Tes Astral Union berlangsung selama beberapa hari.
Tidak ada satu momen besar yang menentukan. Tidak ada hari yang terasa paling penting. Semuanya berjalan seperti aliran yang terus bergerak pelan, tapi tidak memberi kesempatan untuk berhenti. Setiap pagi Holden dan Lio datang ke area latihan, berdiri di barisan yang tidak terlalu rapi, lalu menerima instruksi singkat sebelum hari dimulai.
Lari jarak sedang di jalur kota lama.
Latihan koordinasi dalam kelompok kecil.
Simulasi evakuasi dengan waktu terbatas.
Instruktur Astral Union jarang berbicara panjang. Mereka lebih sering mengamati, mencatat, dan menghentikan latihan hanya untuk bertanya.
“Kenapa kalian memilih jalur itu?”
“Kenapa menunggu?”
“Kenapa kembali menolong?”
Tidak ada jawaban benar atau salah yang diumumkan. Semua hanya dicatat, seolah keputusan mereka hari ini akan dinilai jauh di kemudian hari.
Saat jeda latihan, Holden dan Lio duduk di tepi lapangan, minum air sambil mengatur napas.
“Kalau dibandingkan cerita yang sering kita dengar,” kata Lio pelan, “ini terasa… manusiawi.”
Holden menatap lapangan di depan mereka. Beberapa peserta masih berlatih, beberapa duduk kelelahan, diawasi instruktur.
“Mungkin karena mereka masih percaya manusia bisa memilih,” jawab Holden.
Lio tersenyum tipis. “Atau karena mereka takut kita lupa caranya.”
Hari demi hari berlalu tanpa pengumuman hasil. Beberapa peserta tidak kembali keesokan harinya. Tidak ada penjelasan. Tidak ada stigma. Nama mereka hanya tidak ada lagi di daftar hadir.
Pada hari keenam, Holden dan Lio dipanggil ke ruang briefing kecil.
Ruangan itu sederhana. Dinding abu-abu terang, satu meja panjang, beberapa kursi. Tidak terasa seperti ruang interogasi. Lebih seperti tempat berbicara.
Pintu terbuka, dan Komandan Avren masuk.
Sikapnya sama seperti terakhir kali Holden melihatnya tenang, tidak tergesa, dan tidak berusaha mengintimidasi siapa pun. Ia duduk berhadapan dengan mereka tanpa banyak basa-basi.
“Kalian sudah melewati fase awal,” kata Avren. “Belum ada keputusan. Tapi cukup untuk berbincang.”
Ia menoleh ke Holden.
“Kau ingat saya?”
“Iya, Komandan,” jawab Holden.
“Aku juga ingat ayahmu,” kata Avren.
Holden menegakkan punggungnya, tapi tidak berkata apa-apa.
“Ayahmu pernah terlibat dalam proyek pertahanan lama,” lanjut Avren. “Salah satunya berkaitan dengan Aegis Core.”
Nama itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
“Itu senjata,” kata Holden pelan.
“Bukan hanya senjata,” Avren mengoreksi. “Aegis Core adalah sistem pemusnah massal. Dirancang sebagai pertahanan terakhir ketika seluruh planet terancam runtuh.”
“Dan ayah saya setuju?” tanya Holden.
Avren terdiam sejenak. “Ayahmu setuju bahwa senjata itu tidak boleh digunakan. Ia percaya, begitu Aegis Core diaktifkan, garis terakhir kemanusiaan ikut hilang.”
Hening menggantung di antara mereka.
“Astral Union menyimpan Aegis Core,” lanjut Avren. “Bukan untuk dipamerkan. Bukan untuk digunakan. Tapi untuk diingat bahwa ada batas yang tidak boleh dilewati, bahkan dalam perang.”
Holden mengangguk pelan. Ia baru menyadari bahwa selama ini Astral Union bukan hanya menahan musuh, tapi juga menahan dirinya sendiri.
Pertemuan hampir selesai ketika lampu ruangan tiba-tiba meredup.
Suara statis muncul dari pengeras. Layar di dinding menyala otomatis. Wajah seorang pria muncul tajam, dingin, dan dikenal oleh seluruh galaksi.
Vorn.
Siaran itu tidak hanya ada di ruang briefing. Avren tahu itu. Holden tahu itu. Di saat yang sama, pesan itu pasti sedang diputar di radio, televisi, dan panel publik di seluruh planet.
“Warga galaksi,” suara Vorn terdengar tenang, tanpa emosi. “Kalian hidup di bawah ilusi perlindungan.”
Gambar di belakangnya menampilkan peta galaksi. Banyak wilayah telah berubah warna.