ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #41

MESIN


Lycora tidak lagi bernapas. Di atas sana, langit yang membusuk menghujani

daratan dengan sisa-sisa atmosfer yang terbakar, namun di dalam Menara

Observatorium, ancaman yang lebih dingin baru saja tiba.

Vorn Killian tidak butuh waktu lama untuk merespons kematian putranya. Ia

tidak mengirim tentara berdarah panas yang bisa merasakan takut. Dari perut

kapal induk The Harbinger, ia melepas Unit Zero, ekspansi eksperimen terlarang

Varkhen. Mereka adalah manusia yang jiwanya telah dikikis habis, digantikan oleh

sirkuit saraf buatan dan tungku energi di dalam dada mereka. Manusia setengah

mesin yang tidak mengenal rasa sakit.

Di saat yang sama, ribuan legiun mesin Dead-Drones meluncur seperti kawanan

belalang logam dari orbit, mengepung Lycora untuk memastikan tidak ada satu pun

saksi hidup yang keluar dari reruntuhan.

"Holden! Menara ini tidak akan bertahan lima menit lagi!" suara Jace bergema di

interkom, terputus-putus oleh gangguan elektromagnetik. "Serangan udara Varkhen

mulai meruntuhkan struktur utama! Kau harus keluar sekarang!"

Holden tidak menjawab. Napasnya berat, uap panas keluar dari paru-parunya

yang mulai teriritasi oksigen tipis. Ia melangkah menuju koridor sempit di lantai

bawah, tangannya menyeret pedang getar yang masih menyisakan darah Gorgon.

Tiba-tiba, sensor di helmnya berteriak.

BUM!

Pintu hidrolik di depannya hancur berkeping-keping, bukan karena ledakan, tapi

karena hantaman fisik yang luar biasa. Dari balik debu, tiga sosok muncul. Mereka

lebih tinggi dari prajurit biasa, zirah mereka menyatu dengan kulit yang pucat

keabu-abuan. Mata mereka tidak memiliki pupil, hanya lensa merah yang berputar

pelan saat mengunci target.Tanpa suara, salah satu Unit Zero menerjang. Gerakannya tidak alami, patah-

patah namun secepat kilat. Sebuah pedang plasma yang tertanam langsung di

pergelangan tangannya menebas udara, nyaris membelah dada Holden.

Holden menghindar, punggungnya menabrak dinding koridor yang sempit.

Ruangan itu terasa menjepit. Di atas mereka, langit-langit menara berderit hebat

saat rudal armada Varkhen menghantam puncak bangunan. Bongkahan beton

jatuh, mempersempit ruang gerak.

Drak!

Holden menangkap lengan mesin musuh itu, mencoba mematahkannya dengan

kekuatan Titan Serum. Namun, tidak ada suara tulang patah. Yang terdengar

hanyalah gesekan logam dan desis hidrolik. Makhluk itu tidak mengerang; ia justru

memutar kepalanya 180 derajat dan menembakkan laser kecil dari balik pelindung

wajahnya tepat ke bahu Holden.

"Argh!" Holden menggeram. Darah ungu merembes dari bahunya.

Ia menyadari satu hal: ia tidak sedang bertarung dengan prajurit. Ia sedang

bertarung dengan algoritma pembunuh.

Di koridor yang kini miring dan berguncang hebat, Holden melakukan serangan

balasan yang membabi buta. Ia menggunakan sempitnya ruang untuk membatasi

Lihat selengkapnya