Bau kertas terbakar dan bahan kimia pemadam api menusuk hidung Holden saat ia melangkah melewati pintu ganda besar Perpustakaan Pusat Lycora yang sudah miring. Bangunan megah bergaya neo-klasik itu kini hanya kerangka indah yang terluka. Beberapa jam yang lalu, unit Sentra Wardens membersihkan sisa-sisa infanteri Varkhen dari distrik ini, meninggalkan lobi yang kini sunyi, kecuali suara gemeretak api kecil yang masih melahap karpet di sudut ruangan.
Holden tidak datang ke sini untuk patroli rutin. Ia datang karena sebuah rasa penasaran yang sudah lama ia simpan sejak ia masih menjadi anak kecil di pengungsian Astrael, pertanyaan tentang kenapa semua ini terjadi.
Lampu helm tempurnya membelah kegelapan ruang referensi utama. Rak-rak kayu raksasa yang menampung ribuan datachip dan buku fisik langka telah runtuh, menumpuk seperti gunung puing. Ia berjalan menuju bagian terdalam, area arsip sejarah galaksi.
Di sana, di bawah tumpukan panel langit-langit yang jatuh, ia menemukan sebuah terminal data yang masih berkedip lemah dengan lampu darurat merah. Holden duduk di kursi yang tertutup debu, mengabaikan rasa dingin dari armor-nya yang terus berdengung. Jarinya yang terbalas sarung tangan taktis bergerak hati-hati di atas layar yang retak.
Layar itu menampilkan arsip tentang "Proyek Aegis".
Napas Holden tercekat. Ia teringat kata-kata Komandan Avren tentang ayahnya yang terlibat dalam proyek pertahanan lama ini. Ia mulai membaca baris demi baris teks digital yang muncul.
Selama ini, ia diberitahu bahwa Astrael dihancurkan karena agresi sepihak Varkhen. Namun, catatan sejarah Lycora ini menyimpan perspektif berbeda. Aegis Core, sumber energi yang kini diperebutkan, ternyata bukan sekadar sistem pertahanan pasif. Ribuan tahun lalu, Astral Union dan Varkhen pernah menjadi satu kesatuan sebelum sebuah pengkhianatan besar memecah mereka.
"Ayah..." bisiknya pelan. Di dalam arsip tersebut, terdapat nama ayahnya sebagai salah satu teknisi kunci yang mencoba mengunci fungsi penyerangan Aegis Core agar tidak bisa disalahgunakan oleh pemimpin mana pun. Ayahnya bukan sekadar prajurit; ia adalah orang yang mencoba mencegah senjata pemusnah massal ini jatuh ke tangan Vorn Killian, maupun ke tangan petinggi Astral Union yang haus kekuasaan.
Holden menyadari sesuatu yang pahit. Perang ini bukan hanya tentang dendamnya pada Varkhen karena membunuh ibunya. Ini adalah sisa dari konflik kuno yang tidak pernah selesai, di mana orang-orang kecil seperti dirinya dan keluarganya hanyalah bidak dalam papan catur raksasa yang disusun oleh orang-orang seperti Vorn Killian.
Suara reruntuhan jatuh di lantai atas mengejutkannya. Holden segera mematikan layar dan mencabut chip memori cadangan. Di luar, langit Lycora masih kelabu, dan armada Astral Union masih berjaga di orbit seperti predator yang menunggu mangsa berikutnya.
Ia keluar dari perpustakaan itu dengan beban baru di pundaknya. Ia telah menemukan sejarahnya, tetapi sejarah itu hanya memberitahunya satu hal: bahwa musuh sebenarnya mungkin jauh lebih besar daripada sekadar pasukan Varkhen yang ia hadapi di medan perang.
"Ini bukan akhir," gumam Holden sambil menatap lencana Sentra Wardens di bahunya. "Ini baru awal dari kebenaran yang lebih gelap."
Holden sudah berada di ambang pintu keluar ketika langkahnya tertahan. Sesuatu terasa tidak beres. Sebagai seorang Sentra Warden yang telah melewati modifikasi fisik berat, indranya bekerja jauh di atas manusia normal. Di tengah sunyinya perpustakaan Lycora yang meranggas, ia menangkap frekuensi rendah, sebuah dengung statis yang bukan berasal dari sisa-sisa mesin perang, melainkan dari bawah tanah.
Ia berbalik, masuk kembali ke dalam aula yang dipenuhi sisa abu kertas. Langkah berat bot militernya bergema saat ia mendekati sudut terjauh bangunan. Di balik rak-rak buku yang telah tumbang, Holden menemukan sebuah palka logam tersembunyi. Palka itu tidak memiliki engsel luar, hanya sebuah pemindai biometrik kuno yang sudah mati. Dengan satu sentakan tangan berototnya, Holden merobek paksa palka logam tersebut, menyingkap sebuah lorong vertikal sempit yang menuju ke kegelapan.
Ia menatap lubang itu dan mendengus rendah. "Sialan."
Efek samping dari Titan Serum yang menyatu dalam darahnya memang memberinya kekuatan luar biasa, namun juga mengubah fisiknya secara drastis. Tubuhnya kini setinggi dua meter dengan bahu yang sangat lebar dan otot-otot padat yang dilapisi armor zirah taktis. Lorong ini dibangun untuk manusia biasa dari masa lalu, bukan untuk monster perang seperti dirinya.