas. Beberapa meliriknya sekilas. Mereka tahu siapa dia. Mereka selalu tahu.
Anak dari Vorn.
Bukan kehormatan. Bukan kutukan. Hanya fakta yang tidak bisa dihapus.
Lift militer membawanya turun ke sektor bawah, jauh dari ruang latihan. Dinding berubah dari baja polos menjadi permukaan hitam mengilap. Sistem keamanan meningkat. Kamera mengikuti setiap langkahnya.
Ruang pertemuan itu luas dan dingin. Tidak ada jendela. Hanya sebuah meja panjang dengan permukaan metal gelap. Di ujung ruangan berdiri seorang pria tinggi dengan mantel komando Varkhen.
Vorn tidak berbalik ketika Gorgon masuk.
Ia berdiri menghadap layar taktis besar yang menampilkan peta galaksi. Area yang dikuasai Varkhen menyala merah. Nexus Prime kini dikelilingi sektor terkunci. Lycora ditandai dengan simbol status darurat. Beberapa titik lain bahkan tidak lagi memiliki nama hanya kode wilayah.
“Duduk,” kata Vorn tanpa menoleh.
Gorgon melakukannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Vorn akhirnya berbalik, menatap anaknya dengan mata yang sama dinginnya seperti laporan-laporan perang yang ia tandatangani setiap hari.
“Kau tumbuh,” katanya.
“Ya,” jawab Gorgon singkat.
Vorn mengangguk seolah itu sudah cukup.
“Astral Union melemah lebih cepat dari perkiraan,” lanjutnya. “Nexus Prime terlalu sibuk mempertahankan simbol. Lycora terlalu percaya pada perjanjian lama.”
Gorgon tidak menanggapi. Ia tahu ini bukan percakapan. Ini penyampaian.
“Kau berada di peringkat atas akademi,” kata Vorn lagi. “Bukan karena namamu. Karena hasilmu.”
Untuk sesaat, Gorgon bertanya-tanya apakah itu pujian. Tapi nada suara Vorn tidak berubah.
“Apa yang kau rasakan melihat peta ini?” tanya Vorn, akhirnya.
Gorgon menatap layar. Merah. Garis. Zona kendali.
“Teratur,” jawabnya setelah berpikir sejenak. “Tapi belum stabil.”
Vorn tersenyum tipis. Hampir tak terlihat.
“Bagus,” katanya. “Stabilitas datang setelah generasimu mengambil alih.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Gorgon memahami maksudnya. Ia bukan hanya sedang dididik. Ia sedang dipersiapkan.
“Kau akan dipindahkan ke jalur komando,” lanjut Vorn. “Pelatihan lapangan lebih cepat dari kadet lain.”
“Karena namaku?” tanya Gorgon datar.
Vorn menatapnya lama kali ini.
“Karena dunia yang kau warisi,” jawabnya.
Tidak ada lagi yang dikatakan setelah itu. Pertemuan selesai tanpa salam, tanpa perpisahan. Vorn kembali ke layar taktisnya. Gorgon berdiri, memberi hormat formal, lalu pergi.
Koridor terasa lebih sempit saat ia berjalan keluar.
Ia kembali ke asrama menjelang malam. Lampu-lampu redup menyala otomatis. Kadet lain sibuk membersihkan perlengkapan atau memeriksa senjata latihan. Tidak ada obrolan ringan. Tidak ada tawa.
Di ranjangnya, Gorgon duduk diam. Ia melepas sarung tangan militernya perlahan, menatap telapak tangannya sendiri. Tidak ada darah. Tidak ada luka.
Namun ia tahu, itu hanya soal waktu.
Planet-planet yang kini ditandai merah di peta akan menjadi medan latihan nyata. Nexus Prime. Lycora. Dunia-dunia yang dulu disebut pusat peradaban kini hanya nama dalam laporan.
Dan di suatu tempat, ia tahu, ada anak-anak lain seusianya. Mungkin sedang berlatih juga. Mungkin sedang bersembunyi. Mungkin bermimpi masuk Astral Union.
Gorgon berbaring, menatap langit-langit asrama.