Gema ledakan Proyek AETERNUM di permukaan Nexus Prime mungkin tidak terdengar hingga ke lapisan eksosfer, namun getaran politik dan militer yang dipicunya merambat lebih cepat dari kecepatan cahaya. Di tengah kekacauan yang melanda markas besar Varkhen, sebuah kapal pengangkut kelas ringan,Swift-Class yang biasanya digunakan untuk pengiriman logistik medis,meluncur menembus lapisan atmosfer dengan mesin yang dipaksa bekerja di luar batas aman.
Di dalam kokpit yang sempit dan diterangi lampu darurat berwarna amber, dua orang dari kelompok pengkhianat pertama, Kovak dan Liora, berjuang melawan gravitasi dan maut. Kovak, seorang mantan pilot tempur Varkhen yang membelot, mencengkeram tuas kendali dengan buku jari yang memutih. Di sampingnya, Liora terus menatap layar radar yang dipenuhi bintik-bintik merah statis.
"Satu menit lagi menuju batas orbit," geram Kovak, napasnya tersengal karena tekanan G-force yang menghimpit dada. "Kalau mesin pendorong ini tidak meledak, kita punya kesempatan."
Liora tidak menjawab dengan kata-kata. Jarinya menari di atas panel transmisi, mencoba mengirimkan kode identitas terenkripsi yang telah mereka curi dari arsip rahasia Vorn. "Kovak, sensor jarak jauh menangkap aktivitas di sektor empat. Mereka tidak mengejar kita dari bawah. Mereka sudah menunggu di atas."
"Siapa? Patroli orbit?"
"Bukan," suara Liora tercekat. "Itu kapal pencegat kelas Wraith. Vorn tidak mau mengambil risiko data itu keluar dari sistem ini."
Tiba-tiba, layar komunikasi mereka berkedip. Sebuah frekuensi militer berat masuk tanpa izin, memenuhi ruang kokpit dengan suara desis statis sebelum berubah menjadi suara dingin yang tenang. "Kapal logistik 7-Alpha, ini adalah Komando Orbit Varkhen. Anda menyimpang dari rute yang dijadwalkan. Matikan mesin pendorong Anda sekarang, atau kami akan menetapkan Anda sebagai target."
Kovak melirik Liora. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. "Liora, sudah dapat jawaban dari frekuensi Astral Union?"
"Belum! Hanya kebisingan statis. Mungkin ledakan AETERNUM tadi mengacaukan transmisi di seluruh sektor ini."
"Sialan," umpat Kovak. Ia mematikan pembatas keamanan mesin. Getaran kapal semakin hebat, suara logam yang berderit seolah-olah kapal itu akan hancur berkeping-keping. "Pegangan yang kuat. Aku akan melakukan lompatan buta jika perlu."
"Kovak, lihat!" Liora menunjuk ke luar jendela kokpit.
Di tengah kegelapan ruang angkasa, tiga titik cahaya biru muncul entah dari mana. Itu bukan Varkhen. Pola mesinnya terlalu halus, bentuk sayapnya terlalu aerodinamis.
"Itu... Astral union?" bisik Liora dengan harapan yang bercampur ketakutan.
"Kapal tak dikenal," sebuah suara baru muncul di radio, kali ini dengan aksen yang berbeda, lebih tajam, lebih kaku. Itu adalah kanal Astral Union. "Anda memasuki wilayah sengketa dengan kecepatan tempur. Identifikasi diri Anda atau kami akan melepaskan tembakan peringatan."
Kovak menekan tombol transmisi dengan tangan gemetar. "Ini Komandan Sektor Kovak dari... dari faksi perlawanan Varkhen. Kami membawa intelijen strategis mengenai Proyek AETERNUM dan Aegis Core. Kami meminta perlindungan suaka politik!"
Hening sejenak. Di luar, kapal-kapal Union dan pencegat Varkhen mulai bermanuver, saling mengunci target. Kovak dan Liora terjebak di tengah-tengah dua raksasa yang siap bertempur, hanya sebuah titik kecil yang membawa rahasia yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan mereka semua.
"Liora," bisik Kovak sambil menatap moncong meriam kapal Union yang mengarah tepat ke arah mereka. "Menurutmu, apa mereka akan percaya pada monster seperti kita?"
Liora memegang unit penyimpan data yang hangat di tangannya. "Mereka tidak perlu percaya pada kita. Mereka hanya perlu membenci Vorn Killian lebih dari mereka membenci kita."
Di orbit Nexus Prime yang sunyi, fajar yang baru bukan membawa kedamaian, melainkan ketegangan baru yang siap meledak kapan saja. Dua pengkhianat itu kini hanya bisa menunggu, apakah mereka akan disambut sebagai pahlawan yang membawa kunci kemenangan, atau dieksekusi sebagai pion yang tak lagi berguna.
"Kovak! Mereka mengunci kita!" teriak Liora. Layar radar di depannya berkedip merah terang, menunjukkan tiga rudal pelacak yang meluncur secepat kilat dari kapal Wraith Varkhen.
Kovak menggeram, tangannya menarik tuas manuver hingga kapal mereka miring tajam. "Lepaskan suar pengacau! Sekarang!"
Liora menekan tombol pertahanan. Serangkaian cahaya pijar keluar dari belakang kapal, meledak di ruang hampa untuk mengecoh rudal musuh. Dua rudal menghantam suar tersebut, menciptakan ledakan bola api di belakang mereka, namun rudal ketiga berhasil lolos dan meledak cukup dekat untuk menggetarkan lambung kapal.
"Perisai belakang turun jadi sepuluh persen! Kita tidak akan selamat dari hantaman berikutnya!" Liora berteriak di tengah suara alarm yang memekakkan telinga.
"Tahan napasmu, Liora! Kita akan melakukan loncatan paksa!" Kovak mengarahkan hidung kapal tepat ke arah struktur cincin raksasa di depan mereka. Gerbang Teleportasi.
Di belakang mereka, kapal-kapal pengejar Varkhen tidak melambat. Mereka melepaskan tembakan meriam utama secara bersamaan. Cahaya plasma hijau raksasa meluncur, membakar kegelapan ruang angkasa, hampir menjangkau ekor kapal Swift-Class tersebut.
"Koordinat teleportasi belum stabil!" Liora memprotes panik saat jemarinya mencoba memasukkan urutan kode Override ke sistem gerbang. "Jika kita masuk sekarang tanpa sinkronisasi, atom kita bisa terurai!"
"Tidak ada waktu untuk stabilitas!" Kovak mendorong tuas akselerasi hingga mentok ke depan. "Vorn lebih menakutkan daripada terurai jadi atom! Masuk!"
Kapal mereka melonjak maju, menembus cakrawala energi biru yang berputar di tengah gerbang. Tepat saat meriam plasma musuh menghantam bibir gerbang, kapal itu tertelan masuk ke dalam lubang cacing.
Dalam sekejap, dunia di luar jendela mereka memanjang dan membiaskan cahaya menjadi spektrum yang tak masuk akal. Tubuh mereka terasa seolah ditarik ke sejuta arah berbeda, sensasi mual luar biasa dari teleportasi paksa yang tidak sinkron. Suara logam kapal yang berderit karena tekanan dimensi terdengar seperti jeritan manusia.
Lalu, secara tiba-tiba, semuanya menjadi sunyi. Kapal mereka terhempas keluar di ruang angkasa yang asing, sepi, gelap, dan sangat dingin. Mesin kapal mati total, hanya menyisakan suara desis oksigen darurat dan detak jantung mereka yang liar.
"Kita... kita masih utuh?" Liora berbisik, meraba wajahnya sendiri untuk memastikan ia tidak terurai.
Namun, keheningan itu segera pecah oleh bayangan raksasa yang perlahan menutupi jendela kokpit. Bukan kapal Varkhen yang muncul, melainkan sebuah kapal induk raksasa dengan lambang sayap perak yang sangat dikenal: Astral Union.
Layar komunikasi mereka berkedip. Sebuah frekuensi militer berat masuk tanpa izin, memenuhi ruang kokpit dengan suara yang tajam dan berwibawa.
"Kapal tak dikenal," suara itu muncul, dingin dan waspada. "Anda memasuki wilayah kedaulatan Astral Union melalui gerbang ilegal dengan kapal curian Varkhen. Identifikasi diri Anda sekarang atau kami akan menghancurkan Anda sebelum Anda sempat mengirim transmisi berikutnya."
Kovak menatap moncong meriam raksasa kapal induk itu yang sudah mengarah tepat ke hidung kapal mereka. Ia menelan ludah, lalu menekan tombol bicara dengan tangan gemetar.
"Ini Komandan Sektor Kovak... kami membawa data yang akan mengakhiri perang ini. Kami meminta perlindungan suaka."
Di orbit yang sunyi itu, nasib mereka kini bergantung pada apakah musuh lama mereka akan menekan pelatuk atau memberikan kesempatan untuk bicara.
***
Di pusat komando Astral Union yang terletak di jantung Astrael, suasananya sangat kontras dengan kehampaan ruang angkasa. Ruangan itu hanya diterangi oleh pendar biru dari ribuan layar hologram yang melayang, menampilkan aliran data tak berujung dan peta bintang yang berdenyut. Di tengah ruangan, Evan Calder berdiri tegak dengan tangan terlipat di belakang punggung. Matanya yang tajam tidak sedetik pun beralih dari layar pemantau jarak jauh yang diarahkan ke sistem Nexus Prime.
Sudah berjam-jam ia berdiri di sana, memonitor setiap riak energi dari planet musuh. Baginya, keheningan Varkhen jauh lebih berbahaya daripada ancaman terbuka.
"Lapor, Komandan," suara seorang operator memecah keheningan yang kaku. "Sensor termal jarak jauh menangkap anomali besar di Lycora. Terjadi lonjakan energi masif di koordinat fasilitas militer utama Varkhen. Sepertinya... sebuah ledakan internal."