Di puncak Menara Pusat yang dingin, jauh di atas jeritan rakyat Nexus prime
yang tertindas, Vorn Killian berdiri mematung di balik jendela kaca antipeluru yang
luas. Cahaya dari anomali atmosfer Astrael yang mulai memerah memantul di
kepalanya yang pelontos, menciptakan siluet yang menyeramkan, seperti dewa
perang kuno yang sedang menatap kehancuran ciptaannya.
Di belakangnya, meja holografik raksasa memproyeksikan dua bola dunia yang
berputar lambat: Astrael yang biru kehijauan dan Lycora yang kelabu tertutup
polusi industri. Di antara keduanya, ribuan titik merah kecil, armada Varkhen,
bergerak dengan presisi yang mematikan.
"Gorgon," suara Vorn memecah kesunyian, rendah dan bergetar dengan otoritas
yang tak terbantahkan.
Putranya, Gorgon Killian, melangkah maju dari kegelapan sudut ruangan.
Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan emosi sedikit pun saat ia melihat
ayahnya. "Semua unit telah berada di posisi, Ayah. Feyd telah memberikan semua
yang kita butuhkan. Evan Calder sekarang sedang menari di atas telapak tangan
kita."
Vorn berbalik perlahan, seringai tipis yang bengis tersungging di bibirnya. "Evan
mengira dia bisa membagi fokus kita. Dia mengira dengan menyerang Lycora, dia
bisa menyelamatkan Astrael. Dia masih bertempur dengan nurani, dan itulah
lubang jarum yang akan menghancurkannya. Aktifkan Operasi Two-Headed
Dragon."
Vorn menyentuh proyeksi hologram tersebut. Seketika, proyeksi itu berubah
warna menjadi ungu pekat, membagi armada Varkhen menjadi dua taring raksasa.
"Kepala pertama: The Sky Strangler," ujar Vorn, menunjuk ke arah orbit Astrael.
"Gunakan frekuensi resonansi yang kita curi dari memori Kael. Jangan hanya
menyerang pertahanan orbit mereka. Gunakan satelit AETERNUM untuk memicu
Atmospheric Collapse secara prematur. Aku ingin rakyat Astrael merasakan paru-paru mereka terbakar sebelum rudal kita menyentuh tanah. Biarkan Laksamana
Sarah sibuk memadamkan api di langit sementara kita mencekik planetnya dari
dalam."
Gorgon mengangguk, matanya berkilat. "Dan kepala kedua?" Vorn mengalihkan
pandangannya ke proyeksi Lycora, tepat di titik di mana barisan prajurit Astral
Union sedang berkumpul. "Kepala kedua: The Iron Maw. Evan akan mengirimkan
Holden Arka dan unit Titan-nya ke sini, ke rumah kita. Biarkan mereka masuk.
Biarkan mereka merasa seolah-olah mereka sedang memenangkan pertempuran di
jalanan Lycora. Saat mereka mencapai zona pembantaian di bawah Menara Pusat,
aktifkan ranjau termobaric di seluruh sektor industri."
Vorn berjalan mendekati hologram Lycora, seolah ingin meremas planet itu
dalam genggamannya.
"Kita tidak akan hanya membunuh mereka, Gorgon. Kita akan menjadikan
Lycora sebagai kuburan masal bagi harapan Union. Saat Evan menyalakan Aegis
Core-nya yang tidak stabil itu untuk menyelamatkan atmosfer Astrael, sinyal itu
akan menjadi suar bagi armada bayangan kita untuk melakukan lompatan warp
langsung ke titik koordinat intinya. Kita akan mencuri jantung mereka saat mereka
mencoba bernapas."
"Langkah yang berisiko, Ayah. Lycora bisa hancur total," sela Gorgon datar. Vorn
tertawa pelan, sebuah suara kering yang tidak mengandung kehangatan. "Lycora
hanyalah tumpukan besi dan debu. Jika aku harus meratakan planet ini menjadi
abu hanya untuk memastikan Evan Calder berlutut di hadapan jasad dunianya,