Keputusan itu tidak diumumkan.
Nama Holden hanya berpindah tempat dari daftar kandidat Astral Union Defense Command ke kolom kecil yang lebih sempit, lebih sunyi: Sentra Wardens. Tidak ada pesan ucapan selamat. Tidak ada pertemuan pembuka. Hanya jadwal baru yang muncul di panel pribadinya, dimulai lebih pagi dari biasanya.
Hari pertama seleksi dimulai sebelum langit Astrael berubah warna, udara masih dingin ketika Holden tiba di fasilitas latihan Sentra Wardens. Bangunannya berbeda dari pusat seleksi sebelumnya lebih rendah, lebih tertutup, dan tanpa simbol besar. Tidak ada lambang heroik. Hanya dinding gelap dan pintu logam yang terbuka otomatis.
Instruktur tidak memperkenalkan diri, ,mereka hanya memberi perintah. Lari jarak jauh dengan beban penuh. Tanpa musik. Tanpa hitungan mundur. Holden merasakan berat ransel menarik bahunya ke belakang, napasnya memendek, langkahnya mulai tidak seirama. Beberapa peserta mencoba menjaga tempo. Beberapa memaksakan diri terlalu cepat.
Satu per satu berhenti, tidak ada yang dipanggil kembali. Tidak ada yang diejek. Mereka hanya diminta keluar jalur, lalu menghilang dari pandangan.
Tes berlanjut.
Simulasi tekanan gravitasi. Ruang latihan diputar perlahan, medan berubah, lantai terasa lebih berat setiap menitnya. Lutut Holden bergetar. Tangannya terasa mati rasa. Ia mendengar napasnya sendiri terlalu jelas di dalam helm latihan.
Ia tidak merasa kuat.
Ia hanya merasa tidak ingin jatuh.
Pada jeda singkat, Holden melihat mereka.
Prajurit Sentra Wardens aktif.
Mereka berdiri di sisi ruangan, mengamati tanpa suara. Tubuh mereka besar bukan sekadar berotot, tapi padat, seolah setiap bagian telah dilatih untuk menahan beban dan benturan. Cara mereka berdiri tidak tegang. Tidak santai. Hanya stabil.
Seorang prajurit melepas helmnya. Wajahnya penuh bekas luka lama. Tatapannya tenang, tapi tidak kosong. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering berdiri di antara hidup dan mati.
Di belakang mereka, armor tergantung berjajar.
Armor Sentra Wardens berwarna merah dan bergaris emas itu tidak terlihat baru. Permukaannya gelap, penuh goresan dan bekas benturan. Tidak ada warna mencolok. Tidak ada hiasan. Setiap lapis logam terlihat tebal, berat, dan dibuat untuk satu tujuan: menahan sesuatu yang seharusnya menghancurkan manusia biasa.
Holden berdiri di depan salah satunya lebih lama dari yang seharusnya.
Ia membayangkan bagaimana rasanya mengenakan armor itu. Beratnya. Diamnya. Tanggung jawab yang datang bersamaan dengan setiap langkah.
Bukan untuk menyerang.
Tapi untuk tetap berdiri ketika yang lain mundur.
Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah.
Tes psikologis. Simulasi keputusan cepat. Skenario di mana tidak semua orang bisa diselamatkan. Holden diminta memilih bukan pilihan yang benar, tapi pilihan yang akan ia ambil saat tidak ada waktu berpikir.
Ia pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan pikiran yang terlalu aktif.
Pada suatu sore, ia tidak langsung kembali ke kediamannya.
Holden berjalan ke pinggiran kota, ke area memorial yang masih dikelilingi bangunan setengah jadi. Tempat itu sunyi, hanya beberapa lampu yang menyala redup.
Makam ibunya berada di barisan tengah.
Tidak besar. Tidak mencolok. Batu nisan sederhana dengan nama yang ia hafal di luar kepala. Holden berdiri lama di sana, tangannya menggenggam tali tas tanpa sadar.
“Aku masuk Sentra Wardens,” katanya akhirnya.
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
“Aku tidak tahu apakah ini alasan yang benar. Atau hanya caraku sendiri untuk marah.”
Ia mengangkat pandangannya.
Di belakang makam itu berdiri monumen panjang dari logam gelap. Deretan nama terukir rapat. Beberapa lengkap dengan tanggal. Beberapa hanya satu kata: hilang.
Holden melangkah mendekat.
Ia membaca satu per satu, perlahan. Nama-nama yang tidak pernah ia kenal, tapi terasa dekat. Banyak dari mereka bukan prajurit. Mereka adalah warga. Teknisi. Anak-anak. Orang tua, mereka tidak memilih perang.
Perang yang memilih mereka.
Holden menunduk. “Kalau aku salah,” ucapnya pelan, “tolong ingatkan aku kenapa aku berdiri di sini.”
Angin berembus melewati monumen. Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda.
Tapi Holden merasa sesuatu menetap di dadanya bukan keyakinan, melainkan tekad yang tenang.
Ia tahu jalur ini tidak akan membersihkan dendamnya.
Ia tahu Sentra Wardens bukan tempat untuk membenci.
Tapi jika ia harus berdiri di garis terdepan, ia ingin berdiri agar tidak ada nama baru yang perlu ditambahkan ke monumen ini.
Saat ia meninggalkan area memorial, langit Astrael mulai gelap.