ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #39

GEMA DI LORONG KEMATIAN

Kegelapan di dalam terowongan pembuangan bawah tanah Distrik Kaelo bukan

sekadar ketiadaan cahaya; itu adalah kegelapan yang terasa hidup, lembap, dan

menekan. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit beton yang retak terdengar

seperti dentuman palu di telinga Holden. Di belakangnya, tujuh prajurit Sentra

Wardens bergerak seperti barisan hantu, napas mereka memburu, mencoba

menekan suara gesekan zirah mereka dengan dinding yang berlumut.

Holden berhenti mendadak. Ia mengangkat satu tangan ke udara, memberi

isyarat "berhenti" yang mutlak.

"Ada apa?" bisik Sersan Kael, tangannya mencengkeram erat laras senapan

kinetiknya.

Holden tidak menjawab. Pupil matanya yang berpendar ungu berdenyut liar.

Melalui resonansi Titan Serum, ia tidak lagi melihat beton dan kegelapan. Ia melihat

dunia dalam getaran energi. Lima puluh meter di depan, di balik belokan pipa

raksasa, ada lima titik panas yang bergerak dengan presisi mekanis.

Itu bukan manusia. Itu adalah Varkhen Seeker-Drones, unit pelacak berbentuk

laba-laba logam yang dilengkapi dengan sensor detak jantung dan pemotong laser.

Dan di belakang mereka, langkah kaki berat yang berirama menandakan kehadiran

unit infanteri Black Vanguard.

"Tiarap," desis Holden.

Baru saja regu itu menjatuhkan diri ke dalam genangan air payau yang dangkal,

sebuah sinar laser merah tipis menyapu dinding di atas kepala mereka. Hening.

Hanya suara degup jantung Jace yang terdengar begitu keras hingga Holden

khawatir sensor musuh akan menangkapnya.

Bzzzt,

Salah satu drone pelacak melompat ke atas pipa, sensor matanya yang merah

berputar 360 derajat. Begitu cahaya merah itu mengenai ujung sepatu bot salah

satu prajurit Union, suasana sunyi itu pecah menjadi neraka."KONTAK!" raung Kael.

RATATATATATA!

Senapan kinetik Union menyalak, memuntahkan peluru biru yang memantul di

dinding terowongan yang sempit. Namun, drone-drone itu bergerak terlalu cepat.

Satu drone menerjang maju, kaki logamnya yang tajam menusuk bahu prajurit

paling belakang hingga menembus zirah dan daging. Jeritan memilukan

menggema, terputus saat drone itu mengeluarkan bilah gergaji frekuensi yang

langsung membelah leher sang prajurit.

"Mundur! Mundur ke zona penyempitan!" teriak Holden.

Ia tidak ikut mundur. Sebaliknya, Holden menerjang ke depan menembus hujan

peluru. Titan Serum meledak di dalam sarafnya, memberikan persepsi waktu yang

melambat. Ia melihat laser plasma ungu musuh merobek udara di samping

telinganya.

Dengan raungan yang lebih mirip geraman binatang, Holden menghantamkan

pedang frekuensinya ke drone pertama, membelahnya menjadi dua bagian yang

memercikkan sirkuit listrik. Tanpa berhenti, ia menarik senapannya dengan tangan

kiri dan menembak titik lemah pada zirah prajurit Black Vanguard yang baru saja

muncul dari kegelapan.

Duar!

Kepala prajurit Varkhen itu meledak dalam semburan cairan hitam dan serpihan

helm obsidian. Namun, prajurit Vanguard lainnya tidak gentar. Mereka merangsek

maju, menggunakan tubuh rekan mereka yang jatuh sebagai tameng hidup.

Pertempuran berubah menjadi pergulatan jarak dekat yang brutal di dalam

lorong yang hanya selebar tiga meter. Tidak ada ruang untuk taktik; yang ada

hanyalah insting untuk membunuh atau dibunuh.

Seorang prajurit Vanguard menghantamkan kapak energinya ke arah Holden.

Holden menangkisnya dengan bilah pedang, menciptakan percikan api yang

menerangi wajahnya yang kini mengerikan, pembuluh darah ungu menonjol di

leher dan pipinya. Holden melepaskan satu tendangan bertenaga serum yangmematahkan rusuk baja musuhnya, lalu memutar pedangnya dan menusukkannya

tepat ke jantung zirah lawan.

"Arka! Di atasmu!" Jace berteriak dari belakang sambil terus menembak.

Sebuah drone pelacak menjatuhkan diri dari langit-langit, mengincar kepala

Holden dengan cakar lasernya. Dengan refleks yang mustahil, Holden menangkap

kaki logam drone itu dengan tangan kosong. Kulit telapak tangannya terbakar oleh

panas mesin drone, namun ia tidak merasakan sakit. Ia justru mengerang, otot

lengannya membesar hingga zirahnya retak, dan dengan satu sentakan brutal, ia

merobek drone itu menjadi dua dengan tangan telanjang.

Cairan hidrolik panas menyembur ke wajah Holden, bercampur dengan

Lihat selengkapnya