Jika Holden Arka adalah api yang membakar dari bawah reruntuhan, maka
Gorgon Killian adalah badai es yang turun dari langit untuk memadamkan sisa-sisa
kehidupan.
Di atas langit Lycora yang kini berwarna ungu pekat, pintu palka kapal pendarat
kelas Heavy-Drop terbuka dengan suara dentuman hidrolik yang berat. Gorgon
berdiri di ambang pintu, zirahnya yang berwarna hitam matte tampak lebih gelap
daripada kegelapan di sekelilingnya. Di belakangnya, dua belas prajurit Black
Vanguard berdiri dalam keheningan yang mencekam, mereka bukan lagi sekadar
prajurit, melainkan mesin pembunuh yang telah dimodifikasi secara genetis.
"Target terdeteksi. Sektor Pertahanan Barat Astral Union. Hapus mereka dari
peta," suara Gorgon terdengar melalui interkom regu, dingin dan tanpa emosi,
seperti mesin yang sedang membacakan algoritma.
Gorgon melompat keluar, membiarkan gravitasi planet menariknya jatuh ke
tengah-tengah garis pertahanan Astral Union. Ia tidak menggunakan parasut; mesin
pendorong di punggungnya menyalak hanya beberapa meter sebelum menghantam
tanah, menciptakan kawah kecil di tengah barisan tentara Union yang panik.
Pertempuran itu bukan lagi sebuah peperangan, melainkan pembantaian yang
terencana.
Gorgon bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Di tangan kanannya,
sebuah pedang energi Aegis yang berpendar merah darah menebas zirah tentara
Union seolah-olah logam itu hanyalah kertas basah. Di tangan kirinya, ia memegang
pistol plasma berfrekuensi tinggi yang meledakkan kepala musuh bahkan sebelum
mereka sempat membidik.
"Jangan biarkan dia mendekat! Tembak! Tembak, "
Teriakan seorang sersan Union terputus saat Gorgon menerjang maju. Dengan
satu gerakan brutal, ia mencengkeram leher prajurit itu dan menghantamkannya
ke dinding beton hingga hancur. Gorgon tidak berhenti; ia berputar, menembakkangelombang kejut dari telapak tangannya yang mementalkan lima prajurit lainnya
ke jalur tembakan unit Black Vanguard.
Prajurit Black Vanguard turun seperti bayangan. Mereka bergerak dalam formasi
yang sempurna, menghabisi sisa-sisa tentara Astral Union dengan efisiensi yang
mengerikan. Jika tentara biasa menggunakan perlindungan, Black Vanguard justru
terus merangsek maju, membiarkan peluru kinetik Union memantul dari zirah
mereka yang terbuat dari logam langka Varkhen.
Gorgon menginjak dada seorang prajurit Union yang sedang sekarat, matanya
menatap tajam ke arah markas komunikasi yang masih mencoba mengirim sinyal
darurat. Ia melihat ketakutan di mata mereka, ketakutan yang sama yang pernah ia
lihat bertahun-tahun lalu. Ada bagian kecil dalam dirinya yang membisikkan
keraguan, namun suara ayahnya, Vorn Killian, menggema lebih keras di kepalanya:
Kehancuran adalah satu-satunya jalan menuju ketertiban.
"Bersihkan area ini," perintah Gorgon sambil mengayunkan pedangnya untuk
membersihkan sisa darah yang menempel. "Jangan sisakan satu pun saksi. Lycora
harus tahu bahwa perlawanan hanya akan mempercepat kepunahan mereka."
Di tengah kobaran api dan tumpukan mayat tentara Astral Union, Gorgon berdiri