ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #11

ASTRAEL

Perang telah usai, setidaknya, begitu yang tertulis di laporan resmi, di Astrael planet yang indah, tanda-tandanya tidak datang dalam bentuk perayaan. Tidak ada parade besar. Tidak ada kembang cahaya di langit. Yang ada hanya bangunan yang berdiri setengah, jalan yang dibuka kembali perlahan, dan warga yang belajar berjalan di kota yang tidak lagi sama.

Evan Calder berdiri di balkon gedung pemerintahan lama, memandang kota dari ketinggian yang tidak terlalu mencolok. Ia sengaja memilih tempat itu. Terlalu tinggi membuat jarak terasa, terlalu rendah membuat gambaran menjadi sempit.

Astrael tampak hidup api belum pulih.

Beberapa distrik masih gelap di malam hari. Panel energi darurat bekerja bergantian. Di kejauhan, kerangka bangunan yang runtuh dibiarkan berdiri, bukan karena lupa, tapi karena tidak semua hal bisa dibangun ulang sekaligus.

Evan tidak menyukai kata rekonstruksi.

Baginya, itu terdengar seperti mengembalikan sesuatu ke bentuk lama, seolah perang tidak pernah terjadi. Padahal, Astrael telah berubah. Orang-orangnya juga.

Ia menuruni tangga gedung tanpa pengawal yang berlebihan. Beberapa orang mengenalinya, beberapa tidak. Evan membiarkan keduanya terjadi. Ia lebih sering mendengarkan daripada berbicara.

Di ruang rapat kecil, peta planet Astrael terpampang di dinding. Bukan peta lama, tapi versi baru dengan zona rusak, zona aman, dan wilayah yang kini dihuni pengungsi dari planet lain.

“Kita tidak membangun ulang Astrael seperti dulu,” kata Evan pada dewan. “Kita membangunnya seperti yang dibutuhkan sekarang.”

Ia mengalihkan fokus ke sektor energi dan pertahanan sipil. Rumah sakit dibangun lebih dulu daripada markas. Jalur evakuasi diperlebar sebelum pusat administrasi. Civic Shield Corps diberi wewenang lebih besar bukan untuk berperang, tapi untuk memastikan warga tidak lagi menjadi korban pertama.

Beberapa anggota dewan tidak sepenuhnya setuju.

“Kita harus memperkuat militer,” kata salah satu dari mereka. “Varkhen tidak akan berhenti.”

Evan mengangguk. “Benar. Tapi kalau kita menjadi planet yang hanya tahu bersiap untuk perang, maka Varkhen sudah menang tanpa menyerang.”

Ia memilih kata-katanya hati-hati.

Astral Union tetap hadir di Astrael. Sentra Wardens ditempatkan di orbit strategis. Blue Halo Division siaga, tapi tidak terlihat. Evan tidak ingin warganya hidup di bawah bayang-bayang senjata setiap hari.

Namun, di ruang lain yang tidak tercantum di agenda publik pembicaraan menjadi lebih berat.

Peta galaksi diproyeksikan. Wilayah yang dikuasai Varkhen ditandai dengan warna dingin. Nexus Prime. Lycora. Dunia-dunia yang tidak lagi bisa dihubungi secara terbuka.

“Kita tidak siap menyerang,” kata Evan jujur. “Dan mungkin tidak akan pernah siap dengan cara yang sama seperti Varkhen.”

“Lalu apa rencananya?” tanya seorang perwira Astral Union.

Evan terdiam sejenak.

“Kita bertahan,” katanya akhirnya. “Kita perkuat dunia-dunia yang masih bebas. Kita bangun jaringan intelijen. Kita cegah ekspansi mereka sebelum berubah menjadi invasi terbuka.”

Ia menatap simbol Aegis Core yang tidak diproyeksikan, tapi selalu hadir dalam pikiran semua orang di ruangan itu.

“Dan kita pastikan,” lanjutnya, “senjata itu tetap menjadi pilihan terakhir bukan jawaban pertama.”

Malam hari, Evan berjalan sendirian di salah satu distrik yang baru dibuka kembali. Anak-anak bermain di bawah lampu darurat. Beberapa tertawa. Beberapa hanya duduk, menatap kosong.

Ia tahu, generasi ini akan tumbuh dengan ingatan perang yang berbeda. Tidak semuanya akan ingat ledakan. Tapi mereka akan ingat keheningan setelahnya.

Di kejauhan, kapal patroli Astral Union melintas tanpa suara keras.

Evan berhenti sejenak.

Ia tidak tahu apakah Astrael akan benar-benar aman. Ia tidak tahu apakah keputusan menahan diri akan menyelamatkan atau justru memperlambat kehancuran.

Yang ia tahu, jika perang berikutnya datang, ia ingin Astrael menghadapinya sebagai planet yang masih memilih untuk hidup bukan sekadar bertahan.

Dan di suatu tempat di galaksi, Varkhen pasti sedang mengamati.

Bukan dengan amarah.

Lihat selengkapnya