ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #35

CAKRAWALA YANG RUNTUH

Lycora tidak lagi memiliki langit. Lapisan biru yang dahulu menjadi kebanggaan

Astral Union kini telah terkoyak, digantikan oleh pemandangan mengerikan yang

menyerupai luka terbuka di angkasa. Di orbit, sisa-sisa armada pertahanan Union

hanyalah rongsokan besi yang membara, monumen bisu atas kekalahan yang

mutlak. Kapal-kapal kelas Cruiser yang pernah dianggap sebagai benteng tak

tergoyahkan kini terbelah, memuntahkan oksigen dan nyawa ke dalam kegelapan

abadi, menciptakan sabuk puing baru yang mengelilingi planet.

Dari balik tabir asap orbital itu, mereka muncul.

Satu per satu, siluet hitam armada Varkhen membelah awan dengan keanggunan

yang memuakkan. Mereka tidak datang seperti tentara yang lelah setelah

pertempuran; mereka datang seperti predator purba yang baru saja memulai

perburuannya. Kapal-kapal induk mereka, yang dipimpin oleh sang monster

obsidian Dark Sovereignty, menutupi cahaya matahari, melemparkan bayangan

raksasa yang menelan seluruh kota di bawahnya. Cahaya ungu dari mesin Aegis

Core mereka berpendar pelan di tengah kegelapan, seolah-olah ribuan mata iblis

sedang menatap rendah ke arah mangsa yang sudah tidak berdaya.

Di daratan, sirene evakuasi yang melengking kini terdengar seperti nyanyian

pemakaman. Tidak ada lagi perintah yang koheren dari markas pusat. Yang tersisa

hanyalah kepanikan yang murni. Rakyat Lycora menatap ke atas, menyaksikan

ribuan titik api mulai menghujani atmosfer. Itu bukan meteor, melainkan kapsul

pendarat Varkhen yang jatuh dengan kecepatan terminal, membawa serta para

pembantai yang tidak mengenal belas kasih.

Di tengah kekacauan itu, Holden Arka berdiri mematung di balkon observasi

markas Sentra Wardens. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan ketakutan,

melainkan sebuah kehampaan yang mengerikan. Di dalam pembuluh darahnya,

sisa-sisa Titan Serum mulai bergejolak, merespons frekuensi kehancuran yang

sudah sangat ia kenali sejak sembilan tahun lalu.Baginya, suara ledakan di langit itu bukanlah suara kekalahan. Itu adalah

lonceng yang menandakan bahwa waktu untuk bersembunyi telah usai.

"Mereka tidak sedang berperang," bisik seorang operator radar di belakangnya

dengan suara yang pecah oleh isak tangis. "Mereka sedang melakukan

pembersihan."

Holden tidak menoleh. Matanya tetap terkunci pada kapal induk Varkhen yang

perlahan-lahan merendah, merobek lapisan atmosfer dengan suara gemuruh yang

menggetarkan bumi. Ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih,

merasakan kekuatan gelap yang dipaksakan ke dalam tubuhnya kini menuntut

untuk dilepaskan.

Dahulu, ia adalah anak laki-laki yang berlari mencari perlindungan di tengah

hujan api. Namun hari ini, saat langit Lycora benar-benar runtuh dan bayangan

Varkhen menyelimuti dunia, Holden Arka menyadari satu hal yang pasti: Kali ini, ia

tidak akan lari. Jika Varkhen datang untuk menjemput nyawa terakhir di planet ini,

maka ia akan memastikan bahwa mereka harus melintasi neraka yang ia ciptakan

sendiri.

Langit kini sepenuhnya berubah menjadi ungu tua, warna kematian, warna

Varkhen. Dan di bawah payung kegelapan itu, perang yang sesungguhnya baru saja

dimulai.

Atmosfer Lycora tidak lagi membara karena gesekan udara, melainkan karena

amukan logam. Kapsul-kapsul pendarat Varkhen yang disebut Leech-Pods meluncur

turun seperti ribuan taring hitam yang dilemparkan dari surga yang mati. Mereka

membelah awan sulfur dengan kecepatan terminal, mengincar titik-titik strategis di

permukaan planet yang sudah sekarat.

Namun, Union belum sepenuhnya membisu.

Dari balik kepulan asap kota yang runtuh, deru mesin jet tempur Aegis-X yang

tersisa membelah keheningan. Pesawat-pesawat itu adalah sisa-sisa kejayaan Astral

Union yang menolak untuk tunduk. Pilot-pilot yang masih bernapas memacu mesin

mereka melampaui batas aman, mengubah jet tempur mereka menjadi tombak-

tombak cahaya di tengah kegelapan ungu."Target terkunci! Jangan biarkan satu pun pod itu menyentuh tanah!" teriak

Komandan Sektor melalui saluran radio yang dipenuhi statis.

Rudal-rudal pencari panas melesat, menciptakan garis-garis putih yang saling

silang di langit yang gelap. Ledakan demi ledakan pecah di udara. Satu kapsul

Varkhen meledak hebat, menghujani puing-puing tajam ke arah hutan beton di

bawahnya. Pesawat-pesawat jet itu menari di antara hujan tembakan laser dari

kapal induk musuh, melakukan manuver bunuh diri demi menjatuhkan sebanyak

mungkin pasukan pendarat.

Untuk sejenak, kemajuan armada Varkhen terhambat. Gelombang pertama

pendaratan mereka terkoyak oleh kegigihan para pilot Union. Langit Lycora

menjadi kuburan bagi mesin dan manusia.

Namun, Varkhen tidak mengenal kata menyerah. Di jembatan komando Dark

Sovereignty, perintah dingin dijatuhkan. Kapal induk itu melepaskan Pulse Wave,

sebuah gelombang elektromagnetik masif yang melumpuhkan sistem navigasi jet-

jet tempur Union dalam sekejap.

Satu per satu, jet-jet kebanggaan Union kehilangan kendali. Ada yang meledak di

udara, ada pula yang menghantam gedung-gedung tinggi, menciptakan bola api

Lihat selengkapnya