Lycora tidak lagi memiliki langit. Lapisan biru yang dahulu menjadi kebanggaan
Astral Union kini telah terkoyak, digantikan oleh pemandangan mengerikan yang
menyerupai luka terbuka di angkasa. Di orbit, sisa-sisa armada pertahanan Union
hanyalah rongsokan besi yang membara, monumen bisu atas kekalahan yang
mutlak. Kapal-kapal kelas Cruiser yang pernah dianggap sebagai benteng tak
tergoyahkan kini terbelah, memuntahkan oksigen dan nyawa ke dalam kegelapan
abadi, menciptakan sabuk puing baru yang mengelilingi planet.
Dari balik tabir asap orbital itu, mereka muncul.
Satu per satu, siluet hitam armada Varkhen membelah awan dengan keanggunan
yang memuakkan. Mereka tidak datang seperti tentara yang lelah setelah
pertempuran; mereka datang seperti predator purba yang baru saja memulai
perburuannya. Kapal-kapal induk mereka, yang dipimpin oleh sang monster
obsidian Dark Sovereignty, menutupi cahaya matahari, melemparkan bayangan
raksasa yang menelan seluruh kota di bawahnya. Cahaya ungu dari mesin Aegis
Core mereka berpendar pelan di tengah kegelapan, seolah-olah ribuan mata iblis
sedang menatap rendah ke arah mangsa yang sudah tidak berdaya.
Di daratan, sirene evakuasi yang melengking kini terdengar seperti nyanyian
pemakaman. Tidak ada lagi perintah yang koheren dari markas pusat. Yang tersisa
hanyalah kepanikan yang murni. Rakyat Lycora menatap ke atas, menyaksikan
ribuan titik api mulai menghujani atmosfer. Itu bukan meteor, melainkan kapsul
pendarat Varkhen yang jatuh dengan kecepatan terminal, membawa serta para
pembantai yang tidak mengenal belas kasih.
Di tengah kekacauan itu, Holden Arka berdiri mematung di balkon observasi
markas Sentra Wardens. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan ketakutan,
melainkan sebuah kehampaan yang mengerikan. Di dalam pembuluh darahnya,
sisa-sisa Titan Serum mulai bergejolak, merespons frekuensi kehancuran yang
sudah sangat ia kenali sejak sembilan tahun lalu.Baginya, suara ledakan di langit itu bukanlah suara kekalahan. Itu adalah
lonceng yang menandakan bahwa waktu untuk bersembunyi telah usai.
"Mereka tidak sedang berperang," bisik seorang operator radar di belakangnya
dengan suara yang pecah oleh isak tangis. "Mereka sedang melakukan
pembersihan."
Holden tidak menoleh. Matanya tetap terkunci pada kapal induk Varkhen yang
perlahan-lahan merendah, merobek lapisan atmosfer dengan suara gemuruh yang
menggetarkan bumi. Ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih,
merasakan kekuatan gelap yang dipaksakan ke dalam tubuhnya kini menuntut
untuk dilepaskan.
Dahulu, ia adalah anak laki-laki yang berlari mencari perlindungan di tengah
hujan api. Namun hari ini, saat langit Lycora benar-benar runtuh dan bayangan
Varkhen menyelimuti dunia, Holden Arka menyadari satu hal yang pasti: Kali ini, ia
tidak akan lari. Jika Varkhen datang untuk menjemput nyawa terakhir di planet ini,
maka ia akan memastikan bahwa mereka harus melintasi neraka yang ia ciptakan
sendiri.
Langit kini sepenuhnya berubah menjadi ungu tua, warna kematian, warna
Varkhen. Dan di bawah payung kegelapan itu, perang yang sesungguhnya baru saja
dimulai.
Atmosfer Lycora tidak lagi membara karena gesekan udara, melainkan karena
amukan logam. Kapsul-kapsul pendarat Varkhen yang disebut Leech-Pods meluncur
turun seperti ribuan taring hitam yang dilemparkan dari surga yang mati. Mereka
membelah awan sulfur dengan kecepatan terminal, mengincar titik-titik strategis di
permukaan planet yang sudah sekarat.
Namun, Union belum sepenuhnya membisu.
Dari balik kepulan asap kota yang runtuh, deru mesin jet tempur Aegis-X yang
tersisa membelah keheningan. Pesawat-pesawat itu adalah sisa-sisa kejayaan Astral
Union yang menolak untuk tunduk. Pilot-pilot yang masih bernapas memacu mesin
mereka melampaui batas aman, mengubah jet tempur mereka menjadi tombak-
tombak cahaya di tengah kegelapan ungu."Target terkunci! Jangan biarkan satu pun pod itu menyentuh tanah!" teriak
Komandan Sektor melalui saluran radio yang dipenuhi statis.
Rudal-rudal pencari panas melesat, menciptakan garis-garis putih yang saling
silang di langit yang gelap. Ledakan demi ledakan pecah di udara. Satu kapsul
Varkhen meledak hebat, menghujani puing-puing tajam ke arah hutan beton di
bawahnya. Pesawat-pesawat jet itu menari di antara hujan tembakan laser dari
kapal induk musuh, melakukan manuver bunuh diri demi menjatuhkan sebanyak
mungkin pasukan pendarat.
Untuk sejenak, kemajuan armada Varkhen terhambat. Gelombang pertama
pendaratan mereka terkoyak oleh kegigihan para pilot Union. Langit Lycora
menjadi kuburan bagi mesin dan manusia.
Namun, Varkhen tidak mengenal kata menyerah. Di jembatan komando Dark
Sovereignty, perintah dingin dijatuhkan. Kapal induk itu melepaskan Pulse Wave,
sebuah gelombang elektromagnetik masif yang melumpuhkan sistem navigasi jet-
jet tempur Union dalam sekejap.
Satu per satu, jet-jet kebanggaan Union kehilangan kendali. Ada yang meledak di
udara, ada pula yang menghantam gedung-gedung tinggi, menciptakan bola api