ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #34

KESUNYIAN SEBELUM BADAI

Orbit Lycora tidak pernah terasa sedingin ini. Di dalam anjungan kapal

penjelajah berat Indomitable, satu-satunya suara yang terdengar adalah dengung

konstan sistem pendukung kehidupan dan detak ritmis dari radar jarak jauh. Kru

anjungan bekerja dalam keheningan yang menyesakkan, wajah-wajah mereka

pucat terpapar cahaya biru dari layar holografik. Di luar jendela observasi, planet

Lycora tampak seperti bola batu kelabu yang sekarat, dikelilingi oleh puing-puing

satelit yang hancur, monumen bisu bagi perang yang tak kunjung usai.

Setiap awak kapal tahu bahwa di balik kegelapan ruang hampa yang luas itu,

armada Varkhen sedang bergerak. Mereka bukan sekadar menunggu musuh;

mereka menunggu sesuatu yang telah membuang kemanusiaannya. Kabar tentang

ritual Pemutusan Diri yang dilakukan prajurit Varkhen telah menyebar seperti

racun di antara para kru, menciptakan kengerian yang lebih tajam daripada

ancaman meriam laser mana pun. Bagaimana kau bisa melawan tentara yang

bahkan telah menghancurkan nama mereka sendiri?

"Kontak radar dalam sepuluh menit," suara seorang petugas operator terdengar

parau, memecah keheningan. "Tanda panas terdeteksi. Skala masif. Mereka tidak

lagi mencoba bersembunyi."

Kapten kapal, seorang veteran dengan bekas luka yang melintang di pelipisnya,

berdiri mematung sambil menatap kosong ke kegelapan di depan. Tangannya

mencengkeram pinggiran meja komando hingga buku jarinya memutih. Di layar

monitor, titik-titik merah mulai bermunculan satu per satu, seperti bintik darah

yang menodai kain hitam. Itu adalah armada Void Reaper, ujung tombak Varkhen

yang membawa pesan kematian dari Vorn Killian.

Di dek bawah, para teknisi dan operator senjata melakukan pengecekan terakhir

dengan tangan yang sedikit gemetar. Mereka adalah orang-orang yang masih

memiliki nama, masih memiliki keluarga yang menunggu di Astrael, dan masih

memiliki ketakutan yang manusiawi. Kontras itu terasa begitu nyata; di satu sisiada kru yang bertaruh demi harapan, dan di sisi lain ada badai baja yang datang

tanpa jiwa.

"Aktifkan perisai deflektor. Siapkan semua baterai meriam," perintah Kapten

dengan suara yang berusaha tetap stabil meski keringat dingin membasahi

punggungnya. "Ingat, mereka tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang

untuk menghapus kita dari sejarah."

Saat itu, orbit Lycora seolah menahan napas. Cahaya dari anomali atmosfer di

kejauhan mulai membiaskan warna ungu pekat, pertanda bahwa ruang dimensi

sedang robek oleh mesin pendorong armada musuh. Tak ada lagi kata-kata yang

perlu diucapkan. Di atas Lycora yang kelabu, fajar yang dijanjikan Evan Calder

terasa masih sangat jauh, sementara bayang-bayang Varkhen mulai menelan

cahaya bintang, siap menghujamkan kehancuran ke jantung Union.

"Kontak! Sektor empat!" teriak operator radar, suaranya pecah menjadi jeritan.

Di layar utama anjungan, kegelapan ruang hampa mendadak robek. Ratusan titik

merah muncul dari lompatan dimensi, bergerak dalam formasi yang tidak alami,

terlalu presisi, terlalu dingin. Itu adalah armada Void Reaper. Tanpa peringatan,

tanpa negosiasi, ruang angkasa di sekitar mereka seketika dipenuhi oleh garis-garis

ungu laser plasma yang membelah kegelapan.

"Perisai depan di ambang batas! Enam puluh persen... empat puluh!"

Guncangan dahsyat menghantam Indomitable. Kru anjungan terlempar dari

kursi mereka. Bau kabel terbakar dan ozon memenuhi ruangan. Kapten Vane

mencengkeram tepian meja komando, buku jarinya memutih, menatap dengan

ngeri ke arah jendela observasi. Di luar sana, kapal-kapal tempur Varkhen

meluncur seperti peluru bunuh diri.

"Mereka tidak menghindar?" bisik seorang perwira muda dengan wajah pucat

pasi.

Ia menyaksikan melalui monitor salah satu pesawat tempur Varkhen yang

terbakar hebat. Bukannya melontarkan diri, pilot itu justru memacu mesin

pendorongnya hingga maksimal, menabrakkan moncong pesawatnya tepat kemenara meriam kapal perusak Union di sebelah mereka. Ledakan raksasa

Lihat selengkapnya