ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #33

PESAN DARI DIKTATOR

Sudah tiga hari berlalu sejak Kapal Induk Leviathan menampung para pembelot,

namun atmosfer di dalam kapal tidak pernah sedetik pun terasa tenang. Evan

Calder berdiri di anjungan utama, menatap hamparan bintang yang membentang

di luar jendela transparansi tinggi. Di bawah sana, Astrael tampak tenang, sebuah

kelereng biru yang tidak menyadari bahwa atmosfernya sedang berada di ambang

kehancuran.

"Komandan," suara operator komunikasi terdengar gemetar, memecah kesunyian

yang mencekam. "Kami menerima transmisi jalur lebar dari sistem Nexus Prime.

Enkripsi tingkat tinggi, frekuensi... frekuensi pribadi Vorn Killian."

Evan berbalik pelan, wajahnya kaku seperti pahatan batu. "Buka di layar utama.

Isolasi semua jalur keluar agar tidak terjadi kebocoran data."

Layar hologram raksasa di tengah anjungan berkedip-kedip sebelum

menampilkan gambar yang akan menghantui setiap awak kapal yang melihatnya.

Kamera bergerak lambat, memperlihatkan alun-alun utama Lycora yang sunyi dan

kelam. Di sana, tergantung di gerbang baja yang dingin, adalah jasad Reth Varos

yang hancur bersimbah darah. Dan di sampingnya, pemandangan yang jauh lebih

mengerikan: tubuh Feyd yang dirantai dengan kepala yang terpisah, diletakkan di

dalam kotak kaca transparan tepat di atas bahunya sendiri, seolah-olah Vorn ingin

memastikan mata mati itu tetap mengawasi dunia yang dikhianatinya.

Lalu, sosok Vorn Killian muncul di layar. Kepalanya yang pelontos mengilat di

bawah lampu ruang komando yang redup, memberikan kesan pria itu lebih mirip

sebuah mesin perang tanpa jiwa daripada manusia. Ia duduk dengan ketenangan

yang tidak wajar, menatap lurus ke kamera seolah ia sedang menembus ruang

hampa jutaan mil jauhnya dan mencengkeram langsung jantung Evan.

"Evan Calder," suara Vorn terdengar jernih, membawa nada kemenangan yang

dingin dan sangat mencekam. "Kau selalu bangga dengan moralitasmu yang rapuh,dengan caramu merangkul mereka yang 'tersesat'. Lihatlah hasil dari belas

kasihanmu yang tidak berguna itu."

Vorn memberi isyarat ke arah jasad-jasad di belakangnya dengan gerakan tangan

yang sangat lambat, hampir seperti sebuah upacara kematian.

"Mereka mati karena mereka percaya pada janji-janjimu yang kosong. Mereka

mati karena kau memberi mereka harapan palsu bahwa ada tempat bagi

pengkhianat di galaksi yang aku kuasai. Sekarang, Lycora telah sepenuhnya bersih

dari 'hama' internal. Dan kau harus tahu, Evan... Feyd adalah pemuda yang sangat

kooperatif di saat-saat terakhirnya. Ia memohon ampunan, namun pedangku lebih

cepat memisahkan suaranya dari tubuhnya."

Vorn condong ke depan, wajahnya yang pucat dan pelontos tampak memenuhi

seluruh layar, memberikan intimidasi yang luar biasa.

"Aku tahu tentang Aegis Core milikmu, Evan. Aku tahu setiap inci rencana

resonansi terbalik yang sedang kau susun bersama tikus-tikus pelarianku. Silakan,

nyalakan intimu. Biarkan jantung Astrael berdenyut untuk terakhir kalinya.

Tunjukkan padaku di mana kalian bersembunyi, dan aku akan memastikan bahwa

cahaya terakhir yang dilihat rakyatmu adalah api yang menghanguskan langit

mereka hingga mereka memohon untuk mati secepat Kael."

Layar itu mendadak mati, menyisakan keheningan yang menyesakkan dan

dingin di anjungan Leviathan. Evan mengepalkan tangannya di balik punggung

hingga kuku-kukunya memutih dan buku jarinya bergetar. Pesan itu bukan sekadar

ancaman; itu adalah teror yang dirancang untuk melumpuhkan keberanian

mereka.

"Komandan..." bisik asistennya dengan wajah sepucat mayat. "Apa perintah

Anda?"

Evan menatap koordinat Lycora di peta bintang yang berkedip merah. "Vorn

pikir dia bisa menghentikan kita dengan tontonan menjijikkan ini. Dia pikir

kematian Varos dan Feyd akan membuat kita mundur ketakutan."

Evan berbalik, matanya berkilat dengan amarah yang murni, dingin, dan

mematikan. "Perintahkan tim intelijen untuk memblokir rekaman ini dari jaringanpublik, tapi kirimkan ke seluruh unit Sentra Wardens. Biarkan mereka melihat

monster yang kita hadapi. Biarkan kemarahan mereka menjadi bahan bakar mesin

perang kita."

Keheningan di dalam ruang rapat strategis Leviathan terasa begitu menekan

setelah transmisi Vorn Killian terputus. Evan Calder masih berdiri mematung di

depan layar hologram yang kini hanya menampilkan statis abu-abu, namun

rahangnya yang mengatup rapat menunjukkan badai amarah yang sedang ia tahan.

Ia tidak membuang waktu. Dengan satu gerakan tangan, ia mengaktifkan

protokol panggilan darurat tingkat tertinggi.

"Panggil seluruh anggota Dewan Tertinggi dan para Panglima Divisi. Sekarang,"

perintah Evan kepada sistem AI kapal. "Tidak ada pengecualian. Bahkan jika

mereka sedang di tengah pertempuran, sambungkan mereka ke ruangan ini."

Dalam hitungan detik, proyeksi hologram dari Jenderal Kaelen, Laksamana

Sarah, dan beberapa petinggi Union lainnya muncul mengelilingi meja bundar.

Wajah-wajah mereka tampak pucat; mereka juga baru saja menerima cuplikan

pesan mengerikan yang disiarkan Vorn ke seluruh jalur frekuensi militer.

"Evan, apa yang sebenarnya terjadi di Lycora?" suara Jenderal Kaelen terdengar

bergetar. "Benarkah mereka adalah informan kita?"

"Mereka adalah orang-orang yang mencoba menghentikan kiamat ini, Jenderal,"

jawab Evan dengan suara rendah namun tajam. "Vorn telah mengubah mereka

menjadi monumen ketakutan. Tapi dia melakukan kesalahan besar. Dia pikir

dengan memperlihatkan jasad Varos dan Kael, kita akan lumpuh. Sebaliknya, dia

baru saja memberikan alasan bagi setiap prajurit kita untuk tidak lagi mengenal

kata ampun."

Evan menekan panel kontrol, memunculkan peta taktis yang membagi fokus

pada dua titik panas: Astrael dan Lycora.

"Dengarkan instruksiku," ujar Evan, matanya menatap tajam ke arah para

petinggi. "Vorn sudah tahu tentang rencana resonansi kita. Dia sedang menunggu

kita untuk mengekspos Aegis Core. Karena itu, mulai detik ini, seluruh pasukan

Astral Union dalam status Waspada Level Merah di pos masing-masing."Ia menunjuk ke arah proyeksi Astrael. "Laksamana Sarah, perkuat barisan

pertahanan orbit. Jangan biarkan satu pun serpihan logam Varkhen menembus

atmosfer kita. Jika mereka menyerang, tahan mereka di gerbang langit. Jangan

mundur satu inci pun."

Lihat selengkapnya