Di dalam ruang kendali taktis kapal perusak Iron Sovereign, Evan Calder berdiri
dengan tangan terlipat di belakang punggung. Cahaya hologram dari meja
pemetaan memantulkan binar dingin di kacamata monokel elektroniknya. Di
hadapannya, ribuan aliran data dari permukaan Lycora mengalir deras, angka
kematian, sisa amunisi, dan status struktural Menara Observatorium yang kini
tinggal puing-puing berasap.
Evan tidak merasakan kesedihan saat melihat titik-titik hijau yang menandai unit
Black Vanguard menghilang satu per satu dari radar. Baginya, prajurit biologis
hanyalah variabel yang tidak efisien.
"Lapor, Komandan Calder," suara statis dari operator di lantai bawah memecah
keheningan. "Visual terakhir mengonfirmasi kematian Sang Pewaris, Gorgon
Killian. Subjek target, Sentra Warden, berhasil dievakuasi oleh kapal jemputan
pemberontak tepat sebelum menara kolaps."
Evan Calder hanya mendengus kecil, sebuah suara mekanis halus terdengar saat
ia menyesuaikan posisi monokelnya. "Gorgon selalu terlalu sombong dengan otot
dan pedangnya. Itulah kelemahan manusia; emosi membuat mereka lambat dan
mudah diprediksi."
Ia berjalan mendekati jendela observasi besar, menatap ke arah Lycora yang kini
terbungkus kabut merah kiamat. Di bawah sana, sisa-isisa pasukan infanteri
Varkhen yang masih hidup sedang dibantai oleh kekacauan atmosfer dan gerilya
pemberontak. Namun, bagi Evan, kekalahan ini hanyalah data mentah untuk
menyempurnakan algoritmanya.
"Aktifkan Protokol Steel Rain," perintah Evan dingin. Suaranya datar, tanpa beban
moral sedikit pun. "Kirim bantuan tambahan ke sektor daratan."
"Komandan? Masih ada unit infanteri kita yang terjebak di zona reruntuhan. Jika
kita mengirim pasukan mesin dalam skala penuh sekarang, mereka akan, ""Mereka sudah dianggap gagal, Operator," potong Evan tajam. "Vorn Killian
menginginkan hasil, bukan laporan tentang prajurit yang ketakutan. Jika daging
tidak bisa menyelesaikan tugas ini, maka logam yang akan melakukannya."
Evan menekan serangkaian kode di konsol pribadinya. Di layar utama, pintu
hanggar raksasa di bawah kapal induk The Harbinger terbuka. Ribuan unit Dread-
Drones dan Crawler-Tanks tanpa awak mulai diluncurkan. Berbeda dengan prajurit
biasa, pasukan ini bergerak dalam sinkronisasi sempurna, dikendalikan oleh Hive-
Mind yang pusatnya berada di bawah kendali saraf Evan sendiri.
"Kirim Legiun Mesin untuk melacak koordinat terakhir kapal evakuasi
pemberontak," lanjut Evan. "Jangan berikan mereka ruang untuk bernapas. Bakar
setiap inci tanah yang mereka injak. Dan pastikan Unit Zero yang tersisa beralih ke
mode Overload."
Evan Calder menatap layar taktis saat ribuan titik merah baru mulai memenuhi
peta Lycora, bergerak seperti virus yang menyebar cepat. Baginya, perang ini
bukan lagi soal keberanian atau kehormatan Astrael. Ini adalah masalah efisiensi
murni.
"Selamat datang di era baru, Warden," bisik Evan sambil menatap titik radar
Holden yang menjauh. "Di mana rasa sakitmu tidak akan berarti apa-apa di
hadapan mesin yang tidak punya hati."
Di kejauhan, badai mesin mulai turun dari langit Lycora, siap melahap apa pun
yang tersisa dari dunia yang sedang sekarat itu.
Evan Calder berdiri di anjungan taktis Iron Sovereign, dikelilingi oleh dinding
sirkuit yang berdenyut dengan cahaya biru pucat yang ritmis. Di hadapannya, peta
hologram Lycora bukan lagi sekadar wilayah geografis, melainkan hamparan data
yang dikuliti hingga ke tingkat atom. Ia tidak melihat kematian prajurit Varkhen
sebagai tragedi; baginya, setiap nyawa yang hilang hanyalah pengurangan unit