ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #12

KERAS

Di tempat lain, jauh dari Astrael, gorgon berdiri sendirian, ruang latihan Varkhen sudah kosong. Lantai logam masih menyimpan bekas panas dari simulasi terakhir. Bau ozon dan besi terbakar belum sepenuhnya hilang. Ia tidak melepas sarung tangannya. Tidak terburu-buru meninggalkan ruangan seperti kadet lain.

Di layar dinding, rekaman tes diputar ulang.

Gerakannya presisi. Terlalu presisi untuk seseorang seusianya. Tidak ada langkah sia-sia. Tidak ada keraguan yang tercatat sistem.

Instruktur menyebutnya efisien.

Gorgon mematikan rekaman itu sendiri.

Ia menatap pantulan wajahnya di layar hitam. Tidak ada ekspresi berlebihan. Tidak juga kosong. Hanya tenang ketenangan yang dipelajari, bukan lahir dengan sendirinya.

Ia teringat satu momen kecil saat tes berlangsung.

Seorang kadet di depannya terpeleset. Jatuh. Terlambat bangkit. Sistem memberi waktu beberapa detik sebelum eliminasi otomatis.

Gorgon tidak menoleh.

Ia melangkah melewati tubuh itu.

Bukan karena benci.

Bukan karena marah.

Hanya karena berhenti bukan pilihan, saat sirene berbunyi dan kadet itu dikeluarkan dari simulasi, Gorgon merasakan sesuatu yang singkat bukan rasa bersalah, tapi gangguan kecil. Seperti bayangan yang lewat terlalu cepat untuk dipahami, ia menepisnya.

Ayahnya selalu berkata, dunia tidak runtuh karena kekejaman, tapi karena keraguan. Gorgon mengulang kalimat itu dalam pikirannya, seperti penguat, namun malam itu, saat ia berjalan kembali ke baraknya, ia menyadari hal lain.

Ia tidak mengingat wajah kadet itu.

Tidak mengingat suaranya.

Tidak mengingat apa pun selain fakta bahwa jalannya kini lebih bersih.

Kesadaran itu tidak membuatnya takut. Justru terasa… ringan, dan untuk pertama kalinya, Gorgon bertanya pada dirinya sendiri tanpa suara, tanpa emosi apakah ketenangan yang ia rasakan adalah hasil disiplin…

atau tanda bahwa sesuatu di dalam dirinya mulai mati dengan rapi.

Ia berhenti sejenak di lorong barak.

Lampu-lampu Varkhen menyala konstan, tanpa kedip. Tidak ada bayangan panjang. Tidak ada sudut gelap. Semua dirancang agar jelas, terbaca, dan terkontrol. Gorgon menyukai itu. Dunia yang rapi. Dunia yang tidak menyisakan ruang bagi tafsir.

Di baraknya, beberapa kadet sudah terlelap. Tubuh-tubuh muda yang dibentuk oleh jadwal, obat penekan emosi, dan disiplin berlapis. Gorgon melepas sarung tangannya perlahan, meletakkannya sejajar di meja logam. Ia duduk di tepi ranjang tanpa rebah.

Di dinding, terpasang kutipan resmi Varkhen, diukir langsung pada baja:

WAR IS GOD.

Ia membaca kalimat itu setiap hari. Bukan karena diwajibkan, tapi karena kalimat itu memberinya ketenangan. Dunia yang tertib tidak perlu belas kasihan. Dunia yang tertib tidak perlu doa.

Namun malam ini, kata war is god terasa ganjil baginya.

Ia menutup mata, mencoba mengingat kembali tes tadi. Bukan rekamannya, tapi perasaannya. Adrenalin. Fokus. Ketepatan. Semua berjalan sempurna. Sistem memberi nilai hampir maksimal.

Yang tidak tercatat sistem adalah momen hening itu saat ia melangkah melewati kadet yang jatuh.

Tidak ada perintah untuk menolong.

Tidak ada larangan untuk berhenti.

Pilihan itu sepenuhnya miliknya.

Dan ia memilih untuk tidak berhenti.

Kesadaran itu muncul lagi, bukan sebagai penyesalan, tapi sebagai pengakuan sunyi. Ia menyadari bahwa keputusan itu terasa… mudah. Terlalu mudah. Seolah tubuh dan pikirannya sudah sepakat bahkan sebelum ia sempat mempertimbangkan hal lain.

Gorgon membuka matanya.

Ia membayangkan ayahnya, Vorn killian, berdiri di ruang strategi. Tidak marah. Tidak bangga. Hanya mengamati. Selalu mengamati. Dari kecil, Vorn tidak pernah mengajarinya untuk menjadi kuat. Ia mengajarinya untuk tidak goyah.

“Dunia tidak membutuhkan pahlawan,” kata Vorn suatu kali. “Dunia membutuhkan hasil.”

Kalimat itu kini berakar di dirinya.

Keesokan harinya, latihan berlanjut. Lebih berat. Lebih cepat. Lebih kejam. Kadet-kadet mulai berkurang. Beberapa dikeluarkan tanpa upacara. Nama mereka dihapus dari daftar. Tidak ada yang menyebutnya lagi.

Gorgon terus melaju.

Dalam simulasi tempur kelompok, ia mulai memimpin tanpa diminta. Instruksi yang ia berikan singkat, dingin, dan efektif. Beberapa kadet terluka secara virtual karena keputusan itu. Sistem menandainya sebagai korban dapat diterima.

Gorgon tidak membantah.

Ia mulai memahami sesuatu tentang dirinya sendiri. Bahwa ia tidak merasa terganggu oleh pengorbanan, selama hasilnya jelas. Bahwa ia tidak membutuhkan pembenaran emosional. Cukup logika dan tujuan.

Di ruang evaluasi, seorang instruktur sempat menatapnya lebih lama dari biasanya.

“Kau tidak ragu,” katanya.

Gorgon mengangguk pelan.

“Keraguan membuang waktu,” jawabnya.

Instruktur itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti pengakuan, malamnya, sebelum tidur, Gorgon kembali berdiri di depan dinding baja itu.

WAR IS GOD.

Lihat selengkapnya