Orbit Lycora tidak pernah terasa sedingin ini. Di dalam anjungan kapal
penjelajah berat Indomitable, satu-satunya suara yang terdengar adalah dengung
konstan sistem pendukung kehidupan dan detak ritmis dari radar jarak jauh. Kru
anjungan bekerja dalam keheningan yang menyesakkan, wajah-wajah mereka
pucat terpapar cahaya biru dari layar holografik. Di luar jendela observasi, planet
Lycora tampak seperti bola batu kelabu yang sekarat, dikelilingi oleh puing-puing
satelit yang hancur, monumen bisu bagi perang yang tak kunjung usai.
Setiap awak kapal tahu bahwa di balik kegelapan ruang hampa yang luas itu,
armada Varkhen sedang bergerak. Mereka bukan sekadar menunggu musuh;
mereka menunggu sesuatu yang telah membuang kemanusiaannya. Kabar tentang
ritual Pemutusan Diri yang dilakukan prajurit Varkhen telah menyebar seperti
racun di antara para kru, menciptakan kengerian yang lebih tajam daripada
ancaman meriam laser mana pun. Bagaimana kau bisa melawan tentara yang
bahkan telah menghancurkan nama mereka sendiri?
"Kontak radar dalam sepuluh menit," suara seorang petugas operator terdengar
parau, memecah keheningan. "Tanda panas terdeteksi. Skala masif. Mereka tidak
lagi mencoba bersembunyi."
Kapten kapal, seorang veteran dengan bekas luka yang melintang di pelipisnya,
berdiri mematung sambil menatap kosong ke kegelapan di depan. Tangannya
mencengkeram pinggiran meja komando hingga buku jarinya memutih. Di layar
monitor, titik-titik merah mulai bermunculan satu per satu, seperti bintik darah
yang menodai kain hitam. Itu adalah armada Void Reaper, ujung tombak Varkhen
yang membawa pesan kematian dari Vorn Killian.
Di dek bawah, para teknisi dan operator senjata melakukan pengecekan terakhir
dengan tangan yang sedikit gemetar. Mereka adalah orang-orang yang masih
memiliki nama, masih memiliki keluarga yang menunggu di Astrael, dan masih
memiliki ketakutan yang manusiawi. Kontras itu terasa begitu nyata; di satu sisiada kru yang bertaruh demi harapan, dan di sisi lain ada badai baja yang datang
tanpa jiwa.
"Aktifkan perisai deflektor. Siapkan semua baterai meriam," perintah Kapten
dengan suara yang berusaha tetap stabil meski keringat dingin membasahi
punggungnya. "Ingat, mereka tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang
untuk menghapus kita dari sejarah."
Saat itu, orbit Lycora seolah menahan napas. Cahaya dari anomali atmosfer di
kejauhan mulai membiaskan warna ungu pekat, pertanda bahwa ruang dimensi
sedang robek oleh mesin pendorong armada musuh. Tak ada lagi kata-kata yang
perlu diucapkan. Di atas Lycora yang kelabu, fajar yang dijanjikan Evan Calder
terasa masih sangat jauh, sementara bayang-bayang Varkhen mulai menelan
cahaya bintang, siap menghujamkan kehancuran ke jantung Union.
"Kontak! Sektor empat!" teriak operator radar, suaranya pecah menjadi jeritan.
Di layar utama anjungan, kegelapan ruang hampa mendadak robek. Ratusan titik
merah muncul dari lompatan dimensi, bergerak dalam formasi yang tidak alami,
terlalu presisi, terlalu dingin. Itu adalah armada Void Reaper. Tanpa peringatan,
tanpa negosiasi, ruang angkasa di sekitar mereka seketika dipenuhi oleh garis-garis
ungu laser plasma yang membelah kegelapan.
"Perisai depan di ambang batas! Enam puluh persen... empat puluh!"
Guncangan dahsyat menghantam Indomitable. Kru anjungan terlempar dari
kursi mereka. Bau kabel terbakar dan ozon memenuhi ruangan. Kapten Vane
mencengkeram tepian meja komando, buku jarinya memutih, menatap dengan
ngeri ke arah jendela observasi. Di luar sana, kapal-kapal tempur Varkhen
meluncur seperti peluru bunuh diri.
"Mereka tidak menghindar?" bisik seorang perwira muda dengan wajah pucat
pasi.
Ia menyaksikan melalui monitor salah satu pesawat tempur Varkhen yang
terbakar hebat. Bukannya melontarkan diri, pilot itu justru memacu mesin
pendorongnya hingga maksimal, menabrakkan moncong pesawatnya tepat kemenara meriam kapal perusak Union di sebelah mereka. Ledakan raksasa