Laksamana David berdiri kokoh di anjungan utama kapal induk Indomitable. Di
balik layar pandang raksasa, kegelapan ruang angkasa kini terkoyak oleh ribuan
garis cahaya plasma. Armada Bayangan Varkhen telah merajut formasi tempur
yang belum pernah terlihat sebelumnya, sebuah barisan kapal perusak hitam
legam yang bergerak dalam sinkronisasi sempurna, seolah dikendalikan oleh satu
otak yang dingin.
"Laksamana, radar mendeteksi tiga kapal induk kelas Eclipsis keluar dari
gerbang warp di sektor belakang!" lapor petugas sensor dengan nada mendesak.
"Mereka mencoba melakukan manuver penjepit. Armada sayap kiri kita mulai
kehilangan integritas perisai!"
David menatap peta holografik yang berkedip-kedip di hadapannya. Ia tidak
gentar. Wajahnya yang dihiasi gurat-gurat pengalaman tempur selama puluhan
tahun tetap tenang, meski guncangan hebat dari tembakan meriam gravitasi
musuh terus menghantam lambung Indomitable.
"Alihkan seluruh energi cadangan ke perisai sektor belakang. Perintahkan kapal-
kapal perusak kelas Centurion untuk membentuk formasi kura-kura di depan
armada utama," perintah David, suaranya berat namun tajam. "Kita tidak akan
membiarkan mereka menembus barisan. Aktifkan meriam rel jarak jauh, bidik
kapal induk pusat mereka. Jika mereka ingin menari di orbit ini, kita beri mereka
simfoni kehancuran."
Pertempuran itu berubah menjadi adu kekuatan baja dan energi. Ribuan jet
tempur Star-Interceptors meluncur dari hanggar Indomitable, terlibat dalam duel
maut dengan kawanan Dread-Drones Varkhen di sela-sela bangkai kapal yang
meledak. Ruang hampa kini penuh dengan puing-puing logam dan radiasi yang
menyilaukan mata.
"Laksamana, transmisi dari The Harbinger terdeteksi. Vorn Killian mencoba
mengunci sistem navigasi kita melalui serangan siber!"David menyipitkan mata. "Isolasi sistem utama. Gunakan mode manual untuk
penembakan meriam primer. Mereka pikir mesin dan algoritma bisa
memenangkan perang ini? Tunjukkan pada mereka bahwa keberanian manusia
tidak bisa dikalkulasi."
Tiba-tiba, sebuah ledakan hebat mengguncang anjungan hingga lampu-lampu
berpijar merah. Kapal induk musuh, The Harbinger, mulai memuntahkan tembakan
meriam laser raksasa yang merobek ruang, menghantam perisai Indomitable
hingga mencapai titik kritis.
"Perisai di angka delapan persen, Laksamana! Kita tidak akan kuat menahan
tembakan kedua!"
David maju selangkah, menatap langsung ke arah kapal induk musuh yang
tampak seperti monster raksasa di kejauhan. "Jangan mundur. Arahkan haluan
kapal tepat ke jantung armada mereka. Semua meriam, tembakkan secara serentak
pada koordinat nol. Kita akan menembus barisan mereka atau kita akan membawa
mereka semua bersama kita!"
Di bawah komando David, Indomitable meraung maju, membelah hujan peluru
plasma musuh dalam sebuah serangan balik yang epik. Ini bukan lagi soal taktik
murni; ini adalah pertempuran kehendak antara seorang komandan veteran dan
mesin perang Varkhen yang tak kenal ampun.
Anjungan Indomitable berguncang hebat, suara alarm sistem perisai melengking
seperti jeritan di tengah hiruk-pikuk tembakan meriam. David mencengkeram
pegangan kursi komandonya, matanya menatap tajam ke arah awan plasma yang
meledak di depan haluan kapal.
"Laksamana! Sayap kanan kapal induk Aegis hancur! Mereka melakukan
serangan bunuh diri dengan menabrakkan kapal-kapal pemantik api ke jantung
pertahanan kita!" teriak perwira komunikasi.
David melihat melalui jendela pandang. Di tengah kehampaan, kapal induk
musuh, The Harbinger, melepaskan gelombang rudal termal yang menghiasi ruang
angkasa seperti kembang api kematian. David tahu, Varkhen tidak sedang
bertempur untuk menang; mereka bertempur untuk memusnahkan."Jangan beri mereka ruang untuk bernapas!" suara David menggelegar,
mengatasi suara bising ledakan. "Gunakan protokol Manual Overdrive. Matikan
sinkronisasi komputer navigasi agar mereka tidak bisa meretas lintasan kita.
Semua meriam railgun, arahkan ke reaktor mesin mereka. Kita tembak secara buta
jika perlu!"
Di luar, ribuan pesawat tempur Interceptors terbang di sela-sela ledakan raksasa.