Di puncak Menara Pusat, keheningan terasa lebih menyesakkan daripada deru
mesin perang di luar. Vorn Killian berdiri mematung di hadapan jendela kaca
raksasa yang memperlihatkan panorama galaksi yang dingin. Namun, matanya
tidak sedang melihat bintang. Ia sedang melihat bayangan masa lalu yang
membusuk di sudut matanya, bayangan Gorgon, putranya, yang jasadnya pulang
dalam keadaan hancur, sebuah piala rusak dari kekalahan yang memalukan.
Vorn menyentuh permukaan meja holografik dengan tangan yang gemetar oleh
amarah yang tertahan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Gorgon
yang kaku, mata yang kehilangan cahaya, dan kehormatan keluarga Killian yang
robek bersama detak jantung terakhir putranya. Kematian tragis itu bukan sekadar
kehilangan ahli waris; bagi Vorn, itu adalah penghinaan terhadap keteraturan yang
ia bangun dengan darah.
"Mereka menganggap nyawa putraku hanyalah statistik," bisik Vorn, suaranya
parau, bergema di ruangan yang luas itu. "Mereka pikir mereka bisa mencabut
masa depanku tanpa membayar harganya."
Kemarahan itu mendidih, bermutasi menjadi sesuatu yang lebih gelap dari
sekadar dendam. Itu menjadi kehendak untuk memusnahkan. Matanya tertuju
pada proyeksi planet Astrael yang berputar pelan, permata biru yang kini terlihat
seperti bisul yang harus dibersihkan. Astrael bukan lagi target strategis; Astrael
adalah altar di mana ia akan membakar seluruh peradaban untuk meratapi
kematian Gorgon.
"Jenderal," suara seorang komandan terdengar dari interkom, ragu-ragu. "Unit
Sentra Warden masih memberikan perlawanan di orbit Lycora. Jika kita
melanjutkan serangan ke Astrael sekarang, kita akan kehilangan kendali atas jalur
industri....""Diam!" raung Vorn. Suaranya menggelegar, meruntuhkan wibawa militer yang
biasanya ia jaga. "Aku tidak peduli pada industri! Aku tidak peduli pada Lycora!
Seluruh galaksi ini bisa hancur menjadi debu asalkan Astrael berhenti bernapas!"
Vorn melangkah maju, tangannya menghantam konsol kendali pusat. Wajahnya
yang kaku kini bengis, otot-otot rahangnya menonjol. Baginya, setiap warga Astrael,
setiap prajurit Astral Union, dan setiap jengkal tanah di planet itu adalah penyebab
penderitaannya. Jika Gorgon tidak bisa memiliki masa depan, maka tidak ada satu
jiwa pun di Astrael yang boleh memilikinya.
"Aktifkan seluruh rangkaian Steel Rain," perintahnya dengan nada dingin yang
mematikan. "Jangan targetkan instalasi militer. Targetkan oksigen mereka.
Targetkan harapan mereka. Aku ingin mereka merasakan sesak yang sama seperti
saat putraku mengembuskan napas terakhirnya di ruang hampa."
"Tapi Jenderal, atmosfer mereka akan runtuh total. Itu akan memusnahkan
seluruh ekosistem...."
"Itulah tujuannya!" Vorn berteriak di depan layar yang kini menampilkan visual
Astrael. "Biarkan planet itu menjadi monumen bagi putraku. Sebuah kuburan
raksasa yang bisa dilihat dari setiap sudut galaksi. Hari ini, Astrael tidak akan
menyerah... Astrael akan berhenti ada."
Vorn Killian menekan tombol eksekusi terakhir dengan ibu jarinya. Di luar sana,
di kegelapan ruang angkasa, ribuan tabung penghancur atmosfer meluncur dari
perut kapal-kapal Varkhen. Mereka jatuh seperti air mata api yang meluncur
menuju Astrael.
Sambil menatap hujan api itu, Vorn menyentuh liontin perak di lehernya, satu-
satunya benda milik Gorgon yang tersisa. Air mata tidak jatuh dari matanya, hanya
kegelapan yang semakin pekat. Ia telah memutuskan untuk menjadi monster yang
akan menghapus sebuah peradaban dari sejarah, hanya agar dunianya yang sunyi
tidak terasa begitu sepi sendirian. Astrael harus mati, karena hidup mereka adalah
hinaan bagi kematian putranya.
***Kesadaran Holden kembali seperti hantaman godam, hal pertama yang ia
rasakan adalah rasa asin darah di mulutnya dan denging panjang di telinganya
yang seolah menolak untuk hilang. Pandangannya kabur, hanya ada kerlip lampu
darurat berwarna merah di dalam kokpit yang hancur.
"Holden! Bangun, sialan! Kita tidak punya waktu!"
Sebuah tangan kasar menyentak bahunya. Pandangan Holden perlahan fokus
pada sosok Jace yang wajahnya tertutup debu dan jelaga. Di belakangnya, Kael
sedang sibuk mengutak-atik konsol di dinding ruangan sempit itu. Mereka tidak lagi
di udara; jet mereka telah hancur atau ditinggalkan. Mereka kini berada di dalam
dek observasi Valkrie-7, stasiun orbital yang berguncang hebat karena tembakan
artileri musuh.
"Apa yang terjadi?" suara Holden serak, nyaris tak terdengar.
"Kapal induk Astraeus mematikan seluruh sistem dukungannya. Radar, perisai,
semuanya mati," geram Jace sambil membantunya berdiri. "Unit kita terbantai di
luar sana. Kita beruntung bisa mendarat darurat di stasiun ini sebelum oksigen kita
habis."
"Evan... di mana beliau?" tanya Holden sambil memegang kepalanya yang
berdenyut.
"Dia masih ada di orbit lycora," Kael menyela tanpa menoleh, jemarinya bergerak
cepat di atas papan ketik virtual yang berpendar lemah. "Dia menggunakan sisa
daya kapal untuk melakukan lompatan kuantum sendirian. Dia meninggalkan kita
semua di Lycora hanya untuk kembali ke Astrael."
Holden tertegun. Rasa dingin yang lebih beku dari ruang hampa menjalar di
punggungnya. Pemimpin yang ia percayai sebagai simbol perlindungan, baru saja
membiarkan pasukannya menjadi umpan meriam demi menyelamatkan satu titik
di galaksi.
"Astrael diserang," lanjut Kael, suaranya bergetar. "Vorn Killian melepaskan Steel
Rain. Jika kita tidak sampai di sana dalam hitungan menit, tidak akan ada rumah
yang tersisa untuk kita tinggali."Holden melangkah maju, menepis rasa sakitnya. Ia menatap ke luar jendela
besar Valkrie-7. Di kejauhan, planet Astrael tampak seperti bola kasti yang mulai
terbakar. Hujan api Vorn terlihat seperti luka-luka merah yang merobek atmosfer.
"Kita punya akses ke unit teleportasi cadangan di stasiun ini?" tanya Holden
tajam.