Langit Lycora tidak lagi biru.
Sejak Varkhen menguasainya, atmosfer planet itu dipenuhi asap hitam dari pabrik-pabrik ekstraksi dan menara energi yang menjulang seperti tombak raksasa menembus awan. Lautan yang dulu berkilau kini dipenuhi serpihan logam dan kapal-kapal perang yang berlabuh tanpa suara.
Dan di atas segalanya, berdiri simbol kekuasaan baru: panji Varkhen yang berkibar di setiap kota.
Kapal induk milik Vorn Killian menembus atmosfer tanpa perlawanan. Tak ada lagi meriam pertahanan. Tak ada lagi perisai orbital. Lycora sudah patah, pintu hanggar terbuka perlahan.
Vorn melangkah turun. Armor hitamnya memantulkan cahaya redup matahari Lycora. Garis-garis merah di dadanya berpendar pelan, seperti jantung mekanis yang tak pernah lelah berdetak. Setiap langkahnya berat. Bukan karena beban, tetapi karena ia ingin dunia merasakan kehadirannya.
Ia berhenti di tepi platform kota utama, di bawahnya, ribuan warga Lycora bergerak dalam barisan panjang. Tangan mereka dirantai. Leher mereka diberi penanda digital. Tubuh mereka kurus. Mata mereka kosong.
Budak.
Para prajurit Varkhen berdiri di sisi jalan, mengawasi dengan senjata plasma siap tembak. Beberapa warga yang berjalan terlalu lambat dipukul tanpa peringatan.
Vorn memandang semua itu tanpa emosi.
“Produksi?” tanyanya singkat, perwira membungkuk. “Naik limapuluh persen sejak pemberlakuan sistem kerja paksa total, tuan.”
Vorn menoleh sedikit.
“Kurang.”
Ia melangkah turun ke jalanan kota. Warga-warga budak otomatis menunduk saat ia lewat. Bukan karena hormat melainkan karena takut, seorang wanita terjatuh. Rantainya tersangkut. Seorang prajurit mengangkat senjatanya. Vorn mengangkat satu jari mencegah prajurit.
Tembakan berhenti, ia mendekat. Berlutut sedikit. Mengamati wajah wanita itu. Ada kebencian di sana. Kebencian yang masih hidup.
Vorn berdiri kembali. “biarkan hidup dia hidup.” Suaranya dingin. “tahan tembakan mu.” Wanita itu diseret pergi, tak lama kemudian,
Vorn memasuki balai kota yang kini menjadi pusat komando Varkhen. Peta holo-globe Lycora melayang di tengah ruangan. Zona industri. Zona budak. Zona militer.
Para petinggi militer Varkhen berdiri melingkar.
“Laporan,” perintah Vorn. Seorang komandan maju. “Perlawanan sudah dihancurkan sembilanpuluh persen. Sisa kelompok kecil bersembunyi di wilayah utara. Mereka tidak signifikan.”
Vorn menatap hologram itu lama. “Tidak signifikan,” ulangnya pelan. “Kata itu membuat banyak pemimpin mati.” Ruangan menjadi sunyi. “Kirim divisi pemburu. Habisi sampai akar.”
Ia berjalan memutari meja. “Planet ini bukan hanya tambang. Lycora adalah planet para budak dan pesan…..” seorang jenderal lain bertanya, “Pesan untuk siapa, Jenderal?”
Vorn berhenti.
“Untuk seluruh planet di galaksi helioris.” Matanya menyala merah samar. “Siapa pun yang melawan Varkhen… akan kehilangan langit mereka.” Dari jendela tinggi, ia melihat lagi barisan budak berjalan, tangannya mengepal pelan. Bukan karena ragu, tetapi karena kepuasan.
Lycora telah jatuh, dan Vorn Killian memastikan, planet itu tidak hanya dikalahkan, dihancurkan secara perlahan.
Dan itu baru permulaan, langit Lycora diselimuti asap pekat ketika kapal komando Varkhen menembus atmosfernya. Kota-kota yang dulu bercahaya kini redup, digantikan menara pengawasan dan pabrik ekstraksi yang berdiri seperti duri raksasa.
Pintu hanggar terbuka.
Vorn Killian melangkah turun tanpa tergesa, armor hitamnya berlapis baja gelap dengan garis merah menyala di dada dan bahu. Setiap langkahnya menggema di lantai logam. Prajurit-prajurit Varkhen langsung berdiri tegak. Tak satu pun berani menatap wajahnya terlalu lama.
Ia berjalan menuju pusat kota Lycora yang kini berubah menjadi zona kerja paksa. Di sana, ribuan warga Lycora dirantai, anak-anak. Orang tua. Perempuan. Semua dipaksa mengangkut logam, menyusun komponen mesin, menggali tanah beracun untuk kepentingan Varkhen. Wajah mereka pucat. Tubuh mereka kurus. Mata mereka kehilangan cahaya.
Seorang budak pria terjatuh karena kelelahan. Rantai di pergelangan kakinya menegang, seorang prajurit hendak menyeretnya pergi, tapi Vorn mengangkat tangannya.
Berhenti.
Vorn mendekat perlahan. Ia berdiri tepat di depan pria itu. Mata mereka bertemu, di mata budak itu ada ketakutan… tapi juga kebencian. Vorn berlutut sedikit, cukup rendah untuk menatap wajahnya dari dekat.
“Masih punya amarah?” tanyanya pelan, pria itu tak menjawab.
Vorn tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum tipis yang dingin dan kosong.
“Tunjukkan.”
Ia berdiri kembali, lalu tanpa peringatan menendang pria itu hingga tubuhnya terpental ke tanah. Suara retakan tulang terdengar samar.
“Lemah,” ucapnya datar.
Ia menoleh pada perwira di sampingnya. “Jika mereka tidak bisa berdiri, mereka tidak berguna.” perwira itu memberi isyarat. Dua prajurit mengangkat pria tadi dan menyeretnya pergi. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan di kejauhan. Vorn bahkan tidak menoleh.
Ia melanjutkan langkahnya menyusuri barisan budak. Seorang anak kecil memeluk ibunya erat saat Vorn lewat, tubuh anak itu gemetar. Vorn berhenti.
Ia menatap anak itu lama. “Takut?” tanyanya. Anak itu tak menjawab. Hanya menunduk.
Vorn mengangkat dagu anak itu dengan ujung sarung tangannya yang dingin. “Rasa takut adalah awal dari kepatuhan.” Ia melepaskannya begitu saja. kepada seluruh barisan budak, ia berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar:
“Lycora tidak lagi milik kalian. Kalian hidup karena Varkhen mengizinkan. Ingat itu.” Tak ada yang berani membalas.
Vorn menatap kota yang kini berada di bawah kendalinya. Api perlawanan sudah padam. Yang tersisa hanyalah ketundukan, dan di tengah penderitaan itu, Vorn tidak merasakan penyesalan. Ia merasakan keteraturan. Baginya, dunia yang tunduk adalah dunia yang benar, dan Lycora… telah belajar arti tunduk di bawah bayangan Varkhen.
Lycora tidak lagi memiliki suara.