ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #28

FAJAR YANG TERBAKAR

Keheningan di ruang bawah tanah sektor barat Nexus Prime terasa lebih berat dari biasanya. Kelompok pengkhianat yang sebelumnya sepakat untuk menentang tirani Vorn Killian kini berada di persimpangan jalan yang mematikan. Pengkhianatan terhadap seorang diktator adalah satu hal, tetapi memutuskan kepada siapa mereka harus berpaling setelahnya adalah badai yang berbeda.

Perpecahan itu tidak bisa dielakkan lagi. Ketegangan yang memuncak sejak pertemuan rahasia mereka beberapa waktu lalu akhirnya memecah kelompok ini menjadi dua kubu dengan ideologi yang bertolak belakang.

Kelompok Pertama: Pelarian ke Astral Union Di bawah komando perwira menengah yang sudah muak dengan kehancuran Astrael, kelompok pertama memilih jalan membelot. Bagi mereka, Varkhen sudah melampaui batas kemanusiaan. Mereka membawa data-data penting mengenai koordinat logistik dan kelemahan taktis armada bayangan Varkhen, berharap Astral Union akan menerima mereka bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai aset.

Mereka percaya bahwa dengan bergabung bersama Evan Calder dan pasukannya, mereka bisa menebus dosa masa lalu. Namun, jauh di lubuk hati, ada ketakutan yang menghantui: apakah Union benar-benar lebih baik, atau mereka hanya akan menjadi pion baru dalam papan catur yang sama?

Kelompok Kedua: Sabotase AETERNUM Sementara itu, kelompok kedua yang dipimpin oleh Komandan Reth Varos memilih jalan yang lebih berbahaya. Mereka tidak mencari perlindungan ke pihak musuh; mereka memilih untuk menghancurkan monster itu dari dalam. Fokus utama mereka adalah satu: Proyek AETERNUM.

Dari informasi rahasia yang mereka peroleh, Aeternum bukan sekadar sistem pertahanan. Jaringan energi raksasa yang tertanam di bawah kerak Nexus Prime itu adalah mesin pemusnah masal yang mampu melumpuhkan seluruh armada Leviathan dalam satu gelombang pulsa energi. Varos tahu bahwa jika Aeternum diaktifkan, korbannya bukan lagi ribuan prajurit, melainkan jutaan warga sipil. Atmosfer Nexus Prime bisa kolaps, mengubah planet itu menjadi kuburan massal.

"Kita tidak membelot untuk menyelamatkan diri kita," bisik Varos di depan meja logam yang dingin. "Kita melakukannya untuk memastikan masih ada dunia yang tersisa untuk diperintah setelah perang ini usai".

Rencana sabotase mulai disusun di tengah keremangan lampu neon yang berkedip. Mereka menargetkan Sinkronisasi Inti Penuh yang diperkirakan siap dalam waktu dekat. Jika mereka bisa menginfiltrasi fasilitas bawah tanah Nexus Prime dan mengacaukan frekuensi energi sebelum mencapai kapasitas maksimum, Aeternum akan meledak di dalam, menghancurkan dirinya sendiri sebelum sempat menyentuh langit.

Risikonya mutlak. Jika mereka gagal, Vorn Killian tidak akan hanya mengeksekusi mereka; ia akan memastikan nama mereka dihapus dari sejarah sebagai penghianat paling hina di galaksi. Namun bagi Varos dan kelompoknya, menjadi abu di bawah reruntuhan Aeternum jauh lebih terhormat daripada hidup melihat seluruh galaksi tunduk di bawah ketakutan abadi.

Di atas mereka, badai elektromagnetik Varkhen terus menderu, tidak menyadari bahwa di kedalamannya, retakan kecil mulai menjalar menuju jantung kekuasaan Vorn Killian.

Langkah-langkah mereka di dalam koridor utama Proyek AETERNUM terasa seperti berjalan di atas kulit telur yang bisa pecah kapan saja. Suara dengung mesin dari AETERNUM yang sebelumnya hanya terdengar samar di permukaan, kini di sini, di jantung fasilitas, terasa seperti getaran yang merayap naik dari telapak sepatu bot hingga ke tulang belakang. Cahaya ungu dari Aegis Core yang telah dimodifikasi berpendar ritmis, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding logam.

"Sepuluh meter lagi menuju konsol pusat," Kael berbisik, keringat dingin membasahi pelipisnya di balik visor. "Varos, sensor gerak di depan asktif. Kita harus sinkron."

Varos mengangkat tangan, memberi aba-aba berhenti. Di depan mereka, serangkaian sinar laser pengaman berwarna merah tipis menyilang di udara, memotong lorong menjadi labirin mematikan. Ini adalah sistem keamanan terbaru Varkhen yang belum sempat masuk dalam peta intelijen mereka. Varos melirik jam tangannya; waktu mereka menipis. Jika fajar menyingsing, protokol pemanasan inti akan dimulai secara otomatis, dan sabotase akan menjadi mustahil.

"Gunakan alat pengacau optik," perintah Varos pendek. Seorang anggota tim lainnya mengeluarkan silinder kecil dan melemparkannya ke lantai. Asap tipis yang mengandung partikel reflektif menyebar, membuat jalur laser terlihat jelas bagi mata telanjang. Dengan kelincahan yang terlatih dari bertahun-tahun menjadi prajurit bayangan, mereka melewati rintangan itu satu per satu. Merayap, melompat, dan menahan napas agar suhu tubuh mereka tidak memicu sensor termal.

Begitu sampai di konsol pusat, Kael langsung menghubungkan kabel data sarafnya ke port utama AETERNUM. Matanya terbelalak saat melihat aliran data yang masuk. "Sial... Varos, ini bukan cuma pemusnah massal. Proyek ini terhubung langsung ke satelit-satelit pemancar di orbit luar. Vorn tidak hanya ingin menghancurkan satu planet; dia ingin menciptakan jaring energi yang bisa mengunci seluruh sistem bintang dalam satu kendali."

"Jangan pedulikan itu sekarang. Fokus pada feedback energi," tegas Varos sembari matanya terus memantau pintu masuk. "Buat seolah-olah ada kebocoran pada sistem pendingin plasma."

Jemari Kael bergerak secepat kilat di atas papan ketik virtual. "Memulai pengalihan aliran... Sekarang. Jika ini berhasil, saat mereka mencoba mengaktifkan inti besok pagi, energi itu tidak akan meluncur ke atmosfer, melainkan akan berputar balik dan membakar sirkuit internal mereka sendiri."

Namun, tiba-tiba sebuah suara statis pecah di komunikator mereka. Itu adalah peringatan dari kelompok pertama yang membelot ke Astral Union.

"Varos! Apakah kalian masih di dalam? Posisi kalian dalam bahaya! Patroli sayap kanan Vorn baru saja menemukan mayat penjaga yang kita lumpuhkan di gerbang luar. Mereka menuju ke arahmu!"

Suara sirene mulai meraung jauh di kejabangan lorong, memecah keheningan malam yang mereka jaga dengan susah payah. Lampu-lampu biru yang tenang berubah menjadi merah darah yang berkedip-kedip.

"Kael, berapa lama lagi?!" seru Varos, kini ia sudah mencabut pistol disruptornya.

"Tiga puluh detik! Jangan biarkan mereka mendekat ke konsol ini atau prosesnya akan terhenti!" jawab Kael panik, sementara bilah kemajuan di layarnya baru mencapai delapan puluh lima persen.

Varos berdiri memunggungi Kael, menghadap ke arah pintu besi raksasa yang mulai terbuka secara hidrolik. Di balik pintu itu, derap langkah pasukan heavy-infantry Varkhen terdengar semakin keras. Malam yang seharusnya menjadi operasi senyap kini berubah menjadi pertaruhan hidup dan mati di bawah bayang-bayang mesin kiamat AETERNUM. Mereka tidak punya jalan pulang; pilihannya hanyalah menghancurkan proyek ini atau mati sebagai catatan kaki dalam sejarah kegelapan Vorn Killian.

Lihat selengkapnya