ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #23

API YANG BELUM PADAM

Ruang komando Varkhen tidak pernah benar-benar sunyi. Mesin-mesin berat berdengung rendah seperti jantung raksasa yang tidak pernah berhenti berdetak. Dinding baja gelap dipenuhi peta taktis berwarna merah menyala, menampilkan sistem demi sistem yang masih berada di bawah kendali mereka. Tidak ada jendela besar menghadap planet damai. Tidak ada cahaya lembut. Hanya logam, bayangan, dan cahaya indikator yang berdenyut perlahan.

Vorn Killian berdiri di tengah ruang komando ketika alarm prioritas tinggi memotong ritme stabil itu. Suara notifikasi tajam terdengar satu kali, cukup untuk membuat seluruh ruangan terdiam.

“Transmisi darurat dari sektor Lycora,” lapor seorang perwira, suaranya tegang meski berusaha terkendali.

Peta galaksi berubah. Titik merah yang menandai Lycora berkedip beberapa kali, lalu perlahan berubah warna. Biru menyebar dari pusatnya seperti racun yang merayap, tidak sepenuhnya, beberapa kantong merah masih bertahan, tetapi Saint Peter telah jatuh.

Rekaman visual muncul di layar utama. Armada Astral Union memasuki orbit dalam formasi rapi. Kapal induk mereka. Leviathan. Melayang seperti bayangan raksasa di atas kota, ledakan di permukaan. Pertahanan runtuh satu demi satu. Lalu lambang biru itu muncul, diproyeksikan di atas ibu kota.

Vorn tidak bergerak. Wajahnya tetap keras, matanya tidak berkedip.

“Pusat komando Saint Peter telah direbut. Struktur kepemimpinan lokal dilumpuhkan. Armada kita terpaksa mundur ke sektor luar,” lanjut laporan itu, beberapa perwira di sekelilingnya menunduk. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu.

“berapa jumlah kerusakan armada kita?” tanya Vorn akhirnya, suaranya rendah dan tenang.

“Signifikan. Unit elit hancur dalam delapan jam pertama. Armada cadangan tidak sempat terkonsolidasi. Beberapa fasilitas tenaga kerja terputus sebelum evakuasi.”

Vorn memahami arti kalimat terakhir itu tanpa perlu penjelasan. Beberapa tempat memang tidak pernah menjadi prioritas ketika garis pertahanan runtuh. Dalam perang, selalu ada yang ditinggalkan.

Ia melangkah mendekati layar dan memperbesar citra Lycora. Dunia industri itu kini ternoda warna biru. Sebuah simpul penting dalam jaringan produksi Varkhen telah direbut. Lebih dari sekadar kerugian militer, ini adalah pukulan simbolik.

“Status Nexus Prime?” tanyanya.

Peta bergeser. Planet besar itu menyala merah terang, dikelilingi jalur armada yang mulai bergerak masuk. “Pertahanan diperkuat. Armada luar sedang ditarik untuk konsolidasi, sistem perisai dalam tahap peningkatan.”

Salah satu komandan akhirnya memberanikan diri. “Jenderal… apakah kita perlu mempertimbangkan negosiasi sementara untuk mengulur waktu?”

Ruangan terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Vorn menoleh perlahan ke arah suara itu. Tatapannya cukup untuk membuat perwira tersebut menelan kata-kata berikutnya.

“Negosiasi?” ulangnya pelan.

Ia kembali menatap peta galaksi. Lycora mungkin telah jatuh, tetapi perang belum selesai. Evan Calder tidak menyerang sekadar untuk merebut satu dunia. Ia sedang menguji batas. Mengukur respons. Mencari titik rapuh.

“Jika kita menunjukkan keraguan sekarang,” kata Vorn akhirnya, suaranya tetap terkendali, “sistem netral akan menjauh. Armada cadangan akan ragu. Dunia industri akan kehilangan kepercayaan.”

Ia memperbesar Nexus Prime hingga memenuhi layar. Kilang orbital, galangan kapal, dan jaringan pertahanan berlapis terlihat jelas, jantung sebenarnya dari kekuatan Varkhen.

“Kita tidak akan panik,” lanjutnya. “Kirim perintah ke seluruh sektor luar. Konsolidasikan armada di sekitar Nexus Prime. Aktifkan Protokol Perimeter Hitam.”

Beberapa wajah menunjukkan keterkejutan. Protokol itu berarti pengerahan penuh sumber daya dan kesiapan tempur maksimum.

“Itu akan menguras cadangan energi dan logistik,” kata seorang perwira hati-hati. “Lycora telah jatuh,” jawab Vorn tanpa meninggikan suara. “Kita tidak kehilangan dunia kedua.”

Perintah segera dikirim. Sinyal bergerak cepat melintasi sistem merah yang tersisa. Armada mulai berbalik arah. Jalur suplai diperketat. Pertahanan diperkuat.

Ruang komando kembali dipenuhi aktivitas, tetapi Vorn tetap berdiri diam di depan peta yang terus berubah.

Lycora kini biru.

Satu langkah untuk Astrael.

Satu luka bagi Varkhen.

Namun bukan akhir, ia menatap Nexus Prime lebih lama daripada yang lain. Dunia itu bukan sekadar benteng. Ia adalah simbol bahwa Varkhen masih berdiri.

“Biarkan mereka menikmati kemenangan mereka,” gumamnya pelan.

Cahaya merah memantul di wajahnya, membuat bayangan tampak lebih dalam.

“Jika mereka menginginkan pusat perang,” lanjutnya hampir tanpa suara, “maka di sanalah kita akan menentukan siapa yang benar-benar mampu bertahan.”

Di sisi galaksi yang berbeda, keputusan telah diambil. Dan api yang membakar perang itu,belum padam. Ruang komando perlahan kembali sibuk setelah perintah konsolidasi dikirim ke seluruh sektor. Jalur armada berubah arah menuju Nexus Prime, indikator pertahanan meningkat satu tingkat, dan laporan logistik terus mengalir tanpa jeda. Namun di tengah aktivitas itu, Vorn Killian justru tampak semakin diam.

Ia menatap Lycora yang kini menyala biru di antara wilayah merah yang tersisa. Dunia itu telah hilang. Simbol telah direbut. Tetapi perang belum diputuskan di sana.

Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan meninggalkan ruang komando utama. Koridor menuju inti dalam lebih sempit dan lebih sunyi. Lapisan baja di dindingnya lebih tebal, pencahayaan lebih redup. Penjaga elit berdiri tanpa ekspresi di setiap persimpangan. Identitas Vorn dikenali melalui pemindaian biometrik sebelum ia benar-benar berhenti di depan pintu terakhir.

Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan yang jauh lebih kecil dan jauh lebih rahasia.

Tidak ada staf.

Tidak ada peta publik.

Hanya satu proyeksi tiga dimensi yang menggantung di tengah ruangan, terbungkus medan energi transparan.

Nexus Prime.

Namun bukan versi yang dikenal oleh perwira-perwira biasa, lapisan pertahanannya terurai satu per satu. Struktur orbital. Jaringan meriam pertahanan. Lalu lapisan terdalam, di bawah permukaan planet, mulai terlihat.Jaringan reaktor tambahan.

Cincin energi yang tidak tercatat dalam arsip resmi, struktur geometris raksasa yang tertanam jauh di bawah kerak, di sisi tampilan, satu kode bersinar redup: Proyek Aeternum.

“Status,” ujar Vorn pelan. Sistem internal menjawab dengan suara yang lebih dalam dan tertutup daripada robot strategis umum. “Integrasi Proyek Aeternum telah mencapai delapan puluh dua persen. Sinkronisasi inti penuh diperkirakan siap dalam empat puluh satu hari.”

Lihat selengkapnya