Astrael tidak pernah terasa sesunyi ini, meski suara ledakan terus merobek
udara. Sirine peringatan dini perlahan mati, bukan karena ancaman berakhir, tapi
karena menara pemancarnya telah meleleh dihantam proyektil pertama. Di atas
sana, langit biru kebanggaan mereka telah hilang, berganti dengan selimut merah
membara dari ribuan Steel Rain yang menembus atmosfer.
Lio berdiri di ambang pintu masuk Sektor 7—satu dari sedikit bunker
perlindungan yang masih berfungsi. Tangannya yang gemetar memegang radio
panggil yang hanya mengeluarkan suara statis. Tidak ada sinyal dari orbit. Tidak
ada kabar dari armada Lycora. Tidak ada Holden.
"Masuk! Jangan berhenti!" teriak Lio, suaranya parau tertutup debu beton.
Seorang anak kecil laki-laki berdiri mematung di tengah jalanan yang retak,
menatap ke langit dengan mata kosong. Lio merasakan dejavu yang menyakitkan;
pemandangan itu persis seperti Holden tiga belas tahun yang lalu. Tanpa berpikir
panjang, Lio berlari menerjang kerumunan, menyambar tubuh anak itu tepat saat
sebuah pilar energi merah menghantam gedung arsip di seberang jalan.
BOOM!
Gelombang panas melemparkan Lio ke aspal. Dunia mendadak sunyi, hanya ada
denging panjang di telinganya dan debu putih yang menyelimuti pandangan. Lio
terbatuk, berusaha bangkit sambil mendekap anak itu. Di sekelilingnya,
pemandangan berubah menjadi neraka. Gedung-gedung Astrael runtuh satu per
satu, menjadi puing yang membara.
"Kak... langitnya marah," bisik anak itu di pelukan Lio, suaranya gemetar hebat.
Lio tidak bisa menjawab. Ia melihat ke arah gerbang bunker yang mulai tertutup
otomatis karena sensor mendeteksi radiasi tinggi. "Tunggu! Masih ada orang di
luar!" teriaknya ke arah interkom, namun gerbang baja itu tetap bergeser menutup
dengan suara logam yang dingin.Tiba-tiba, seluruh lampu kota yang tersisa padam serentak. Kegelapan total
menyergap. Lio tahu apa artinya—Pemerintah Astrael baru saja mengaktifkan
Protokol Aegis, menarik seluruh daya planet untuk membangkitkan perisai energi
kuno.
Di atas kepala mereka, sebuah kubah biru tipis mulai berpendar, beradu dengan
hujan proyektil merah Varkhen. Ledakan demi ledakan terjadi di lapisan atmosfer,