Di atas anjungan kapal perusak Ashen-Breaker yang melayang di orbit rendah
Lycora, kegelapan adalah satu-satunya warna yang diakui. Gorgon Killian berdiri
mematung di depan jajaran layar hologram yang memancarkan cahaya biru pucat
ke wajahnya yang kaku. Di bahunya, lambang Varkhen berkilat tertimpa cahaya
indikator.
Matanya tidak berkedip saat menatap transmisi langsung dari unit Black
Vanguard di terowongan bawah tanah.
Rekaman itu goyang dan penuh gangguan statis, namun pemandangannya jelas:
pembantaian. Melalui kamera helm salah satu prajuritnya, Gorgon melihat sesosok
bayangan raksasa menerjang keluar dari kegelapan. Itu bukan manusia, itu adalah
badai otot dan amarah yang berpendar ungu.
"Mundur! Dia terlalu cep—!"
Suara di audio transmisi terputus dengan bunyi krak yang memuakkan saat
bayangan itu menghantam sang prajurit. Layar seketika berubah menjadi semut
statis merah. Satu per satu, sinyal vitalitas dari unit pelacak di sudut layar berubah
dari hijau menjadi abu-abu mati.
Gorgon tidak marah. Sebaliknya, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Luar biasa," bisik Gorgon. Suaranya rendah, bergetar dengan nada yang hampir
menyerupai rasa kagum yang sakit. "Sentra Warden. Jadi ini hasil dari Titan Serum
yang mereka bangga-banggakan."
Di belakangnya, seorang perwira muda Varkhen gemetar saat melaporkan status.
"Tuan... Unit Black Vanguard di sektor empat belas telah musnah sepenuhnya.
Target bergerak menuju Menara Observatorium. Haruskah kita membombardir
area tersebut dari orbit?"
Gorgon berbalik perlahan. Tatapannya membuat perwira itu menahan napas.
"Membombardirnya? Dan kehilangan kesempatan untuk melihat monster itu dari
dekat?"Gorgon berjalan menuju rak senjatanya. Ia mengambil sebuah pedang getar
berat yang bilahnya berwarna hitam pekat dan memasangkan pelindung dada
besinya yang tebal. Setiap gerakannya presisi, seperti mesin yang sedang
dikalibrasi.
"Ayahku selalu bilang bahwa ketakutan adalah fondasi yang stabil," kata Gorgon
sambil mengunci sarung tangannya. "Tapi dia lupa bahwa untuk menciptakan
ketakutan yang abadi, kau harus menghancurkan harapan terbesar musuhmu di
depan mata mereka sendiri."
Ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela anjungan. Di luar, planet Lycora
tampak membara oleh api peperangan.
"Siapkan kapsul peluncuran pribadi," perintah Gorgon. "Astrael itu ingin menjadi
pahlawan di bawah tanah. Aku akan menemuinya di Menara, dan memastikan dia
mati sebagai kegagalan terakhir Astral Union."
Darahnya berdesir. Rasa tidak sabar itu membakar dadanya lebih panas
daripada mesin jet kapal perang di bawah kakinya. Bagi Gorgon, ini bukan sekadar
strategi militer. Ini adalah perburuan yang sudah lama ia nantikan.
Kapsul peluncuran itu menghantam tanah Lycora dengan dentuman yang
menggetarkan fondasi kota. Pintu palka terlempar meledak, melepaskan uap dingin
yang segera tercampur dengan bau amis darah dan mesiu.
Gorgon Killian melangkah keluar dari kepulan asap. Di belakangnya, dua lusin
prajurit Black Vanguard bergerak dalam formasi simetris, senjata mereka sudah
terkunci ke arah barisan pertahanan Astral Union yang panik di depan gerbang
sektor bawah.
"Tahan posisi! Temb, !"
Belum sempat sersan Astral Union itu menyelesaikan perintahnya, Gorgon sudah
melesat. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia, melainkan kilatan baja yang
didorong oleh mesin hidrolik. Pedang getar hitamnya mengayun dalam busur
horizontal yang sempurna.
Srak!Tiga prajurit di barisan depan terbelah menjadi dua bahkan sebelum mereka
sempat menarik pelatuk. Darah menyemprot ke pelindung dada Gorgon, namun ia
tidak berhenti. Ia mencengkeram helm seorang prajurit muda dengan tangan
kirinya, lalu menghantamkan kepala itu ke dinding beton hingga retak,
membiarkan tubuh tak bernyawa itu merosot seperti boneka kain.
"Ini yang kalian banggakan?" geram Gorgon. Suaranya bergema di balik
interkom helmnya yang dingin.
Pasukan Black Vanguard di belakangnya mulai melepaskan tembakan beruntun.
Mereka tidak sekadar menembak untuk melumpuhkan; mereka menembak untuk
menghancurkan. Peluru kaliber berat mereka merobek perlindungan energi Astral
Union, mengubah medan perang menjadi ruang jagal.
Gorgon menerjang ke tengah kerumunan musuh yang mencoba mundur. Ia
memutar pedangnya, memotong lengan yang memegang senjata, menendang dada
seorang prajurit hingga tulang rusuknya remuk ke dalam, dan menggunakan tubuh
tawanan sebagai tameng manusia sebelum mengeksekusinya dengan tembakan
jarak dekat di bawah dagu.
Seorang kapten Astral Union mencoba menyerang dari samping dengan belati
laser. Gorgon menangkap pergelangan tangan pria itu, memelintirnya hingga bunyi
patahan tulang terdengar jelas di atas bisingnya tembakan, lalu dengan dingin
menusukkan bilah hitamnya sendiri ke leher sang kapten.
Gorgon mengangkat tubuh kapten yang sekarat itu tinggi-tinggi, membiarkan
pasukan Astral Union yang tersisa melihat pemimpin mereka meregang nyawa.
"Panggil dia," desis Gorgon, matanya tertuju pada sensor di pergelangan
tangannya yang mendeteksi tanda vital yang sangat kuat di bawah tanah. "Katakan
pada Warden kalian bahwa pemangsa yang sebenarnya telah tiba."
Ia menjatuhkan mayat itu ke tanah dan menginjak kepalanya hingga hancur di
bawah sepatu bot besinya. Rasa haus darahnya belum terpuaskan. Setiap jeritan
musuh bagaikan musik di telinganya, dan ia tidak akan berhenti sampai ia
menemukan sosok berpendar ungu yang telah membantai pasukannya di
terowongan tadi.Di kejauhan, menara observatorium menjulang, menjadi saksi bisu kebrutalan
sang pewaris Varkhen yang sedang membuka jalan setapak dari tumpukan mayat.
Gorgon Killian melangkah melewati tumpukan mayat prajurit Astral Union yang
masih mengeluarkan asap dari luka bakar laser. Ia tidak lagi memedulikan sisa-sisa
perlawanan infanteri musuh; baginya, mereka tak lebih dari serangga yang terinjak
dalam perjalanan menuju mangsa yang sebenarnya. Sepatu bot besinya yang berat
berdenting di atas lantai logam koridor utama menuju pusat komunikasi,
meninggalkan jejak darah kental yang terseret di belakangnya.
"Sensor bio-metrik," geram Gorgon melalui saluran internal helmnya. "Cari
anomali energi Titan Serum. Aku tidak ingin membuang waktu dengan manusia-
manusia lemah ini."
Di layar HUD (Heads-Up Display) miliknya, sebuah grafik frekuensi berdenyut
tidak stabil. Ada gelombang panas dan aktivitas seluler yang melampaui batas
normal manusia di sektor bawah menara. Itu bukan sekadar tanda kehidupan; itu
adalah tanda kehancuran yang bergerak.
Gorgon berhenti di depan sebuah pintu baja hidrolik yang telah terkoyak paksa
dari engselnya, seolah-olah ada monster yang merobeknya dengan tangan kosong.
Ia menyentuh pinggiran logam yang melengkung itu, merasakan panas sisa dari
tenaga murni yang dikeluarkan untuk menghancurkannya. Senyum tipis kembali
menghiasi wajahnya yang pucat.
"Kau ada di dekat sini, Astrael," bisik Gorgon. Ia mematikan mode tembak
otomatis pada senapan plasma beratnya dan menarik pedang getar hitamnya. Ia
ingin merasakan sensasi benturan fisik, getaran tulang yang retak, dan tatapan
mata musuhnya saat nyawa mereka meredup.
Tiba-tiba, suara ledakan bergema dari arah lift kargo di ujung lorong. Debu beton
beterbangan, menutupi pandangan. Dari balik kabut abu-abu itu, sepasang mata
bercahaya ungu terang muncul, setajam laser yang menembus kegelapan. Postur
raksasa setinggi dua meter berdiri tegak di sana, dengan baju zirah yang hancur di
beberapa bagian namun otot-otot di bawahnya tampak berdenyut dengan kekuatan
yang tidak alami.Gorgon tertawa pendek, suara yang kering dan tanpa jiwa. "Jadi, ini dia.
'Malaikat' pembalas dendam dari Astrael yang tersisa. Aku sudah melihat
rekamanmu membantai anak buahku di terowongan. Gerakan yang efisien, tapi
terlalu banyak emosi di dalamnya. Kau bertarung seperti binatang yang terluka,
bukan seperti pemenang."
Holden Arka tidak menjawab. Mutisme selektifnya tetap bertahan, namun aura
di sekelilingnya bicara lebih keras dari kata-kata. Ia merendahkan tubuhnya,
tangan kanannya mengepal hingga sarung tangan besinya berderit protes. Cairan
hitam, campuran darah musuh dan oli mesin, menetes dari jemarinya.
Gorgon melangkah maju, memutar pedang hitamnya hingga memercikkan
bunga api saat bergesekan dengan dinding koridor. "Ayo, Warden. Tunjukkan
padaku apakah serum itu benar-benar bisa mengubah pecundang yang kehilangan
ibunya menjadi sesuatu yang pantas untuk kubunuh. Aku bosan dengan
peperangan yang terlalu mudah."
Tanpa peringatan, Holden melesat. Lantai beton di bawah kakinya retak saat ia
menerjang maju dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan mata manusia
biasa. Gorgon menyambut serangan itu dengan raungan haus darah, mengangkat
pedangnya untuk membelah badai ungu yang sedang menuju ke arahnya. Di pusat
menara yang mulai runtuh, dua simbol kehancuran dari dua dunia yang berbeda
akhirnya bertabrakan, memulai simfoni kekerasan yang akan menentukan nasib
Lycora.
Dentuman antara pedang getar hitam Gorgon dan tinju berlapis baja Holden
menciptakan gelombang kejut yang memecahkan kaca-kaca di koridor Menara
Observatorium. Percikan api ungu dan merah menyambar, menerangi wajah
keduanya yang terkunci dalam jarak dekat.
Gorgon menekan bilah pedangnya, otot-otot lengannya menegang melawan
kekuatan kasar Titan Serum. "Kau terlalu lambat untuk ukuran seorang
eksperimen, Warden!" ejek Gorgon. Ia memutar tubuhnya, melepaskan tendangan
bertenaga hidrolik ke arah ulu hati Holden.Holden terlempar ke belakang, namun ia melakukan backflip sempurna dan