ASTRAEL

Dio Septian
Chapter #45

ALTAR DENDAM

Di puncak Menara Pusat, keheningan terasa lebih menyesakkan daripada deru

mesin perang di luar. Vorn Killian berdiri mematung di hadapan jendela kaca

raksasa yang memperlihatkan panorama galaksi yang dingin. Namun, matanya

tidak sedang melihat bintang. Ia sedang melihat bayangan masa lalu yang

membusuk di sudut matanya, bayangan Gorgon, putranya, yang jasadnya pulang

dalam keadaan hancur, sebuah piala rusak dari kekalahan yang memalukan.

Vorn menyentuh permukaan meja holografik dengan tangan yang gemetar oleh

amarah yang tertahan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Gorgon

yang kaku, mata yang kehilangan cahaya, dan kehormatan keluarga Killian yang

robek bersama detak jantung terakhir putranya. Kematian tragis itu bukan sekadar

kehilangan ahli waris; bagi Vorn, itu adalah penghinaan terhadap keteraturan yang

ia bangun dengan darah.

"Mereka menganggap nyawa putraku hanyalah statistik," bisik Vorn, suaranya

parau, bergema di ruangan yang luas itu. "Mereka pikir mereka bisa mencabut

masa depanku tanpa membayar harganya."

Kemarahan itu mendidih, bermutasi menjadi sesuatu yang lebih gelap dari

sekadar dendam. Itu menjadi kehendak untuk memusnahkan. Matanya tertuju

pada proyeksi planet Astrael yang berputar pelan, permata biru yang kini terlihat

seperti bisul yang harus dibersihkan. Astrael bukan lagi target strategis; Astrael

adalah altar di mana ia akan membakar seluruh peradaban untuk meratapi

kematian Gorgon.

"Jenderal," suara seorang komandan terdengar dari interkom, ragu-ragu. "Unit

Sentra Warden masih memberikan perlawanan di orbit Lycora. Jika kita

melanjutkan serangan ke Astrael sekarang, kita akan kehilangan kendali atas jalur

industri....""Diam!" raung Vorn. Suaranya menggelegar, meruntuhkan wibawa militer yang

biasanya ia jaga. "Aku tidak peduli pada industri! Aku tidak peduli pada Lycora!

Seluruh galaksi ini bisa hancur menjadi debu asalkan Astrael berhenti bernapas!"

Vorn melangkah maju, tangannya menghantam konsol kendali pusat. Wajahnya

yang kaku kini bengis, otot-otot rahangnya menonjol. Baginya, setiap warga Astrael,

setiap prajurit Astral Union, dan setiap jengkal tanah di planet itu adalah penyebab

penderitaannya. Jika Gorgon tidak bisa memiliki masa depan, maka tidak ada satu

jiwa pun di Astrael yang boleh memilikinya.

"Aktifkan seluruh rangkaian Steel Rain," perintahnya dengan nada dingin yang

mematikan. "Jangan targetkan instalasi militer. Targetkan oksigen mereka.

Targetkan harapan mereka. Aku ingin mereka merasakan sesak yang sama seperti

saat putraku mengembuskan napas terakhirnya di ruang hampa."

"Tapi Jenderal, atmosfer mereka akan runtuh total. Itu akan memusnahkan

seluruh ekosistem...."

"Itulah tujuannya!" Vorn berteriak di depan layar yang kini menampilkan visual

Astrael. "Biarkan planet itu menjadi monumen bagi putraku. Sebuah kuburan

raksasa yang bisa dilihat dari setiap sudut galaksi. Hari ini, Astrael tidak akan

menyerah... Astrael akan berhenti ada."

Vorn Killian menekan tombol eksekusi terakhir dengan ibu jarinya. Di luar sana,

di kegelapan ruang angkasa, ribuan tabung penghancur atmosfer meluncur dari

perut kapal-kapal Varkhen. Mereka jatuh seperti air mata api yang meluncur

menuju Astrael.

Sambil menatap hujan api itu, Vorn menyentuh liontin perak di lehernya, satu-

satunya benda milik Gorgon yang tersisa. Air mata tidak jatuh dari matanya, hanya

kegelapan yang semakin pekat. Ia telah memutuskan untuk menjadi monster yang

akan menghapus sebuah peradaban dari sejarah, hanya agar dunianya yang sunyi

tidak terasa begitu sepi sendirian. Astrael harus mati, karena hidup mereka adalah

hinaan bagi kematian putranya.

***Kesadaran Holden kembali seperti hantaman godam, hal pertama yang ia

rasakan adalah rasa asin darah di mulutnya dan denging panjang di telinganya

yang seolah menolak untuk hilang. Pandangannya kabur, hanya ada kerlip lampu

darurat berwarna merah di dalam kokpit yang hancur.

"Holden! Bangun, sialan! Kita tidak punya waktu!"

Sebuah tangan kasar menyentak bahunya. Pandangan Holden perlahan fokus

pada sosok Jace yang wajahnya tertutup debu dan jelaga. Di belakangnya, Kael

sedang sibuk mengutak-atik konsol di dinding ruangan sempit itu. Mereka tidak lagi

di udara; jet mereka telah hancur atau ditinggalkan. Mereka kini berada di dalam

dek observasi Valkrie-7, stasiun orbital yang berguncang hebat karena tembakan

artileri musuh.

"Apa yang terjadi?" suara Holden serak, nyaris tak terdengar.

"Kapal induk Astraeus mematikan seluruh sistem dukungannya. Radar, perisai,

semuanya mati," geram Jace sambil membantunya berdiri. "Unit kita terbantai di

luar sana. Kita beruntung bisa mendarat darurat di stasiun ini sebelum oksigen kita

habis."

"Evan... di mana beliau?" tanya Holden sambil memegang kepalanya yang

berdenyut.

"Dia masih ada di orbit lycora," Kael menyela tanpa menoleh, jemarinya bergerak

cepat di atas papan ketik virtual yang berpendar lemah. "Dia menggunakan sisa

daya kapal untuk melakukan lompatan kuantum sendirian. Dia meninggalkan kita

semua di Lycora hanya untuk kembali ke Astrael."

Holden tertegun. Rasa dingin yang lebih beku dari ruang hampa menjalar di

punggungnya. Pemimpin yang ia percayai sebagai simbol perlindungan, baru saja

membiarkan pasukannya menjadi umpan meriam demi menyelamatkan satu titik

di galaksi.

"Astrael diserang," lanjut Kael, suaranya bergetar. "Vorn Killian melepaskan Steel

Rain. Jika kita tidak sampai di sana dalam hitungan menit, tidak akan ada rumah

yang tersisa untuk kita tinggali."Holden melangkah maju, menepis rasa sakitnya. Ia menatap ke luar jendela

besar Valkrie-7. Di kejauhan, planet Astrael tampak seperti bola kasti yang mulai

terbakar. Hujan api Vorn terlihat seperti luka-luka merah yang merobek atmosfer.

"Kita punya akses ke unit teleportasi cadangan di stasiun ini?" tanya Holden

tajam.

Lihat selengkapnya