ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #18

SUMPAH SEBELUM PENAKLUKAN

Air dari pancuran berhenti menetes, ruangan mandi itu sunyi, hanya tersisa embun yang menempel di kaca dan aroma logam samar dari armor yang tergantung di sudut ruangan. Cahaya putih dari langit-langit membuat bayangan tubuhnya terlihat lebih besar dari seharusnya.

Holden berdiri di depan cermin.

Dia kini sudah berusia dua puluh dua tahun.

Tinggi, bahu melebar, urat-urat menonjol di lengan yang terbentuk dari latihan dan cairan yang ia telan tanpa pernah tahu sepenuhnya isinya.

Ia menatap dirinya sendiri, matanya yang berwarna emas, Tatapan itu tidak lagi milik anak laki-laki yang dulu bersembunyi di balik reruntuhan rumahnya.

Ia mengangkat tangan, menyentuh kaca yang dingin. “Apa kau masih manusia?” gumamnya pelan. Pantulan di depannya tidak menjawab, ia tersenyum tipis, hambar.

“Kau harus ingat kenapa kau ada di sini.”

Suara itu pelan, tapi tegas. Bukan seperti memberi motivasi. Lebih seperti perintah. “Untuk mereka.” wajah ibunya melintas sekejap di pikirannya.

Lalu suara ledakan, lalu api.

Napasnya berubah berat.

“Untuk Ayah.”

Ia menunduk sebentar, rahangnya mengeras, ingatan itu selalu datang seperti luka yang belum benar-benar kering.

Malam itu.

Asap.

Langit merah.

Dan ayahnya berdiri di depannya, menahan pintu yang hampir roboh. suara itu kembali terdengar di kepalanya tenang, tapi dipenuhi sesuatu yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.

Dendam itu mudah, Holden. Tapi jadi kuat untuk melindungi… itu yang sulit.

Holden mengepalkan tangan. “Aku tidak melindungi siapa pun,” bisiknya pada cermin. “Aku ingin menghancurkan mereka.” Pantulannya terlihat asing saat ia mengatakan itu. Ia menghela napas panjang. “Aku akan membalasnya. Aku akan pastikan Varkhen merasakan kehilangan yang sama.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa ragu, namun, jauh di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa berat. Bukan takut, kosong. Ia menatap matanya sendiri lebih dalam.

“Kalau aku berhenti sekarang… semua ini sia-sia.”

Tangannya bergerak menelusuri bekas luka tipis di bahunya hasil latihan duel beberapa bulan lalu. Tubuhnya sudah berubah, ototnya lebih padat, tingginya kini pas dengan ukuran armor Sentra Wardens.

Ia dibentuk untuk senjata tempur, dan perang adalah satu-satunya hal yang tersisa, ia memejamkan mata. Suara ayahnya sekali lagi, lebih pelan kali ini.

“Jangan biarkan kebencian memilihkan jalanmu.”

Holden membuka mata dengan cepat, seolah ingin mengusir bayangan itu.

“Sudah terlambat, Ayah.”

Suara itu terdengar lebih dingin, ia mengambil handuk, mengeringkan wajahnya perlahan. “Ini bukan tentang menjadi baik,” gumamnya pelan.

“Ini tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai.” Holden menatap dirinya untuk terakhir kali sebelum mematikan lampu.

Pantulan itu tetap berdiri di sana, dalam ingatannya seorang prajurit yang masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang berubah menjadi sesuatu yang dulu ia benci, dan di dalam keheningan yang singkat itu, ia tidak tahu mana yang lebih kuat: Dendamnya, atau ketakutannya kehilangan sisa dirinya sendiri.

Tiba-tiba suara sirene itu berbunyi tanpa aba-aba. Bukan keras.

Tapi cukup dalam untuk membuat tulang bergetar, nada panjang, rendah, berulang tiga kali. Lalu jeda. Lalu kembali lagi.

Holden segera keluar dari ruangan mandi, Holden berhenti di tengah lorong fasilitas. Beberapa personel langsung bergerak cepat ke barak, ia mengikutinya ke barak, dan para prajurit memakai armor mereka, bukan panik, tapi terlatih. Lampu di sepanjang dinding berubah dari putih menjadi merah redup.

Peringatan darurat, sebuah suara perempuan terdengar melalui sistem pusat.

“Seluruh personel segera berkumpul di lapangan utama sektor barat. Ini bukan latihan.” bukan latihan. Kata-kata itu menempel di udara, para prajurit sentra wardens dan prajurit dari masing-masing elemen berbaris dengan rapi. Tidak ada yang berbicara, hanya langkah kaki dan bunyi pintu otomatis yang terbuka lalu menutup kembali.

Langit Astrael tampak lebih gelap dari biasanya ketika mereka tiba di lapangan besar itu. Reruntuhan kota lama masih terlihat di kejauhan, seperti bayangan masa lalu yang tidak benar-benar dibersihkan.

Lapangan itu penuh, di tengah lapangan, cahaya biru mulai terbentuk. Sebuah proyeksi hologram perlahan membesar, stabil, lalu memadat menjadi sosok yang dikenali semua orang.

Evan Calder.

Pemimpin Astrael.

Wajahnya tampak lebih tua dari siaran terakhir. Garis di sekitar matanya lebih dalam. Namun tatapannya tetap lurus. Tidak goyah. Tegas. Keheningan turun sepenuhnya, bahkan angin seakan berhenti.

“PARA PRAJURIT ASTRAEL….,” suaranya menggema, jernih dan berat. “HARI INI KITA BERHENTI BERTAHAN, KITA TELAH KEHILANGAN RUMAH. KELUARGA. KOTA. KITA MENUNGGU KEADILAN DARI DEWAN GALAKSI. KITA TIDAK MENDAPATKANNYA” Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan, hanya diam.

Kata-kata itu jatuh lebih berat daripada teriakan, di layar hologram, citra lycora muncul di samping wajahnya. Planet pusat. Simbol netralitas. Kini dikuasai penuh oleh Varkhen.

“VARKHEN MENGGUNAKAN LYCORA SEBAGAI SENJATA UNTUK MENGANCAM MENGHANCURKAN PLANET LAIN,” lanjut Evan. “DARI SANA MEREKA MENGATUR JALUR PERDAGANGAN. MENGONTROL SUPLAI, MENGANCAM DUNIA-DUNIA YANG BELUM TUNDUK.”

Wajah Vorn Killian muncul sekilas dalam bayangan data taktis. Lalu menghilang. “KITA DIBERI PILIHAN UNTUK DIAM. UNTUK MEMBANGUN KEMBALI DAN MELUPAKAN.” Nada suaranya mengeras. “KITA MENOLAK.” Di belakang Holden, seseorang menarik napas tajam.

“MULAI HARI INI, ASTRAEL MENDEKLARASIKAN PERANG TERBUKA TERHADAP VARKHEN. KITA AKAN MEREBUT KEMBALI LYCORA, BUKAN HANYA SEBAGAI BALASAN. TETAPI SEBAGAI PERNYATAAN BAHWA KETAKUTAN BUKAN FONDASI PLANET INI!!”

Holden tidak berkedip, di dalam dadanya, sesuatu bergerak. Bukan kemarahan. Bukan semangat. Sebuah arah. “PERANG INI TIDAK AKAN SINGKAT,” lanjut Evan. “DAN TIDAK AKAN BERSIH. KITA AKAN KEHILANGAN LEBIH BANYAK SEBELUM SEMUANYA SELESAI.”

Kalimat itu tidak ditutupi janji manis. “KALIAN YANG BERDIRI DI SINI, KALIAN BUKAN KORBAN LAGI.” tatapan hologram itu terasa menembus kerumunan. “KALIAN ADALAH GENERASI YANG AKAN MENENTUKAN APAKAH GALAKSI INI DIKUASAI OLEH KETAKUTAN ATAU OLEH PILIHAN.” Angin kembali berembus, pelan.

“SIAPKAN DIRI KALIAN,” ucap Evan Calder terakhir. “KITA BERGERAK MENUJU LYCORA.” hologram itu memudar. Tidak ada musik. Tidak ada sorakan heroik.

Hanya keheningan panjang sebelum perintah logistik mulai terdengar di pengeras suara. Holden berdiri tanpa bergerak.

lycora.

Nama itu terasa seperti titik pertemuan takdir. Di sanalah Vorn berkuasa. Di sanalah fondasi ketakutan dibangun, dan kini Astrael memilih untuk merebut kembali. Di antara ratusan orang di lapangan itu, Holden menyadari sesuatu. Ia tidak lagi sekadar ingin membalas, ia ingin berada di garis depan ketika dunia itu bertabrakan. Dan untuk pertama kalinya sejak malam langit merah itu ia tidak takut pada suara perang yang akan datang. Ia menunggunya.

Sebelum perintah akhir mobilisasi diumumkan, para Sentra Wardens tidak langsung menuju kapal.

Lihat selengkapnya