ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #36

RESONANSI TITAN

Udara di sekitar Holden terasa seolah-olah membeku, namun di dalam dadanya,

ada matahari yang siap meledak. Titan Serum yang bergejolak dalam darahnya

memberikan persepsi yang sangat tajam; ia bisa mendengar desisan pengisian daya

plasma dari senjata musuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk.

"Arka! Menunduk!" Suara Sersan Kael menggelegar dari arah gerbang. Holden

tidak berpikir; tubuhnya bergerak lebih cepat dari perintah otaknya. Ia

menjatuhkan diri tepat saat seberkas laser plasma ungu melintas di atas kepalanya.

Sambil berguling, Holden menarik senapan standar Union dari punggungnya dan

melepaskan rentetan tembakan balasan yang menghantam visor helm prajurit

Varkhen terdekat.

Musuh itu terhuyung, namun zirah obsidiannya terlalu tebal untuk peluru biasa.

Melihat celah itu, Holden memacu mesin pendorong pada kakinya. Dalam satu

gerakan sinkron, ia menyimpan senapannya dan menghunus pedang frekuensi

tinggi yang berdengung tajam di tangan kanannya.

Srak! Bilah logam yang bergetar itu membelah sambungan zirah di leher musuh

dengan sekali tebas. Cairan pendingin zirah menyembur keluar, membeku seketika

di udara yang penuh asap.

"Sektor tujuh jebol! Mereka masuk lewat ventilasi atas!" Suara panik dari radio

regu memenuhi telinganya.

Holden berdiri di tengah hujan abu. Ia menoleh ke arah markas, melihat kawan-

kawannya mulai terdesak oleh gelombang kedua Leech-Pods yang mendarat lebih

dekat. Sesuatu di dalam dirinya memberontak. Ia bukan lagi sekadar prajurit yang

menjalankan protokol; ia adalah predator yang sedang mempertahankan

wilayahnya.

"Kael! Bawa yang lain ke Sub-Level 4!" teriak Holden, suaranya kini memiliki

nada rendah yang bergetar, hampir tidak manusiawi karena pengaruh serum. "Biaraku yang menahan mereka di sini!" "Kau gila, Arka? Itu bunuh diri!" Kael membalas

sambil terus menembakkan senapan energinya dari balik perlindungan gerbang.

"Pergi sekarang!" Holden meraung. Dari balik kabut asap di ujung jalan, sebuah

bayangan yang jauh lebih besar dari prajurit biasa mulai muncul. Seorang Varkhen

Centurion melangkah maju, memegang palu energi di satu tangan dan meriam

plasma berat di tangan lainnya.

Holden menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang penuh dengan penderitaan

sekaligus kepuasan. Ia memeriksa sisa amunisi di senapannya dan mengeratkan

genggaman pada hulu pedangnya. Kali ini, ia tidak akan lari seperti sembilan tahun

lalu.

“Akhirnya," bisiknya. "Lawan yang layak untuk neraka ini." Tanah Lycora yang

sudah bergetar hebat kini seolah-olah akan terbelah. Dari balik kabut asap dan

puing-puing bangunan, deru mesin berat mulai menenggelamkan suara desisan

senjata plasma. Pihak Varkhen tidak lagi hanya mengandalkan infanteri; mereka

mulai mengerahkan unit kavaleri berat mereka ke garis depan.

Tiga unit Varkhen Siege-Tank "Oblivion" muncul dari bayang-bayang kapal

induk. Tank-tank ini adalah monster logam berwarna hitam obsidian yang

bergerak tanpa suara mesin konvensional, melainkan dengan dengungan rendah

dari reaktor Aegis Core yang berpendar ungu di sela-sela roda rantainya. Meriam

ganda mereka yang panjang mulai berputar, mengincar sisa-sisa gedung

pertahanan dengan presisi predator purba.

Namun, Astral Union tidak membiarkan tanah mereka diinjak begitu saja. Dari

hanggar bawah tanah fasilitas Sentra Wardens yang tersembunyi, pintu baja

raksasa terbuka sepenuhnya.

"Unit Kavaleri, maju! Jangan biarkan mereka mengambil satu inci pun aspal

lagi!" teriak komandan sektor melalui saluran radio yang dipenuhi statis.

Lima unit T-90 Aegis-Enforcer milik Astral Union meluncur keluar dengan

raungan mesin jet yang membakar udara. Tank-tank ini adalah kebanggaan Union,

dengan zirah berwarna perak yang tergores namun tetap kokoh, mencerminkansisa-sisa kejayaan mereka. Meriam tunggal mereka mulai berpendar biru,

mengumpulkan energi kinetik yang siap dilepaskan.

Holden Arka, yang masih berada di tengah jalanan, harus melompat ke balik

rongsokan kapal Cruiser yang terbakar untuk menghindari jalur gerak tank-tank

raksasa tersebut. Di atasnya, atmosfer Lycora membara bukan karena matahari,

melainkan karena amukan logam yang saling beradu.

"Target terkunci! Tembak!"

DUARRR!

Dentuman meriam pertama memecah keheningan yang mencekam. Sebuah

peluru kinetik dari tank Union menghantam perisai energi ungu milik tank

Lihat selengkapnya