ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #32

TITAH SANG DIKTATOR

Di puncak Menara Pusat yang dingin, jauh di atas jeritan rakyat Nexus prime

yang tertindas, Vorn Killian berdiri mematung di balik jendela kaca antipeluru yang

luas. Cahaya dari anomali atmosfer Astrael yang mulai memerah memantul di

kepalanya yang pelontos, menciptakan siluet yang menyeramkan, seperti dewa

perang kuno yang sedang menatap kehancuran ciptaannya.

Di belakangnya, meja holografik raksasa memproyeksikan dua bola dunia yang

berputar lambat: Astrael yang biru kehijauan dan Lycora yang kelabu tertutup

polusi industri. Di antara keduanya, ribuan titik merah kecil, armada Varkhen,

bergerak dengan presisi yang mematikan.

"Gorgon," suara Vorn memecah kesunyian, rendah dan bergetar dengan otoritas

yang tak terbantahkan.

Putranya, Gorgon Killian, melangkah maju dari kegelapan sudut ruangan.

Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan emosi sedikit pun saat ia melihat

ayahnya. "Semua unit telah berada di posisi, Ayah. Feyd telah memberikan semua

yang kita butuhkan. Evan Calder sekarang sedang menari di atas telapak tangan

kita."

Vorn berbalik perlahan, seringai tipis yang bengis tersungging di bibirnya. "Evan

mengira dia bisa membagi fokus kita. Dia mengira dengan menyerang Lycora, dia

bisa menyelamatkan Astrael. Dia masih bertempur dengan nurani, dan itulah

lubang jarum yang akan menghancurkannya. Aktifkan Operasi Two-Headed

Dragon."

Vorn menyentuh proyeksi hologram tersebut. Seketika, proyeksi itu berubah

warna menjadi ungu pekat, membagi armada Varkhen menjadi dua taring raksasa.

"Kepala pertama: The Sky Strangler," ujar Vorn, menunjuk ke arah orbit Astrael.

"Gunakan frekuensi resonansi yang kita curi dari memori Kael. Jangan hanya

menyerang pertahanan orbit mereka. Gunakan satelit AETERNUM untuk memicu

Atmospheric Collapse secara prematur. Aku ingin rakyat Astrael merasakan paru-paru mereka terbakar sebelum rudal kita menyentuh tanah. Biarkan Laksamana

Sarah sibuk memadamkan api di langit sementara kita mencekik planetnya dari

dalam."

Gorgon mengangguk, matanya berkilat. "Dan kepala kedua?" Vorn mengalihkan

pandangannya ke proyeksi Lycora, tepat di titik di mana barisan prajurit Astral

Union sedang berkumpul. "Kepala kedua: The Iron Maw. Evan akan mengirimkan

Holden Arka dan unit Titan-nya ke sini, ke rumah kita. Biarkan mereka masuk.

Biarkan mereka merasa seolah-olah mereka sedang memenangkan pertempuran di

jalanan Lycora. Saat mereka mencapai zona pembantaian di bawah Menara Pusat,

aktifkan ranjau termobaric di seluruh sektor industri."

Vorn berjalan mendekati hologram Lycora, seolah ingin meremas planet itu

dalam genggamannya.

"Kita tidak akan hanya membunuh mereka, Gorgon. Kita akan menjadikan

Lycora sebagai kuburan masal bagi harapan Union. Saat Evan menyalakan Aegis

Core-nya yang tidak stabil itu untuk menyelamatkan atmosfer Astrael, sinyal itu

akan menjadi suar bagi armada bayangan kita untuk melakukan lompatan warp

langsung ke titik koordinat intinya. Kita akan mencuri jantung mereka saat mereka

mencoba bernapas."

"Langkah yang berisiko, Ayah. Lycora bisa hancur total," sela Gorgon datar. Vorn

tertawa pelan, sebuah suara kering yang tidak mengandung kehangatan. "Lycora

hanyalah tumpukan besi dan debu. Jika aku harus meratakan planet ini menjadi

abu hanya untuk memastikan Evan Calder berlutut di hadapan jasad dunianya,

Lihat selengkapnya