Udara di sekitar Holden terasa seolah-olah membeku, namun di dalam dadanya,
ada matahari yang siap meledak. Titan Serum yang bergejolak dalam darahnya
memberikan persepsi yang sangat tajam; ia bisa mendengar desisan pengisian daya
plasma dari senjata musuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk.
"Arka! Menunduk!" Suara Sersan Kael menggelegar dari arah gerbang. Holden
tidak berpikir; tubuhnya bergerak lebih cepat dari perintah otaknya. Ia
menjatuhkan diri tepat saat seberkas laser plasma ungu melintas di atas kepalanya.
Sambil berguling, Holden menarik senapan standar Union dari punggungnya dan
melepaskan rentetan tembakan balasan yang menghantam visor helm prajurit
Varkhen terdekat.
Musuh itu terhuyung, namun zirah obsidiannya terlalu tebal untuk peluru biasa.
Melihat celah itu, Holden memacu mesin pendorong pada kakinya. Dalam satu
gerakan sinkron, ia menyimpan senapannya dan menghunus pedang frekuensi
tinggi yang berdengung tajam di tangan kanannya.
Srak! Bilah logam yang bergetar itu membelah sambungan zirah di leher musuh
dengan sekali tebas. Cairan pendingin zirah menyembur keluar, membeku seketika
di udara yang penuh asap.
"Sektor tujuh jebol! Mereka masuk lewat ventilasi atas!" Suara panik dari radio
regu memenuhi telinganya.
Holden berdiri di tengah hujan abu. Ia menoleh ke arah markas, melihat kawan-
kawannya mulai terdesak oleh gelombang kedua Leech-Pods yang mendarat lebih
dekat. Sesuatu di dalam dirinya memberontak. Ia bukan lagi sekadar prajurit yang
menjalankan protokol; ia adalah predator yang sedang mempertahankan
wilayahnya.
"Kael! Bawa yang lain ke Sub-Level 4!" teriak Holden, suaranya kini memiliki
nada rendah yang bergetar, hampir tidak manusiawi karena pengaruh serum. "Biaraku yang menahan mereka di sini!" "Kau gila, Arka? Itu bunuh diri!" Kael membalas
sambil terus menembakkan senapan energinya dari balik perlindungan gerbang.
"Pergi sekarang!" Holden meraung. Dari balik kabut asap di ujung jalan, sebuah
bayangan yang jauh lebih besar dari prajurit biasa mulai muncul. Seorang Varkhen
Centurion melangkah maju, memegang palu energi di satu tangan dan meriam
plasma berat di tangan lainnya.
Holden menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang penuh dengan penderitaan
sekaligus kepuasan. Ia memeriksa sisa amunisi di senapannya dan mengeratkan
genggaman pada hulu pedangnya. Kali ini, ia tidak akan lari seperti sembilan tahun
lalu.
“Akhirnya," bisiknya. "Lawan yang layak untuk neraka ini." Tanah Lycora yang
sudah bergetar hebat kini seolah-olah akan terbelah. Dari balik kabut asap dan
puing-puing bangunan, deru mesin berat mulai menenggelamkan suara desisan
senjata plasma. Pihak Varkhen tidak lagi hanya mengandalkan infanteri; mereka
mulai mengerahkan unit kavaleri berat mereka ke garis depan.
Tiga unit Varkhen Siege-Tank "Oblivion" muncul dari bayang-bayang kapal
induk. Tank-tank ini adalah monster logam berwarna hitam obsidian yang
bergerak tanpa suara mesin konvensional, melainkan dengan dengungan rendah
dari reaktor Aegis Core yang berpendar ungu di sela-sela roda rantainya. Meriam
ganda mereka yang panjang mulai berputar, mengincar sisa-sisa gedung
pertahanan dengan presisi predator purba.
Namun, Astral Union tidak membiarkan tanah mereka diinjak begitu saja. Dari
hanggar bawah tanah fasilitas Sentra Wardens yang tersembunyi, pintu baja
raksasa terbuka sepenuhnya.
"Unit Kavaleri, maju! Jangan biarkan mereka mengambil satu inci pun aspal
lagi!" teriak komandan sektor melalui saluran radio yang dipenuhi statis.
Lima unit T-90 Aegis-Enforcer milik Astral Union meluncur keluar dengan
raungan mesin jet yang membakar udara. Tank-tank ini adalah kebanggaan Union,
dengan zirah berwarna perak yang tergores namun tetap kokoh, mencerminkansisa-sisa kejayaan mereka. Meriam tunggal mereka mulai berpendar biru,
mengumpulkan energi kinetik yang siap dilepaskan.
Holden Arka, yang masih berada di tengah jalanan, harus melompat ke balik
rongsokan kapal Cruiser yang terbakar untuk menghindari jalur gerak tank-tank
raksasa tersebut. Di atasnya, atmosfer Lycora membara bukan karena matahari,
melainkan karena amukan logam yang saling beradu.
"Target terkunci! Tembak!"
DUARRR!
Dentuman meriam pertama memecah keheningan yang mencekam. Sebuah
peluru kinetik dari tank Union menghantam perisai energi ungu milik tank