ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #40

DARAH DAN BAJA

Di atas anjungan kapal perusak Ashen-Breaker yang melayang di orbit rendah

Lycora, kegelapan adalah satu-satunya warna yang diakui. Gorgon Killian berdiri

mematung di depan jajaran layar hologram yang memancarkan cahaya biru pucat

ke wajahnya yang kaku. Di bahunya, lambang Varkhen berkilat tertimpa cahaya

indikator.

Matanya tidak berkedip saat menatap transmisi langsung dari unit Black

Vanguard di terowongan bawah tanah.

Rekaman itu goyang dan penuh gangguan statis, namun pemandangannya jelas:

pembantaian. Melalui kamera helm salah satu prajuritnya, Gorgon melihat sesosok

bayangan raksasa menerjang keluar dari kegelapan. Itu bukan manusia, itu adalah

badai otot dan amarah yang berpendar ungu.

"Mundur! Dia terlalu cep—!"

Suara di audio transmisi terputus dengan bunyi krak yang memuakkan saat

bayangan itu menghantam sang prajurit. Layar seketika berubah menjadi semut

statis merah. Satu per satu, sinyal vitalitas dari unit pelacak di sudut layar berubah

dari hijau menjadi abu-abu mati.

Gorgon tidak marah. Sebaliknya, sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Luar biasa," bisik Gorgon. Suaranya rendah, bergetar dengan nada yang hampir

menyerupai rasa kagum yang sakit. "Sentra Warden. Jadi ini hasil dari Titan Serum

yang mereka bangga-banggakan."

Di belakangnya, seorang perwira muda Varkhen gemetar saat melaporkan status.

"Tuan... Unit Black Vanguard di sektor empat belas telah musnah sepenuhnya.

Target bergerak menuju Menara Observatorium. Haruskah kita membombardir

area tersebut dari orbit?"

Gorgon berbalik perlahan. Tatapannya membuat perwira itu menahan napas.

"Membombardirnya? Dan kehilangan kesempatan untuk melihat monster itu dari

dekat?"Gorgon berjalan menuju rak senjatanya. Ia mengambil sebuah pedang getar

berat yang bilahnya berwarna hitam pekat dan memasangkan pelindung dada

besinya yang tebal. Setiap gerakannya presisi, seperti mesin yang sedang

dikalibrasi.

"Ayahku selalu bilang bahwa ketakutan adalah fondasi yang stabil," kata Gorgon

sambil mengunci sarung tangannya. "Tapi dia lupa bahwa untuk menciptakan

ketakutan yang abadi, kau harus menghancurkan harapan terbesar musuhmu di

depan mata mereka sendiri."

Ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela anjungan. Di luar, planet Lycora

tampak membara oleh api peperangan.

"Siapkan kapsul peluncuran pribadi," perintah Gorgon. "Astrael itu ingin menjadi

pahlawan di bawah tanah. Aku akan menemuinya di Menara, dan memastikan dia

mati sebagai kegagalan terakhir Astral Union."

Darahnya berdesir. Rasa tidak sabar itu membakar dadanya lebih panas

daripada mesin jet kapal perang di bawah kakinya. Bagi Gorgon, ini bukan sekadar

strategi militer. Ini adalah perburuan yang sudah lama ia nantikan.

Kapsul peluncuran itu menghantam tanah Lycora dengan dentuman yang

menggetarkan fondasi kota. Pintu palka terlempar meledak, melepaskan uap dingin

yang segera tercampur dengan bau amis darah dan mesiu.

Gorgon Killian melangkah keluar dari kepulan asap. Di belakangnya, dua lusin

prajurit Black Vanguard bergerak dalam formasi simetris, senjata mereka sudah

terkunci ke arah barisan pertahanan Astral Union yang panik di depan gerbang

sektor bawah.

"Tahan posisi! Temb, !"

Belum sempat sersan Astral Union itu menyelesaikan perintahnya, Gorgon sudah

melesat. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia, melainkan kilatan baja yang

didorong oleh mesin hidrolik. Pedang getar hitamnya mengayun dalam busur

horizontal yang sempurna.

Srak!Tiga prajurit di barisan depan terbelah menjadi dua bahkan sebelum mereka

sempat menarik pelatuk. Darah menyemprot ke pelindung dada Gorgon, namun ia

tidak berhenti. Ia mencengkeram helm seorang prajurit muda dengan tangan

kirinya, lalu menghantamkan kepala itu ke dinding beton hingga retak,

membiarkan tubuh tak bernyawa itu merosot seperti boneka kain.

"Ini yang kalian banggakan?" geram Gorgon. Suaranya bergema di balik

interkom helmnya yang dingin.

Pasukan Black Vanguard di belakangnya mulai melepaskan tembakan beruntun.

Mereka tidak sekadar menembak untuk melumpuhkan; mereka menembak untuk

menghancurkan. Peluru kaliber berat mereka merobek perlindungan energi Astral

Union, mengubah medan perang menjadi ruang jagal.

Gorgon menerjang ke tengah kerumunan musuh yang mencoba mundur. Ia

memutar pedangnya, memotong lengan yang memegang senjata, menendang dada

seorang prajurit hingga tulang rusuknya remuk ke dalam, dan menggunakan tubuh

tawanan sebagai tameng manusia sebelum mengeksekusinya dengan tembakan

jarak dekat di bawah dagu.

Seorang kapten Astral Union mencoba menyerang dari samping dengan belati

laser. Gorgon menangkap pergelangan tangan pria itu, memelintirnya hingga bunyi

patahan tulang terdengar jelas di atas bisingnya tembakan, lalu dengan dingin

menusukkan bilah hitamnya sendiri ke leher sang kapten.

Gorgon mengangkat tubuh kapten yang sekarat itu tinggi-tinggi, membiarkan

pasukan Astral Union yang tersisa melihat pemimpin mereka meregang nyawa.

"Panggil dia," desis Gorgon, matanya tertuju pada sensor di pergelangan

tangannya yang mendeteksi tanda vital yang sangat kuat di bawah tanah. "Katakan

pada Warden kalian bahwa pemangsa yang sebenarnya telah tiba."

Ia menjatuhkan mayat itu ke tanah dan menginjak kepalanya hingga hancur di

bawah sepatu bot besinya. Rasa haus darahnya belum terpuaskan. Setiap jeritan

musuh bagaikan musik di telinganya, dan ia tidak akan berhenti sampai ia

menemukan sosok berpendar ungu yang telah membantai pasukannya di

terowongan tadi.Di kejauhan, menara observatorium menjulang, menjadi saksi bisu kebrutalan

sang pewaris Varkhen yang sedang membuka jalan setapak dari tumpukan mayat.

Gorgon Killian melangkah melewati tumpukan mayat prajurit Astral Union yang

masih mengeluarkan asap dari luka bakar laser. Ia tidak lagi memedulikan sisa-sisa

perlawanan infanteri musuh; baginya, mereka tak lebih dari serangga yang terinjak

dalam perjalanan menuju mangsa yang sebenarnya. Sepatu bot besinya yang berat

berdenting di atas lantai logam koridor utama menuju pusat komunikasi,

meninggalkan jejak darah kental yang terseret di belakangnya.

"Sensor bio-metrik," geram Gorgon melalui saluran internal helmnya. "Cari

anomali energi Titan Serum. Aku tidak ingin membuang waktu dengan manusia-

manusia lemah ini."

Di layar HUD (Heads-Up Display) miliknya, sebuah grafik frekuensi berdenyut

tidak stabil. Ada gelombang panas dan aktivitas seluler yang melampaui batas

normal manusia di sektor bawah menara. Itu bukan sekadar tanda kehidupan; itu

adalah tanda kehancuran yang bergerak.

Gorgon berhenti di depan sebuah pintu baja hidrolik yang telah terkoyak paksa

dari engselnya, seolah-olah ada monster yang merobeknya dengan tangan kosong.

Ia menyentuh pinggiran logam yang melengkung itu, merasakan panas sisa dari

tenaga murni yang dikeluarkan untuk menghancurkannya. Senyum tipis kembali

menghiasi wajahnya yang pucat.

"Kau ada di dekat sini, Astrael," bisik Gorgon. Ia mematikan mode tembak

otomatis pada senapan plasma beratnya dan menarik pedang getar hitamnya. Ia

ingin merasakan sensasi benturan fisik, getaran tulang yang retak, dan tatapan

mata musuhnya saat nyawa mereka meredup.

Tiba-tiba, suara ledakan bergema dari arah lift kargo di ujung lorong. Debu beton

beterbangan, menutupi pandangan. Dari balik kabut abu-abu itu, sepasang mata

bercahaya ungu terang muncul, setajam laser yang menembus kegelapan. Postur

raksasa setinggi dua meter berdiri tegak di sana, dengan baju zirah yang hancur di

beberapa bagian namun otot-otot di bawahnya tampak berdenyut dengan kekuatan

yang tidak alami.Gorgon tertawa pendek, suara yang kering dan tanpa jiwa. "Jadi, ini dia.

'Malaikat' pembalas dendam dari Astrael yang tersisa. Aku sudah melihat

rekamanmu membantai anak buahku di terowongan. Gerakan yang efisien, tapi

terlalu banyak emosi di dalamnya. Kau bertarung seperti binatang yang terluka,

bukan seperti pemenang."

Holden Arka tidak menjawab. Mutisme selektifnya tetap bertahan, namun aura

di sekelilingnya bicara lebih keras dari kata-kata. Ia merendahkan tubuhnya,

tangan kanannya mengepal hingga sarung tangan besinya berderit protes. Cairan

hitam, campuran darah musuh dan oli mesin, menetes dari jemarinya.

Gorgon melangkah maju, memutar pedang hitamnya hingga memercikkan

bunga api saat bergesekan dengan dinding koridor. "Ayo, Warden. Tunjukkan

padaku apakah serum itu benar-benar bisa mengubah pecundang yang kehilangan

ibunya menjadi sesuatu yang pantas untuk kubunuh. Aku bosan dengan

peperangan yang terlalu mudah."

Tanpa peringatan, Holden melesat. Lantai beton di bawah kakinya retak saat ia

menerjang maju dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan mata manusia

biasa. Gorgon menyambut serangan itu dengan raungan haus darah, mengangkat

pedangnya untuk membelah badai ungu yang sedang menuju ke arahnya. Di pusat

menara yang mulai runtuh, dua simbol kehancuran dari dua dunia yang berbeda

akhirnya bertabrakan, memulai simfoni kekerasan yang akan menentukan nasib

Lycora.

Dentuman antara pedang getar hitam Gorgon dan tinju berlapis baja Holden

menciptakan gelombang kejut yang memecahkan kaca-kaca di koridor Menara

Observatorium. Percikan api ungu dan merah menyambar, menerangi wajah

keduanya yang terkunci dalam jarak dekat.

Gorgon menekan bilah pedangnya, otot-otot lengannya menegang melawan

kekuatan kasar Titan Serum. "Kau terlalu lambat untuk ukuran seorang

eksperimen, Warden!" ejek Gorgon. Ia memutar tubuhnya, melepaskan tendangan

bertenaga hidrolik ke arah ulu hati Holden.Holden terlempar ke belakang, namun ia melakukan backflip sempurna dan

Lihat selengkapnya