Kegelapan di dalam bunker darurat Sub-Level 4 terasa jauh lebih menyesakkan
daripada medan perang di atas sana. Suara tetesan air dari pipa yang bocor
berirama dengan detak jantung Holden yang tidak beraturan. Ia terbaring di atas
meja logam yang dingin, sementara napasnya keluar dalam helaan pendek yang
gemetar.
"Tahan dia! Serumnya menolak stabilisator!" teriak Sersan Kael.
Holden mengerang kesakitan. Di bawah kulit lengannya, pembuluh darahnya
tidak lagi berwarna merah, melainkan berpendar ungu redup yang berdenyut
kencang. Titan Serum dalam tubuhnya sedang meronta, sebuah efek samping dari
lonjakan adrenalin dan radiasi Aegis Core yang ia serap saat ledakan sabotase tadi.
Baginya, rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang merayap di bawah sarafnya.
"Aku... aku tidak apa-apa..." gumam Holden, meski matanya menunjukkan hal
sebaliknya. Pupil matanya terus mengecil dan melebar secara tidak terkendali.
"Kau hampir meledakkan dirimu sendiri, Arka," Kael menekan luka di bahu
Holden dengan kain kasa yang segera basah oleh darah. "Sabotasemu berhasil.
Komando Varkhen di sektor pusat lumpuh total untuk sementara, tapi kau
membayar harganya terlalu mahal. Jika kita tidak bisa mendinginkan suhumu,
organ dalammu akan matang dari dalam."
Di sudut ruangan yang remang-remang, sisa-sisa regu Sentra Wardens duduk
terdiam. Jace, prajurit muda yang tadi pingsan, kini terbangun dengan perban di
kepalanya, menatap Holden dengan campuran rasa takut dan hormat. Mereka
semua tahu bahwa tanpa aksi gila Holden, mereka sudah menjadi abu di halaman
depan markas.
"Berapa banyak yang tersisa?" tanya Holden parau, mencoba mendudukkan
dirinya meski rasa sakit menghantam punggungnya.
Kael terdiam sejenak, wajahnya yang penuh jelaga tampak semakin tua di bawah
lampu darurat yang berkedip. "Tujuh orang dari regu kita. Sisanya... hilang atautidak bisa dikonfirmasi. Armada Union di orbit sudah tidak menjawab transmisi.
Kita sendirian di bawah tanah ini, Holden."
Holden menatap tangannya yang masih bergetar. Ia bisa merasakan sisa-sisa
kekuatan itu di dalam darahnya, sebuah kekuatan yang memberinya kemampuan
untuk melawan monster, namun perlahan-lahan mengubahnya menjadi sesuatu
yang ia sendiri tidak kenali. Trauma sembilan tahun lalu di Lycora kini tidak lagi
hanya menjadi mimpi buruk; itu telah menjadi bahan bakar bagi mesin perang
yang bersemayam di dalam dirinya.
"Mereka akan mencari kita," bisik Holden. Bayangan sosok hitam yang ia lihat
sekilas di tengah ledakan, Gorgon, masih membekas di ingatannya. Ia bisa
merasakan bahwa ada seseorang yang jauh lebih berbahaya dari sekadar prajurit
biasa yang kini sedang memburunya.
"Biarkan mereka mencari," sahut Kael sambil menyerahkan sebuah senapan
yang sudah diisi ulang. "Tapi malam ini, kau harus bertahan hidup dulu. Union
butuh hantunya tetap bernapas."
Holden menutup matanya, membiarkan rasa sakit itu menjadi bagian dari
dirinya. Di luar sana, banyak prajurit mungkin sedang sekarat, namun di
kedalaman bunker yang lembap ini, sebuah dendam baru saja mendapatkan napas
keduanya.
Holden mencengkeram pinggiran meja logam hingga jemarinya meninggalkan
bekas lekukan pada baja tersebut. Rasa panas di dalam darahnya bukan lagi
sekadar suhu tinggi; itu adalah kesadaran yang asing. Setiap kali Titan Serum
berdenyut, Holden merasakan emosinya menguap, digantikan oleh logika perang
yang dingin dan kalkulasi membunuh yang tanpa ampun.
"Arka, lihat aku! Fokus pada suaraku!" Sersan Kael mengguncang bahunya.
Holden mendongak, dan untuk sesaat, Kael tersentak mundur. Mata Holden tidak
lagi berwarna cokelat madu seperti biasanya; irisnya telah berubah menjadi cincin
ungu berpendar yang berputar pelan. Tidak ada rasa takut di sana, tidak ada