ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #38

BATAS RAPUH MANUSIA

Kegelapan di dalam bunker darurat Sub-Level 4 terasa jauh lebih menyesakkan

daripada medan perang di atas sana. Suara tetesan air dari pipa yang bocor

berirama dengan detak jantung Holden yang tidak beraturan. Ia terbaring di atas

meja logam yang dingin, sementara napasnya keluar dalam helaan pendek yang

gemetar.

"Tahan dia! Serumnya menolak stabilisator!" teriak Sersan Kael.

Holden mengerang kesakitan. Di bawah kulit lengannya, pembuluh darahnya

tidak lagi berwarna merah, melainkan berpendar ungu redup yang berdenyut

kencang. Titan Serum dalam tubuhnya sedang meronta, sebuah efek samping dari

lonjakan adrenalin dan radiasi Aegis Core yang ia serap saat ledakan sabotase tadi.

Baginya, rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang merayap di bawah sarafnya.

"Aku... aku tidak apa-apa..." gumam Holden, meski matanya menunjukkan hal

sebaliknya. Pupil matanya terus mengecil dan melebar secara tidak terkendali.

"Kau hampir meledakkan dirimu sendiri, Arka," Kael menekan luka di bahu

Holden dengan kain kasa yang segera basah oleh darah. "Sabotasemu berhasil.

Komando Varkhen di sektor pusat lumpuh total untuk sementara, tapi kau

membayar harganya terlalu mahal. Jika kita tidak bisa mendinginkan suhumu,

organ dalammu akan matang dari dalam."

Di sudut ruangan yang remang-remang, sisa-sisa regu Sentra Wardens duduk

terdiam. Jace, prajurit muda yang tadi pingsan, kini terbangun dengan perban di

kepalanya, menatap Holden dengan campuran rasa takut dan hormat. Mereka

semua tahu bahwa tanpa aksi gila Holden, mereka sudah menjadi abu di halaman

depan markas.

"Berapa banyak yang tersisa?" tanya Holden parau, mencoba mendudukkan

dirinya meski rasa sakit menghantam punggungnya.

Kael terdiam sejenak, wajahnya yang penuh jelaga tampak semakin tua di bawah

lampu darurat yang berkedip. "Tujuh orang dari regu kita. Sisanya... hilang atautidak bisa dikonfirmasi. Armada Union di orbit sudah tidak menjawab transmisi.

Kita sendirian di bawah tanah ini, Holden."

Holden menatap tangannya yang masih bergetar. Ia bisa merasakan sisa-sisa

kekuatan itu di dalam darahnya, sebuah kekuatan yang memberinya kemampuan

untuk melawan monster, namun perlahan-lahan mengubahnya menjadi sesuatu

yang ia sendiri tidak kenali. Trauma sembilan tahun lalu di Lycora kini tidak lagi

hanya menjadi mimpi buruk; itu telah menjadi bahan bakar bagi mesin perang

yang bersemayam di dalam dirinya.

"Mereka akan mencari kita," bisik Holden. Bayangan sosok hitam yang ia lihat

sekilas di tengah ledakan, Gorgon, masih membekas di ingatannya. Ia bisa

merasakan bahwa ada seseorang yang jauh lebih berbahaya dari sekadar prajurit

biasa yang kini sedang memburunya.

"Biarkan mereka mencari," sahut Kael sambil menyerahkan sebuah senapan

yang sudah diisi ulang. "Tapi malam ini, kau harus bertahan hidup dulu. Union

butuh hantunya tetap bernapas."

Holden menutup matanya, membiarkan rasa sakit itu menjadi bagian dari

dirinya. Di luar sana, banyak prajurit mungkin sedang sekarat, namun di

kedalaman bunker yang lembap ini, sebuah dendam baru saja mendapatkan napas

keduanya.

Holden mencengkeram pinggiran meja logam hingga jemarinya meninggalkan

bekas lekukan pada baja tersebut. Rasa panas di dalam darahnya bukan lagi

sekadar suhu tinggi; itu adalah kesadaran yang asing. Setiap kali Titan Serum

berdenyut, Holden merasakan emosinya menguap, digantikan oleh logika perang

yang dingin dan kalkulasi membunuh yang tanpa ampun.

"Arka, lihat aku! Fokus pada suaraku!" Sersan Kael mengguncang bahunya.

Holden mendongak, dan untuk sesaat, Kael tersentak mundur. Mata Holden tidak

lagi berwarna cokelat madu seperti biasanya; irisnya telah berubah menjadi cincin

ungu berpendar yang berputar pelan. Tidak ada rasa takut di sana, tidak ada

Lihat selengkapnya