Sudah tiga hari berlalu sejak Kapal Induk Leviathan menampung para pembelot,
namun atmosfer di dalam kapal tidak pernah sedetik pun terasa tenang. Evan
Calder berdiri di anjungan utama, menatap hamparan bintang yang membentang
di luar jendela transparansi tinggi. Di bawah sana, Astrael tampak tenang, sebuah
kelereng biru yang tidak menyadari bahwa atmosfernya sedang berada di ambang
kehancuran.
"Komandan," suara operator komunikasi terdengar gemetar, memecah kesunyian
yang mencekam. "Kami menerima transmisi jalur lebar dari sistem Nexus Prime.
Enkripsi tingkat tinggi, frekuensi... frekuensi pribadi Vorn Killian."
Evan berbalik pelan, wajahnya kaku seperti pahatan batu. "Buka di layar utama.
Isolasi semua jalur keluar agar tidak terjadi kebocoran data."
Layar hologram raksasa di tengah anjungan berkedip-kedip sebelum
menampilkan gambar yang akan menghantui setiap awak kapal yang melihatnya.
Kamera bergerak lambat, memperlihatkan alun-alun utama Lycora yang sunyi dan
kelam. Di sana, tergantung di gerbang baja yang dingin, adalah jasad Reth Varos
yang hancur bersimbah darah. Dan di sampingnya, pemandangan yang jauh lebih
mengerikan: tubuh Feyd yang dirantai dengan kepala yang terpisah, diletakkan di
dalam kotak kaca transparan tepat di atas bahunya sendiri, seolah-olah Vorn ingin
memastikan mata mati itu tetap mengawasi dunia yang dikhianatinya.
Lalu, sosok Vorn Killian muncul di layar. Kepalanya yang pelontos mengilat di
bawah lampu ruang komando yang redup, memberikan kesan pria itu lebih mirip
sebuah mesin perang tanpa jiwa daripada manusia. Ia duduk dengan ketenangan
yang tidak wajar, menatap lurus ke kamera seolah ia sedang menembus ruang
hampa jutaan mil jauhnya dan mencengkeram langsung jantung Evan.
"Evan Calder," suara Vorn terdengar jernih, membawa nada kemenangan yang
dingin dan sangat mencekam. "Kau selalu bangga dengan moralitasmu yang rapuh,dengan caramu merangkul mereka yang 'tersesat'. Lihatlah hasil dari belas
kasihanmu yang tidak berguna itu."
Vorn memberi isyarat ke arah jasad-jasad di belakangnya dengan gerakan tangan
yang sangat lambat, hampir seperti sebuah upacara kematian.
"Mereka mati karena mereka percaya pada janji-janjimu yang kosong. Mereka
mati karena kau memberi mereka harapan palsu bahwa ada tempat bagi
pengkhianat di galaksi yang aku kuasai. Sekarang, Lycora telah sepenuhnya bersih
dari 'hama' internal. Dan kau harus tahu, Evan... Feyd adalah pemuda yang sangat
kooperatif di saat-saat terakhirnya. Ia memohon ampunan, namun pedangku lebih
cepat memisahkan suaranya dari tubuhnya."
Vorn condong ke depan, wajahnya yang pucat dan pelontos tampak memenuhi
seluruh layar, memberikan intimidasi yang luar biasa.
"Aku tahu tentang Aegis Core milikmu, Evan. Aku tahu setiap inci rencana
resonansi terbalik yang sedang kau susun bersama tikus-tikus pelarianku. Silakan,
nyalakan intimu. Biarkan jantung Astrael berdenyut untuk terakhir kalinya.
Tunjukkan padaku di mana kalian bersembunyi, dan aku akan memastikan bahwa
cahaya terakhir yang dilihat rakyatmu adalah api yang menghanguskan langit
mereka hingga mereka memohon untuk mati secepat Kael."
Layar itu mendadak mati, menyisakan keheningan yang menyesakkan dan
dingin di anjungan Leviathan. Evan mengepalkan tangannya di balik punggung
hingga kuku-kukunya memutih dan buku jarinya bergetar. Pesan itu bukan sekadar
ancaman; itu adalah teror yang dirancang untuk melumpuhkan keberanian
mereka.
"Komandan..." bisik asistennya dengan wajah sepucat mayat. "Apa perintah
Anda?"
Evan menatap koordinat Lycora di peta bintang yang berkedip merah. "Vorn
pikir dia bisa menghentikan kita dengan tontonan menjijikkan ini. Dia pikir
kematian Varos dan Feyd akan membuat kita mundur ketakutan."
Evan berbalik, matanya berkilat dengan amarah yang murni, dingin, dan
mematikan. "Perintahkan tim intelijen untuk memblokir rekaman ini dari jaringanpublik, tapi kirimkan ke seluruh unit Sentra Wardens. Biarkan mereka melihat
monster yang kita hadapi. Biarkan kemarahan mereka menjadi bahan bakar mesin
perang kita."
Keheningan di dalam ruang rapat strategis Leviathan terasa begitu menekan
setelah transmisi Vorn Killian terputus. Evan Calder masih berdiri mematung di
depan layar hologram yang kini hanya menampilkan statis abu-abu, namun
rahangnya yang mengatup rapat menunjukkan badai amarah yang sedang ia tahan.
Ia tidak membuang waktu. Dengan satu gerakan tangan, ia mengaktifkan
protokol panggilan darurat tingkat tertinggi.
"Panggil seluruh anggota Dewan Tertinggi dan para Panglima Divisi. Sekarang,"
perintah Evan kepada sistem AI kapal. "Tidak ada pengecualian. Bahkan jika
mereka sedang di tengah pertempuran, sambungkan mereka ke ruangan ini."
Dalam hitungan detik, proyeksi hologram dari Jenderal Kaelen, Laksamana
Sarah, dan beberapa petinggi Union lainnya muncul mengelilingi meja bundar.
Wajah-wajah mereka tampak pucat; mereka juga baru saja menerima cuplikan
pesan mengerikan yang disiarkan Vorn ke seluruh jalur frekuensi militer.
"Evan, apa yang sebenarnya terjadi di Lycora?" suara Jenderal Kaelen terdengar
bergetar. "Benarkah mereka adalah informan kita?"
"Mereka adalah orang-orang yang mencoba menghentikan kiamat ini, Jenderal,"
jawab Evan dengan suara rendah namun tajam. "Vorn telah mengubah mereka
menjadi monumen ketakutan. Tapi dia melakukan kesalahan besar. Dia pikir
dengan memperlihatkan jasad Varos dan Kael, kita akan lumpuh. Sebaliknya, dia
baru saja memberikan alasan bagi setiap prajurit kita untuk tidak lagi mengenal
kata ampun."
Evan menekan panel kontrol, memunculkan peta taktis yang membagi fokus
pada dua titik panas: Astrael dan Lycora.
"Dengarkan instruksiku," ujar Evan, matanya menatap tajam ke arah para
petinggi. "Vorn sudah tahu tentang rencana resonansi kita. Dia sedang menunggu
kita untuk mengekspos Aegis Core. Karena itu, mulai detik ini, seluruh pasukan
Astral Union dalam status Waspada Level Merah di pos masing-masing."Ia menunjuk ke arah proyeksi Astrael. "Laksamana Sarah, perkuat barisan
pertahanan orbit. Jangan biarkan satu pun serpihan logam Varkhen menembus
atmosfer kita. Jika mereka menyerang, tahan mereka di gerbang langit. Jangan
mundur satu inci pun."