ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #44

HUJAN API DI ATAS ASTRAEL

Astrael tidak pernah terasa sesunyi ini, meski suara ledakan terus merobek

udara. Sirine peringatan dini perlahan mati, bukan karena ancaman berakhir, tapi

karena menara pemancarnya telah meleleh dihantam proyektil pertama. Di atas

sana, langit biru kebanggaan mereka telah hilang, berganti dengan selimut merah

membara dari ribuan Steel Rain yang menembus atmosfer.

Lio berdiri di ambang pintu masuk Sektor 7—satu dari sedikit bunker

perlindungan yang masih berfungsi. Tangannya yang gemetar memegang radio

panggil yang hanya mengeluarkan suara statis. Tidak ada sinyal dari orbit. Tidak

ada kabar dari armada Lycora. Tidak ada Holden.

"Masuk! Jangan berhenti!" teriak Lio, suaranya parau tertutup debu beton.

Seorang anak kecil laki-laki berdiri mematung di tengah jalanan yang retak,

menatap ke langit dengan mata kosong. Lio merasakan dejavu yang menyakitkan;

pemandangan itu persis seperti Holden tiga belas tahun yang lalu. Tanpa berpikir

panjang, Lio berlari menerjang kerumunan, menyambar tubuh anak itu tepat saat

sebuah pilar energi merah menghantam gedung arsip di seberang jalan.

BOOM!

Gelombang panas melemparkan Lio ke aspal. Dunia mendadak sunyi, hanya ada

denging panjang di telinganya dan debu putih yang menyelimuti pandangan. Lio

terbatuk, berusaha bangkit sambil mendekap anak itu. Di sekelilingnya,

pemandangan berubah menjadi neraka. Gedung-gedung Astrael runtuh satu per

satu, menjadi puing yang membara.

"Kak... langitnya marah," bisik anak itu di pelukan Lio, suaranya gemetar hebat.

Lio tidak bisa menjawab. Ia melihat ke arah gerbang bunker yang mulai tertutup

otomatis karena sensor mendeteksi radiasi tinggi. "Tunggu! Masih ada orang di

luar!" teriaknya ke arah interkom, namun gerbang baja itu tetap bergeser menutup

dengan suara logam yang dingin.Tiba-tiba, seluruh lampu kota yang tersisa padam serentak. Kegelapan total

menyergap. Lio tahu apa artinya—Pemerintah Astrael baru saja mengaktifkan

Protokol Aegis, menarik seluruh daya planet untuk membangkitkan perisai energi

kuno.

Di atas kepala mereka, sebuah kubah biru tipis mulai berpendar, beradu dengan

hujan proyektil merah Varkhen. Ledakan demi ledakan terjadi di lapisan atmosfer,

Lihat selengkapnya