ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #25

API DARI DALAM

Ruang itu tersembunyi jauh di bawah permukaan Nexus Prime, di bawah kompleks industri lama yang sudah lama ditinggalkan. Dindingnya dari beton gelap, lembap, dan dipenuhi retakan halus. Lampu-lampu redup menggantung di langit-langit rendah, cahayanya berkedip pelan seperti ikut ragu.

Empat perwira Varkhen duduk mengelilingi meja logam tanpa lambang. Tidak ada seragam upacara. Tidak ada simbol kehormatan, hanya pakaian taktis sederhana dan wajah-wajah yang terlalu tegang untuk disebut tenang.

Di tengah meja, proyeksi holografik kecil menampilkan satu nama yang berputar dalam data terenkripsi:

AETERNUM.

Komandan Reth Varos memecah keheningan lebih dulu, suaranya rendah, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Kalau ini diaktifkan sepenuhnya… bukan cuma armada Astrael yang hancur.” Tak ada yang langsung menanggapi, ia menggeser simulasi. Grafik merah membentang, menyapu permukaan planet dalam hitungan menit.

“Atmosfer bisa kolaps. Infrastruktur inti runtuh. Korban bukan ribuan. Jutaan.” Salah satu perwira menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengusap wajahnya pelan. “Kita sudah melewati batas sejak proyek ini disetujui.”

“Belum,” sahut yang lain pelan. “Belum sampai tombol itu ditekan.” Keheningan kembali turun. Di atas mereka, Nexus Prime masih berdiri megah sebagai pusat kekuasaan Varkhen. Armada bersiap. Propaganda terus berjalan. Rakyat diberi janji kemenangan.

Tapi di ruangan ini, kemenangan terasa seperti ilusi yang terlalu mahal. “Vorn yakin ini satu-satunya cara,” kata perwira wanita di ujung meja. “Tanpa Aeternum, kita tidak bisa menahan Astral Union.”

Varos menatap proyeksi itu tanpa berkedip. “Dan dengan Aeternum… mungkin tidak ada lagi yang tersisa untuk kita pertahankan.”

Tidak ada yang membantah. Perwira termuda di antara mereka akhirnya angkat bicara. Suaranya tidak setenang yang ia harapkan.

“Kita bisa menghubungi Astrael.”

Tiga pasang mata langsung menoleh padanya, ia menelan ludah, tapi melanjutkan. “Kalau mereka tahu lokasi fasilitas utama Aeternum, mungkin mereka akan menghentikan serangan total. Kita bisa jadikan itu alat tawar.”

“Alat tawar?” salah satu dari mereka mendengus pelan. “Kau menyebutnya tawar-menawar. Orang lain akan menyebutnya pengkhianatan.”

“Kalau Aeternum aktif,” jawabnya lebih pelan, “itu bukan lagi soal pengkhianatan. Itu soal bertahan hidup.”

Varos menatapnya lama.

“Dan kau pikir Astrael akan memperlakukan kita sebagai penyelamat?” tanyanya akhirnya.

“Tidak,” jawabnya jujur. “Tapi mungkin mereka akan memperlakukan kita sebagai sesuatu yang masih bisa digunakan.”

Ruangan kembali sunyi, lampu di atas mereka berkedip lagi, bayangan mereka memanjang di dinding seperti sosok yang saling mencurigai.

Perwira wanita itu menghela napas. “Kalau kita membelot, kita tidak cuma melawan Vorn. Kita melawan seluruh sistem. Seluruh sejarah Varkhen.”

“Sejarah tidak ada artinya kalau planet ini jadi abu,” kata Varos pelan. Ia memperbesar proyeksi simulasi terakhir.

Nexus Prime dalam warna merah, gelombang energi menyapu kota demi kota. Tidak ada garis militer. Tidak ada batas sipil. Hanya kehancuran.

“Kalian sadar,” lanjut Varos, suaranya hampir tak terdengar, “begitu ini aktif, mungkin bahkan kita sendiri tak bisa menghentikannya.”

Kalimat itu menggantung berat di udara. Di kejauhan, sirene uji coba pertahanan terdengar samar dari permukaan. Dunia di atas mereka masih bersiap untuk perang konvensional.

Sementara di ruangan bawah tanah ini, mereka sedang mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perang.

Perwira termuda itu akhirnya berbicara lagi, lebih lirih.

“Kalau kita diam… dan Aeternum dilepaskan… apa bedanya kita dengan musuh yang kita tuduh kejam?”

Tak ada yang langsung menjawab, karena mereka semua tahu jawabannya. Malam itu, tidak ada keputusan yang diambil. Tidak ada sumpah. Tidak ada rencana final, hanya empat perwira Varkhen yang untuk pertama kalinya merasa takut bukan pada Astral Union

Melainkan pada apa yang bangsanya sendiri siap lakukan, dua hari setelah pertemuan itu, mereka kembali ke tempat yang sama. Kali ini tanpa ragu-ragu yang terlalu lama.

Ruang bawah tanah itu terasa lebih sempit dari sebelumnya. Udara lebih berat. Seolah keputusan yang belum diambil dua malam lalu kini menuntut jawaban.

Varos datang terakhir. Ia menutup pintu baja secara manual, memastikan tidak ada sinyal aktif di sekitar mereka. Perangkat pengacau frekuensi dinyalakan. Tidak ada rekaman. Tidak ada transmisi.

Hanya mereka.

“Waktu kita habis,” kata perwira wanita itu pelan. “Uji coba tahap akhir Aeternum dipercepat. Tiga hari lagi.”

Kalimat itu mengubah suasana, perwira termuda itu menegakkan duduknya. “Artinya Vorn tidak lagi sekadar mengancam.” “Tidak,” jawab Varos. “Ia siap menggunakannya.” Proyeksi holografik menyala lagi di atas meja. Kali ini bukan simulasi kehancuran, melainkan peta komunikasi luar angkasa.

Rute terenkripsi menuju wilayah patroli Astral Union. “Kita tidak bisa langsung menghubungi komando pusat Astrael,” ujar Varos. “Terlalu berisiko. Tapi ada satu armada pengintai mereka di sektor perbatasan Eryndor.”

“Kita kirim pesan anonim?” tanya salah satu.

Lihat selengkapnya