ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #37

WARISAN DARAH DAN BESI

Jika Holden Arka adalah api yang membakar dari bawah reruntuhan, maka

Gorgon Killian adalah badai es yang turun dari langit untuk memadamkan sisa-sisa

kehidupan.

Di atas langit Lycora yang kini berwarna ungu pekat, pintu palka kapal pendarat

kelas Heavy-Drop terbuka dengan suara dentuman hidrolik yang berat. Gorgon

berdiri di ambang pintu, zirahnya yang berwarna hitam matte tampak lebih gelap

daripada kegelapan di sekelilingnya. Di belakangnya, dua belas prajurit Black

Vanguard berdiri dalam keheningan yang mencekam, mereka bukan lagi sekadar

prajurit, melainkan mesin pembunuh yang telah dimodifikasi secara genetis.

"Target terdeteksi. Sektor Pertahanan Barat Astral Union. Hapus mereka dari

peta," suara Gorgon terdengar melalui interkom regu, dingin dan tanpa emosi,

seperti mesin yang sedang membacakan algoritma.

Gorgon melompat keluar, membiarkan gravitasi planet menariknya jatuh ke

tengah-tengah garis pertahanan Astral Union. Ia tidak menggunakan parasut; mesin

pendorong di punggungnya menyalak hanya beberapa meter sebelum menghantam

tanah, menciptakan kawah kecil di tengah barisan tentara Union yang panik.

Pertempuran itu bukan lagi sebuah peperangan, melainkan pembantaian yang

terencana.

Gorgon bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Di tangan kanannya,

sebuah pedang energi Aegis yang berpendar merah darah menebas zirah tentara

Union seolah-olah logam itu hanyalah kertas basah. Di tangan kirinya, ia memegang

pistol plasma berfrekuensi tinggi yang meledakkan kepala musuh bahkan sebelum

mereka sempat membidik.

"Jangan biarkan dia mendekat! Tembak! Tembak, "

Teriakan seorang sersan Union terputus saat Gorgon menerjang maju. Dengan

satu gerakan brutal, ia mencengkeram leher prajurit itu dan menghantamkannya

ke dinding beton hingga hancur. Gorgon tidak berhenti; ia berputar, menembakkangelombang kejut dari telapak tangannya yang mementalkan lima prajurit lainnya

ke jalur tembakan unit Black Vanguard.

Prajurit Black Vanguard turun seperti bayangan. Mereka bergerak dalam formasi

yang sempurna, menghabisi sisa-sisa tentara Astral Union dengan efisiensi yang

mengerikan. Jika tentara biasa menggunakan perlindungan, Black Vanguard justru

terus merangsek maju, membiarkan peluru kinetik Union memantul dari zirah

mereka yang terbuat dari logam langka Varkhen.

Gorgon menginjak dada seorang prajurit Union yang sedang sekarat, matanya

menatap tajam ke arah markas komunikasi yang masih mencoba mengirim sinyal

darurat. Ia melihat ketakutan di mata mereka, ketakutan yang sama yang pernah ia

lihat bertahun-tahun lalu. Ada bagian kecil dalam dirinya yang membisikkan

keraguan, namun suara ayahnya, Vorn Killian, menggema lebih keras di kepalanya:

Kehancuran adalah satu-satunya jalan menuju ketertiban.

"Bersihkan area ini," perintah Gorgon sambil mengayunkan pedangnya untuk

membersihkan sisa darah yang menempel. "Jangan sisakan satu pun saksi. Lycora

harus tahu bahwa perlawanan hanya akan mempercepat kepunahan mereka."

Di tengah kobaran api dan tumpukan mayat tentara Astral Union, Gorgon berdiri

Lihat selengkapnya