ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #30

SISA-SISA PERLAWANAN

Langit nexus prime masih membara oleh sisa-sisa ledakan AETERNUM, namun bagi mereka yang merangkak di bawah bayang-bayang reruntuhan, cahaya itu adalah lonceng kematian. Bau belerang dan logam terbakar menyesakkan paru-paru, sementara suara sirine darurat Varkhen melolong membelah malam, memburu siapa saja yang berani menusuk sang diktator dari belakang.

Komandan Reth Varos dan Kael tersudut di sebuah lorong buntu di pinggiran Sektor Industri bawah. Napas mereka tersengal, seragam mereka compang-camping tertutup debu beton dan oli. Di depan mereka, pintu baja yang menjadi satu-satunya jalan keluar telah diledakkan dari sisi luar.

Derap langkah kaki yang berat dan teratur mendekat. Itu bukan langkah prajurit biasa. Itu adalah derap kematian yang dingin.

"Varos, kita tidak punya ruang lagi," bisik Kael sambil memeriksa magasin senjatanya. Kosong. Ia melemparkan senjata itu ke lantai dengan putus asa.

"Setidaknya kita membuat mereka berdarah, Kael," jawab Varos, suaranya parau namun tetap tegap. Ia berdiri di depan Kael, menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya.

Cahaya lampu sorot dari drone pengintai tiba-tiba menyapu mereka, membutakan mata sesaat. Tak lama kemudian, barisan prajurit infanteri berat Varkhen muncul, membentuk barikade dengan tameng energi yang berpendar merah. Di tengah barisan itu, sebuah sosok muncul. Bukan Vorn Killian, melainkan Gorgon Killian.

Gorgon berjalan dengan langkah tenang, matanya yang dingin menatap Varos seolah melihat seekor serangga yang terjepit di bawah sepatu boot-nya. Ia memegang sebuah belati plasma yang belum diaktifkan.

"Komandan Varos," suara Gorgon bergema rendah. "Ayahku mengharapkan pengabdian abadi, tapi anda memberinya api. Kau tahu betapa dia membenci hadiah yang tidak sesuai permintaannya?"

Varos meludah ke samping, menatap langsung ke mata putra sang diktator. "Vorn bukan Tuhan, Gorgon. Dia hanya pria tua yang ketakutan di atas takhta yang dibangun dari mayat. Ledakan tadi adalah pesan bahwa takhtanya mulai retak."

Gorgon tidak terpancing. Ia memberi isyarat kecil dengan tangannya. Dua prajurit maju dan menghantam perut Varos dengan popor senjata, memaksa sang komandan berlutut di atas tanah berbatu.

"Pesanmu sudah sampai," ujar Gorgon sambil berjongkok di depan Varos, mencengkeram rahangnya dengan tangan berlapis baja. "Tapi sekarang, anda akan menjadi pesan bagi yang lain. Tentang apa yang terjadi pada mereka yang mencoba mematikan cahaya Varkhen."

Kael mencoba menerjang maju, namun sebuah tembakan kejut listrik dari drone pengintai langsung melumpuhkannya, membuatnya kejang di atas tanah.

"Bawa mereka," perintah Gorgon dingin saat ia berdiri kembali. "Siapkan ruang interogasi di Menara Pusat. Aku ingin mereka tetap hidup sampai mereka memohon untuk mati. Aku perlu tahu ke mana kelompok pertama itu pergi."

Varos diseret dengan kasar, kakinya menggores tanah nexus prime yang hangus. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, ia mendongak ke arah langit, melihat sebuah titik cahaya yang bergerak cepat meninggalkan orbit. Ia tersenyum tipis di tengah rintihannya.

Berhasil, pikirnya. Kovak dan Liora sudah lolos.

Malam itu, di bawah pengawasan ketat Gorgon Killian, sisa-sisa perlawanan di nexus prime telah dipadamkan secara fisik, namun api yang mereka nyalakan di jantung Proyek AETERNUM telah menjadi bara yang kini mulai membakar ketenangan Vorn Killian. Di tengah kegelapan sel tahanan yang menanti, Varos tahu bahwa babak terakhir perang ini bukan lagi soal bertahan hidup, melainkan soal seberapa besar kehancuran yang bisa mereka timbulkan sebelum ajal menjemput.

Ruang interogasi di puncak Menara Pusat Varkhen adalah sebuah kotak beton tanpa jendela yang hanya diterangi oleh lampu pendar tunggal yang berkedip di atas meja logam. Bau amis darah segar bercampur dengan aroma tajam bahan kimia antiseptik. Di sana, Komandan Varos dan Kael dirantai pada kursi besi dengan pergelangan tangan yang terkunci magnetik.

Vorn Killian berdiri di sudut ruangan yang gelap, bayangannya memanjang hingga menyentuh kaki Varos. Ia tidak menyentuh senjata apa pun. Ia hanya berdiri diam, memegang segelas cairan kebiruan, menatap kedua pria itu seolah-olah mereka adalah subjek eksperimen yang gagal.

"Kau tahu, Varos," suara Vorn tenang, nyaris seperti bisikan seorang ayah yang kecewa. "Kesetiaan adalah fondasi dari setiap kekaisaran. Tanpanya, kita hanyalah sekumpulan hewan yang saling cakar. Dan kau... kau baru saja merobek fondasi itu."

Vorn memberikan isyarat kecil dengan dagunya kepada dua algojo di sampingnya.

Tanpa peringatan, salah satu algojo menghantamkan tongkat listrik ke tulang rusuk Varos. Suara debuman daging yang bertemu logam bergema, diikuti oleh jeritan tertahan yang keluar dari tenggorokan Varos yang kering. Kael mencoba berontak, namun hantaman popor senapan ke wajahnya membuatnya tersungkur bersama kursi besinya.

Lihat selengkapnya