Namanya tidak pernah tercatat, di registrasi kota, ia hanya disebut: Unit Kerja 47-B. Di tambang energi bawah tanah Lycora, nama bukanlah sesuatu yang dibutuhkan.
Ia lahir dari keluarga yang bahagia sebelum varkhen datang. Ayahnya mati karena paparan radiasi. Ibunya dijual ke sektor lain ketika ia berusia delapan tahun. Ia pernah melihat langit Lycora secara utuh, hanya layar proyeksi di lorong distribusi makanan. Hari itu, layar itu berkedip.
Alarm berbunyi, bukan untuk budak, alarm untuk fasilitas produksi. “Prioritas perlindungan aset industri,” suara otomatis mengumumkan. Bukan warga.
Aset.
Unit 47-B sedang mendorong troli kontainer ketika getaran pertama terasa. Debu halus jatuh dari langit-langit beton, para penjaga Varkhen di atas platform logam melihat ke layar taktis. “Sektor orbit diserang.” salah satu dari mereka tertawa kecil.“Akhirnya.” bagi mereka, ini bukan tragedi.
Ini perhitungan.
Getaran kedua lebih keras, lampu padam sesaat. Beberapa budak terjatuh. Tidak ada yang menolong. Rantai magnetik di pergelangan kaki mereka masih aktif. “Kerja tetap jalan!” teriak penjaga. “Produksi tidak boleh berhenti!” di layar atas lorong, citra orbit ditampilkan.
Armada besar.
Cahaya biru.
Cahaya merah.
Unit 47-B menatapnya tanpa ekspresi. Ia pernah mendengar nama itu.
Astral Union.
Astrael.
Katanya mereka korban.
Katanya mereka melawan tirani.
Tapi sinar yang jatuh dari langit tidak memilih siapa yang tertindas. Ledakan besar mengguncang fasilitas. Kali ini bukan di orbit, sebuah proyektil menembus pertahanan atmosfer dan menghantam kompleks industri di atas tambang.
Langit-langit retak, batu dan logam runtuh. Teriakan terdengar dimana-mana, bukan dari penjaga. Dari budak, beberapa rantai magnetik gagal fungsi karena gangguan listrik. Seorang pria berusaha lari. Tiga langkah.
Tembakan. Tubuhnya jatuh tanpa suara panjang, “Properti tidak boleh hilang,” kata penjaga dingin. Properti, unit 47-B berdiri diam. Di atas sana, dua kekuatan galaksi sedang memutuskan masa depan. Di bawah sini, tidak ada yang bertanya apakah mereka ingin diselamatkan.
Siaran darurat Varkhen masuk ke seluruh fasilitas. “Lycora berada dalam ancaman invasi Astrael. Semua unit produksi tetap beroperasi demi stabilitas galaksi.”
Stabilitas, kata yang selalu berarti penderitaan bagi seseorang. Getaran berikutnya lebih parah, dinding samping runtuh. Lorong produksi terbuka memperlihatkan celah menuju permukaan, unit 47-B melihat langit asli Lycora. Bukan perak lembut, tapi merah dan biru yang saling membunuh.
Sebuah kapal terbakar jatuh seperti meteor, menghantam distrik kota jauh dari tambang. Gelombang kejut menyapu hingga ke dalam terowongan. Penjaga menerima transmisi lain. “Prioritas pertahanan dialihkan ke orbit. Zona industri sekunder tidak menjadi fokus.”
Artinya jelas, jika fasilitas ini runtuh, tidak ada evakuasi. Tidak ada penyelamatan. Tidak dari Varkhen, dan tentu saja tidak dari Astrael.
Bagi Astrael, ini penaklukan.
Bagi Varkhen, ini benteng.
Bagi budak
Ini hanya hari lain di mana mereka bisa mati tanpa pernah memiliki nama. Unit 47-B melihat rantai magnetiknya berkedip karena gangguan energi, untuk sepersekian detik, terkunci. Lalu mati. Ia menatap penjaga.
Penjaga sedang sibuk berteriak ke saluran komunikasi, tidak menyadari. Di atas sana, kapal-kapal raksasa saling menghancurkan demi ideologi, di bawah sini, seorang budak yang tidak pernah punya pilihan akhirnya memiliki satu.
Langit kembali berguncang, dan untuk pertama kalinya, ia berpikir: Mungkin tidak ada yang peduli pada Lycora, mungkin tidak pernah ada.
Langit kembali bergetar, debu jatuh seperti hujan abu dari langit-langit yang retak. Alarm fasilitas berubah nada lebih tinggi, lebih panik.
Unit 47-B berdiri di ambang lorong yang runtuh, menatap celah menuju permukaan, cahaya dari atas berkedip merah dan biru. Lalu suara yang berbeda terdengar. Bukan meriam orbital.
Lebih dekat.
Lebih tajam.
Ledakan beruntun menghantam kompleks industri di atas tambang. Struktur baja berderit panjang sebelum roboh sebagian. Penjaga Varkhen berlari ke platform pertahanan.
“ada unit darat Astrael terdeteksi!”
Untuk pertama kalinya, suara itu terdengar tidak yakin, unit 47-B bergerak perlahan ke arah celah. Tidak ada lagi rantai di pergelangan kakinya. Tidak ada lagi medan magnet yang menahannya.
Ia naik melalui puing-puing. Setiap langkah membawa bau logam terbakar dan bahan bakar yang menguap. Ketika ia mencapai permukaan, dunia telah berubah. Kendaraan tempur Varkhen terbakar di sepanjang jalur distribusi energi. Drone pertahanan berjatuhan seperti serangga mati.
Di langit rendah, kapal pendarat Astral Union melayang dengan suara mesin yang dalam dan stabil. Pintu sampingnya terbuka, dan pasukan bersenjata turun dalam formasi cepat.
Armor mereka berbeda dari Varkhen. Lebih terang. Warna merah menyala di sepanjang bahu dan helm. Mereka tidak berteriak. Mereka menembak.
Sinar energi biru menghantam menara pertahanan Varkhen. Perisai pelindung retak, lalu pecah. Ledakan mengguncang tanah di bawah kaki Unit 47-B, penjaga Varkhen membalas tembakan dari balik barikade baja.
Sinar merah dan biru saling memotong udara, beberapa tentara Astral Union jatuh, beberapa tentara Varkhen juga. Tidak ada yang bergerak untuk mengevakuasi tubuh.
Unit 47-B melihat seorang budak lain berlari keluar dari bangunan yang terbakar, tangannya terangkat, berteriak sesuatu yang tidak terdengar. Sinar biru melintas.
Tubuh itu terjatuh, bukan karena ia ancaman. Karena ia berada di jalur tembak. Pasukan Astral Union bahkan tidak menoleh.
Target mereka jelas: unit pertahanan, menara senjata, kendaraan lapis baja Varkhen. Apa pun yang bergerak di antaranya, risiko yang dapat diterima.
Sebuah tank ringan Varkhen mencoba mundur, roda magnetiknya rusak. Tiga tentara Astral Union maju dan menembakkan peluru plasma jarak dekat ke kokpitnya. Ledakan membelah kendaraan itu, gelombang panas menyapu jalan.
Unit 47-B terlempar ke tanah. Telinganya berdengung, di atasnya, langit Lycora terus menyala oleh perang di orbit. Di sekelilingnya, perang di darat sedang diputuskan meter demi meter.
Ia melihat seorang prajurit Astral Union berhenti sesaat, menatap kompleks industri yang masih berdiri setengah runtuh. “Area ini bukan prioritas,” terdengar suara melalui pengeras helm prajurit itu. “Fokus ke pusat kontrol energi.”
Bukan prioritas.
Unit 47-B menyadari sesuatu yang sederhana dan mengerikan: Varkhen tidak peduli jika mereka mati selama produksi berjalan.
Di antara dua kekuatan itu, tidak ada ruang untuk yang tak bersenjata. Sebuah kapal pendarat lain mendarat lebih jauh, menurunkan lebih banyak pasukan. Mereka bergerak maju seperti mesin, menghancurkan setiap unit Varkhen yang mencoba bertahan.
Kompleks industri mulai terbakar sepenuhnya, api memakan kabel energi, meledakkan generator satu per satu. Unit 47-B berdiri perlahan.
Tidak ada lagi penjaga yang mengawasinya, tidak ada lagi rantai. Hanya kota yang runtuh, di kejauhan, bendera Varkhen terbakar. Dan di sisi lain, lambang Astral Union berkibar di atas kendaraan lapis baja yang maju tanpa berhenti.
Langit Lycora tidak memilih siapa yang benar. hanya menyaksikan siapa yang tersisa. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, unit 47-B mengerti: Perang bukan tentang membebaskan, perang tentang mengganti siapa yang memegang kendali atas penderitaan. Ledakan berikutnya lebih dekat, bukan dari menara pertahanan, bukan dari kendaraan lapis baja.
Dari udara, sebuah kapal tempur Astral Union menukik rendah, melepaskan rentetan tembakan ke arah barisan artileri Varkhen yang dipasang di atas kompleks industri.
Tembakan itu meleset beberapa meter. Beberapa meter saja sudah cukup, dinding luar bangunan tempat para budak ditahan meledak. Beton dan baja beterbangan. Gelombang kejut menghantam tubuh Unit 47-B dan melemparkannya kembali ke dalam lorong yang setengah runtuh.
Jeritan memenuhi udara. Api menjalar cepat melalui kabel energi yang terputus. Generator cadangan meledak satu per satu, menciptakan rentetan dentuman yang membuat tanah seperti hendak terbelah.
Sinar merah Varkhen membalas secara brutal, menghantam posisi pendaratan Astral Union tapi salah satu proyektil menghantam menara distribusi yang terhubung langsung ke asrama budak.
Menara itu runtuh.
Atap bangunan retak panjang.
Unit 47-B merangkak di antara serpihan logam panas. Debu membuat napasnya terbakar. Di sekelilingnya, budak-budak lain terjebak di bawah reruntuhan. Tidak ada penjaga lagi, mereka sudah mundur ke garis pertahanan berikutnya.