ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #14

TUBUH YANG KERAS


Seleksi tidak pernah benar-benar dimulai, dan tidak pernah benar-benar selesai, itu yang Holden rasakan setelah minggu-minggu terasa menyatu tanpa batas. Tidak ada garis yang menandai tahap baru. Tidak ada pengumuman siapa yang lolos dan siapa yang gugur. Hanya jadwal yang terus berubah, semakin padat, semakin sunyi.

Tes kali ini lebih panjang dari sebelumnya, bukan sekadar fisik. Bukan sekadar taktik. Mereka dibagi ke dalam tim kecil dan dikirim ke zona latihan luar kota wilayah yang sengaja dibiarkan setengah hancur, menyerupai sisa perang lama. Bangunan retak. Tanah tidak rata. Sistem cuaca buatan membuat suhu turun drastis di malam hari.

“Bertahan,” hanya itu instruksi yang diberikan.

Hari pertama masih bisa ditoleransi. Hari kedua mulai menggerus. Hari ketiga, tubuh Holden terasa bukan lagi miliknya. Bahunya sakit permanen. Telapak tangannya melepuh. Tidurnya hanya potongan-potongan pendek yang tidak benar-benar memulihkan.

Mereka harus berjalan tanpa peta penuh. Mengamankan titik. Menarik rekan yang “terluka” dalam simulasi. Mengambil keputusan dengan suplai terbatas.

Pada malam keempat, Holden duduk bersandar di dinding beton runtuh. Nafasnya berat. Kakinya gemetar tanpa ia sadari. Di kejauhan, lampu drone pengawas berkelip pelan.

Ia menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai, pikiran itu muncul dengan jelas.

Berhenti saja.

Bukan karena takut. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata sederhana. Lelah yang masuk ke dalam tulang, ke dalam niat.

Ia membayangkan kembali ke kehidupan biasa. Tanpa armor. Tanpa keputusan yang menelan orang lain. Tanpa sumpah yang terasa lebih berat dari beban fisik, tangannya terkepal di atas lutut, lalu, tanpa ia sengaja, sebuah ingatan muncul. Ayahnya.

Bukan dalam adegan dramatis. Bukan dalam kata-kata heroik. Hanya momen kecil yang hampir ia lupakan sore hari sebelum perang, ketika listrik sering mati dan mereka duduk di ruang yang setengah gelap.

“Ayah tidak bisa menjanjikan dunia akan selalu aman,” kata ayahnya waktu itu, suaranya tenang. “Tapi kalau suatu hari kau harus berdiri sendirian, pastikan kau tahu kenapa kau berdiri.”

Holden menelan napasnya.

Ia sadar selama ini ia berdiri karena marah. Karena kehilangan. Karena dendam yang belum selesai. Tapi itu bukan alasan yang cukup untuk bertahan sejauh ini.

Ia menutup matanya.

Kenapa aku berdiri?

Bukan untuk membalas.

Bukan hanya itu.

Ia berdiri karena ia tidak ingin ada anak lain yang duduk di ruangan setengah gelap dan kehilangan segalanya tanpa pilihan, pikiran itu tidak membuat tubuhnya lebih kuat. Tapi cukup untuk membuatnya bangkit, hari berikutnya menjadi lebih berat. Simulasi serangan mendadak saat mereka kelelahan. Tes koordinasi dalam kondisi kurang tidur. Skenario di mana mereka harus memilih antara menyelamatkan satu titik strategis atau mengevakuasi sekelompok warga sipil virtual.

Holden hampir salah memilih, ia menatap layar keputusan terlalu lama. Waktu hampir habis. Suara rekan setimnya memanggil. Sistem menghitung mundur, ia mengingat wajah ayahnya lagi. Bukan sebagai simbol. Bukan sebagai alasan untuk marah.

Sebagai pengingat bahwa setiap keputusan akan meninggalkan bekas, entah terlihat atau tidak.

Ia memilih.

Bukan pilihan sempurna. Tidak ada pilihan seperti itu. Tapi pilihan yang bisa ia pertanggungjawabkan. Simulasi berakhir, beberapa kadet tidak kembali ke barisan keesokan harinya. Tidak ada penjelasan. Tidak ada evaluasi terbuka.

Holden masih ada.

Tubuhnya lebih kurus. Tatapannya lebih dalam. Ia merasa seperti seseorang yang sedang ditempa menjadi sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Pada malam terakhir fase itu, mereka dikumpulkan di aula kecil tanpa simbol. Seorang perwira berjalan di depan barisan. “Sentra Wardens tidak memilih yang paling kuat,” katanya. “Kami memilih mereka yang tetap berdiri saat alasan mereka runtuh.”

Kalimat itu menggantung, holden tidak tahu apakah ia lolos tahap ini. Tidak ada yang tahu, yang ia tahu, ia sempat ingin menyerah. Dan ia memilih untuk tidak melakukannya, bukan karena kebencian. Tapi karena ia akhirnya mengerti bahwa berdiri bukan soal siapa yang ia lawan.

Melainkan tentang siapa yang ingin ia lindungi, waktu bergerak tanpa ia sadari. Hari-hari seleksi yang dulu terasa seperti neraka perlahan berubah menjadi rutinitas yang lebih teratur. Tubuhnya membesar. Gerakannya lebih efisien. Tatapannya tidak lagi liar seperti anak yang kehilangan arah.

Holden berusia delapan belas tahun ketika musim panas terakhir sebelum kelulusannya datang.

Ia hampir sembilan belas.

Dan pengumuman itu datang tanpa upacara besar, mereka dipanggil satu per satu ke aula yang dulu terasa seperti ruang penghakiman. Kini ruang itu terasa lebih kecil, nama-nama dibacakan dengan suara netral.

Beberapa tidak dipanggil, ketika “Holden” terdengar, jantungnya tidak melonjak seperti yang ia bayangkan dulu. Tidak ada teriakan. Tidak ada kepalan tangan ke udara. Hanya satu hembusan napas yang selama ini tertahan.

Ia melangkah maju.

Layar di belakang perwira menampilkan simbol Sentra Wardens. Garis melingkar dengan inti cahaya di tengahnya.

“Dengan ini,” suara itu datar namun tegas, “kalian resmi diterima sebagai Kadet Sentra Wardens tingkat lanjut. Tahun depan, pada usia sembilan belas, kalian akan memasuki fase integrasi tempur penuh.”

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya kesadaran sunyi.

Ia lolos.

Malam itu, Holden berdiri sendirian di balkon asrama. Angin tipis menyentuh wajahnya. Kota ASTRAEL di bawahnya menyala dengan lampu putih kebiruan.

Ia teringat makam ibunya.

Ia teringat ayahnya.

“Aku berdiri,” gumamnya pelan, bukan pada siapa pun, bukan untuk siapa pun. Waktu kembali bergerak, usia sembilan belas datang tanpa dramatis. Tapi hari itu berbeda.

Mereka dikumpulkan di hanggar utama. Pintu baja raksasa terbuka perlahan, memperlihatkan sesuatu yang selama ini hanya mereka lihat di arsip dan medan perang jarak jauh.

Armor Sentra Wardens.

Deretan armor raksasa logam berdiri tegak, setinggi dua meter dari manusia biasa. Warna merah pekat menyelimuti seluruh badan armor, seperti bara yang membeku. Garis emas membentang di sepanjang lengan dan dada, membentuk pola tegas yang terlihat hampir sakral.

Bukan sekadar mesin perang.

Simbol.

Civic Shield Corps menjaga kota.

Sentra Wardens menyerang ketika dunia memaksa mereka.

Holden menatap armor itu tanpa berkedip.

Permukaannya memantulkan cahaya hanggar. Helmnya tidak memiliki wajah, hanya visor gelap memanjang yang membuatnya tampak seperti makhluk tanpa emosi.

“Unit ini bukan sekadar perlindungan,” suara instruktur bergema. “ini adalah perpanjangan keputusan kalian. Ia tidak akan berpikir untuk kalian. Ia hanya akan memperbesar apa yang ada di dalam diri kalian.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari latihan fisik mana pun, satu per satu, nama mereka dipanggil untuk mendekat. Ketika giliran Holden tiba, ia melangkah ke platform integrasi. Tangga hidrolik naik perlahan hingga sejajar dengan dada armor.

Dari dekat, ia bisa melihat goresan-goresan kecil di permukaan merah itu. Bekas latihan. Bekas uji coba. Mungkin bekas pertempuran.

Tangannya menyentuh logamnya.

Lihat selengkapnya