ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #42

ALGORITMA PEMUSNAHAN

Di dalam ruang kendali taktis kapal perusak Iron Sovereign, Evan Calder berdiri

dengan tangan terlipat di belakang punggung. Cahaya hologram dari meja

pemetaan memantulkan binar dingin di kacamata monokel elektroniknya. Di

hadapannya, ribuan aliran data dari permukaan Lycora mengalir deras, angka

kematian, sisa amunisi, dan status struktural Menara Observatorium yang kini

tinggal puing-puing berasap.

Evan tidak merasakan kesedihan saat melihat titik-titik hijau yang menandai unit

Black Vanguard menghilang satu per satu dari radar. Baginya, prajurit biologis

hanyalah variabel yang tidak efisien.

"Lapor, Komandan Calder," suara statis dari operator di lantai bawah memecah

keheningan. "Visual terakhir mengonfirmasi kematian Sang Pewaris, Gorgon

Killian. Subjek target, Sentra Warden, berhasil dievakuasi oleh kapal jemputan

pemberontak tepat sebelum menara kolaps."

Evan Calder hanya mendengus kecil, sebuah suara mekanis halus terdengar saat

ia menyesuaikan posisi monokelnya. "Gorgon selalu terlalu sombong dengan otot

dan pedangnya. Itulah kelemahan manusia; emosi membuat mereka lambat dan

mudah diprediksi."

Ia berjalan mendekati jendela observasi besar, menatap ke arah Lycora yang kini

terbungkus kabut merah kiamat. Di bawah sana, sisa-isisa pasukan infanteri

Varkhen yang masih hidup sedang dibantai oleh kekacauan atmosfer dan gerilya

pemberontak. Namun, bagi Evan, kekalahan ini hanyalah data mentah untuk

menyempurnakan algoritmanya.

"Aktifkan Protokol Steel Rain," perintah Evan dingin. Suaranya datar, tanpa beban

moral sedikit pun. "Kirim bantuan tambahan ke sektor daratan."

"Komandan? Masih ada unit infanteri kita yang terjebak di zona reruntuhan. Jika

kita mengirim pasukan mesin dalam skala penuh sekarang, mereka akan, ""Mereka sudah dianggap gagal, Operator," potong Evan tajam. "Vorn Killian

menginginkan hasil, bukan laporan tentang prajurit yang ketakutan. Jika daging

tidak bisa menyelesaikan tugas ini, maka logam yang akan melakukannya."

Evan menekan serangkaian kode di konsol pribadinya. Di layar utama, pintu

hanggar raksasa di bawah kapal induk The Harbinger terbuka. Ribuan unit Dread-

Drones dan Crawler-Tanks tanpa awak mulai diluncurkan. Berbeda dengan prajurit

biasa, pasukan ini bergerak dalam sinkronisasi sempurna, dikendalikan oleh Hive-

Mind yang pusatnya berada di bawah kendali saraf Evan sendiri.

"Kirim Legiun Mesin untuk melacak koordinat terakhir kapal evakuasi

pemberontak," lanjut Evan. "Jangan berikan mereka ruang untuk bernapas. Bakar

setiap inci tanah yang mereka injak. Dan pastikan Unit Zero yang tersisa beralih ke

mode Overload."

Evan Calder menatap layar taktis saat ribuan titik merah baru mulai memenuhi

peta Lycora, bergerak seperti virus yang menyebar cepat. Baginya, perang ini

bukan lagi soal keberanian atau kehormatan Astrael. Ini adalah masalah efisiensi

murni.

"Selamat datang di era baru, Warden," bisik Evan sambil menatap titik radar

Holden yang menjauh. "Di mana rasa sakitmu tidak akan berarti apa-apa di

hadapan mesin yang tidak punya hati."

Di kejauhan, badai mesin mulai turun dari langit Lycora, siap melahap apa pun

yang tersisa dari dunia yang sedang sekarat itu.

Evan Calder berdiri di anjungan taktis Iron Sovereign, dikelilingi oleh dinding

sirkuit yang berdenyut dengan cahaya biru pucat yang ritmis. Di hadapannya, peta

hologram Lycora bukan lagi sekadar wilayah geografis, melainkan hamparan data

yang dikuliti hingga ke tingkat atom. Ia tidak melihat kematian prajurit Varkhen

sebagai tragedi; baginya, setiap nyawa yang hilang hanyalah pengurangan unit

Lihat selengkapnya